Sisindiran

Sisindiran berasal dari kata sindir yang mengandung arti kata atau perkataan yang tidak langsung ditujukan kepada orang yang dimaksud. Sedangkan kata sisindiran memiliki arti:

  1. Bahasa yang disusun sedemikian rupa, umumnya yang mengandung persamaan bunyi, terdiri dari sampiran dan isi, serta bisa dilagukan.
  2. Mengucapkan sisindiran (Kamus Umum Basa Sunda, 1985: 479)

Sisindiran merupakan karya sastra bentuk terikat (puisi), karena terikat oleh persamaan bunyi (purwakanti), jumlah baris setiap barisnya, serta jumlah suku kata pada setiap barisnya, yang umumnya terdiri dari delapan suku kata.

Berdasarkan bentuknya sisindiran dapat dibagi menjadi tiga yakni rarakitan, paparikan, dan wawangsalan.

    1. Rarakitan.

Rarakitan merupakan sisindiran yang terdiri dari sampiran dan isi dengan jumlah yang sama banyak dalam sebaitnya. Kata rarakitan sendiri mengandung arti seperti rakit atau berpasangan (sarakit = sepasang). Disebut rarakitan karena kata pada awal baris bagian sampiran diulangi atau dipergunakan lagi pada awal baris bagian isi, sehingga berpasangan seperti bagian depan rakit.
Rarakitan terdiri dari:
- Rarakitan silihasih (asmara).
- Rarakitan piwuruk (nasihat).
- Rarakitan Sèsèbrèd (diluar asmara dan nasihat, seperti lelucon, kritik sosial dsb).

Contoh:
Sing getol nginum jajamu,
Nu guna nguatkeun urat.
Seng getol neangan ilmu,
Nu guna dunya akhèrat.

(Rajin-rajinlah meminum jamu,
yang berguna menguatkan urat.
Rajin-rajinlah mencari ilmu,
Yang berguna dunia akhirat.)

Batur mah ka Margacinta,
Kuring mah ka Nagrak baè.
Batur mah dipikacinta,
Kuring mah ditolak baè.

(Orang lain ke Margacinta,
Saya ke Nagrak saja .
Orang lain dicintai,
Saya ditolak saja.)

    1. Paparikan

Paparikan berasal dari kata parik atau parèk yang mengandung arti dekat. Paparikan disini adalah sisindiran yang hanya berdekatan bunyinya antara sampiran dengan isinya, jadi tidak harus sama kata awal barisnya seperti pada rarakitan. Pembagiannya sama seperti dengan rarakitan.

Contoh:
Mèmèh ngagelarkeun kasur,
Samak heula ambeh rinèh.
Mèmèh ngagorèngkeun batur,
Riksa heula awak manèh.

(Sebelum menggelar kasur,
tikar dulu agar tenang.
Sebelum menjelek-jelekan orang,
Periksa dulu diri sendiri.)

    1. Wawangsalan

Wawangsalan adalah karangan (sastra) yang terdiri dari sindir dan isi. Pada bagian sindir terdapat cangkang (sampiran) dan wangsal (hal yang disembunyikan). Untuk mengetahui hal yang disembunyikan haris dicari di bagian isinya. Biasanya antara hal yang disembunyikan mempunyai persamaan bunyi dengan salah satu kata yang terdapat pada bagian isi.

Contoh:
Belut sisit saba darat,
Kapiraray siang wengi.

(Belut sisit datang ke darat,
terbayang bayang siang malam.)
Artinya: Oray(Ular)

@rizaldwiprayogo

About these ads

10 thoughts on “Sisindiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s