Tentang Hafalan Shalat Delisa

Walaupun beli novelnya sudah sejak 16 November 2008, tapi baru selesai saya baca pada tanggal 22 Mei 2010. Ternyata hanya membutuhkan waktu 3 hari untuk membereskannya. Belakangan ini, saya mencoba untuk konsisten menamatkan satu buku secara utuh baru membaca buku yang lainnya. Biasanya, sebelum saya membereskan satu buku secara utuh, saya sudah melompat ke buku yang lainnya, hal ini juga yang menjadikan makna yang kita dapat dari kegiatan membaca akan menjadi parsial.

Membaca akan menjadi suatu hal yang sia-sia jika tidak kita ikat ke dalam bentuk tulisan, begitu kata Bapak Hernowo dalam bukunya “Mengikat Makna Update”. Oleh karena itu, saya ingin berbagi hikmah yang saya dapat setelah membaca buku “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere Liye. Saya akan mengutip bagian-bagian yang menurut saya menarik dan menjadi hikmah bagi saya.

Saya terkesan dengan usahanya Aisyah−kakaknya Delisa− yang walaupun sering menjahili Delisa, tetapi memiliki perhatian yang besar. Buktinya, Aisyah mengajarkan konsep jembatan keledai, bisa dibaca di halaman 45. “Kertas itu yang buat Aisyah. Tadi siang ketika di sekolah, Pak Guru Jamal bilang, sungguh saudara-saudara kita akan menjadi tameng api neraka. Sungguh adik-kakak kita akan menjadi perisai cambuk malaikat. Sungguh saudara-saudara kita akan menjadi penghalang siksa dan azab himpitan liang kubur. Maka berbuat baiklah kepada mereka.” Aisyah menjadi malu sekali pada saat itu, bahkan ia mengganggu Delisa saat hendak menghafal bacaan shalat. Sebagai “tebusannya”, ia membuatkan kertas petunjuk “jembatan keledai” itu ketika sedang menunggu latihan tari Saman.

Ada lagi satu hal yang membuat saya merenung dan malu ketika membaca bagian “Delisa cinta Ummi karena Allah”. Terlepas dari bujukan Ustadz Rahman yang akan memberinya coklat, Delisa mengatakan kalimat itu dengan tulus hingga membuat Ummi dan ketiga saudaranya menangis terharu. Belakangan juga Delisa mengatakan hal yang serupa kepada Abinya, “Delisa cinta Abi karena Allah.” Kisah ini seolah menegur saya, pernahkah saya mengatakan itu kepada kedua orang tua saya? “Mah, Pah, Ijal cinta mamah dan papah karena Allah.”

Lalu beranjak ke halaman berikutnya, ketika Delisa sedang menghadapi kesulitan besar setelah diterjang air bah tsunami, ketegaran Delisa begitu jelas terlihat, hal yang sangat jarang ditemui pada anak berusia 6 tahun. Saya terinspirasi dari kalimat di halaman 94, “Ah, selalu begitu. Kejadian yang tidak terhindarkan, selalu mendidik manusia-manusia terbaikMu dengan cepat. Kejadian itu selalu sementara. Pemahaman atas kejadian itulah yang akan abadi.”

Hal lain lagi yang memberi saya hikmah, ketika membaca bagian yang menceritakan saat ditemukannya Delisa oleh Prajurit Smith. Prajurit Smith yang beragama non-muslim begitu takjub ketika melihat Delisa begitu bercahaya, pancaran cahaya kesucian, pancaran cahaya manusia yang bersih hatinya. Seketika itu, Prajurit Smith terus tertegun karena benar-benar menyaksikan sebuah keajaiban, hidayah Allah datang melalui Delisa. Belakangan, prajurit Smith menjadi muallaf dan berganti nama menjadi prajurit Salam. “Itu cemburuku yang kedua Ya Allah! Bahkan perbuatan terbaikku tak pernah membuat seujung kuku wajahku bercahaya. Tak pernah sedikitpun! Apa hati ini begitu kotornya? Apakah tak ada sisa kebaikan yang ada di hati ini agar bisa menyinari jalan kebaikan bagi orang lain. Apakah semuanya tinggal sebongkah daging yang hitam kelam?Tanpa perasaan lagi?”

Ketika masuk ke halaman 105, saya lagi-lagi mendapat pencerahan tentang cara menyikapi permasalahan. Ketika prajurit Salam (Smith muallaf) merasakan kenangan masa lalunya bersama anaknya yang kini sudah meninggal. Prajurit Salam takjub akan ketenangan wajah Delisa, “Lihatlah, gadis kecil ini (Delisa) menderita lebih banyak, tetapi wajahnya teramat teduh. Gadis kecil ini sungguh menderita lebih banyak dibandingkan dirinya (Prajurit Salam), tetapi wajahnya bercahaya oleh penerimaan. Pengertian itu datang kepada Prajurit Salam, sebuah pemahaman yang indah.” Di akhir bab, ditutup dengan tulisan, “Ya Allah, bahkan wajahku tak pernah sedikitpun menginspirasi orang lain untuk berbuat baik. Tak pernah sedikitpun mengilhami orang lain untuk berubah.”

Lalu masuk pada halaman 110, di bagian footnote dituliskan kalimat yang begitu indah. “Sayangnya ketahuilah wahai penduduk bumi, kesedihan tidak mengenal derajat kehidupan yang diciptakan manusia. Kesedihan hanya mengenal derajat yang diciptakan oleh Allah. Kesedihan tidak pernah berkorelasi dengan standar kehidupan manusia yang amat keterlaluan cinta dunianya. Kesedihan hanya mengenal ukuran yang Engkau sampaikan lewat ayat-ayat-Mu. Kesedihan seseorang sungguh seharusnya kegembiraan terbesar baginya. Kegembiraan seseorang boleh jadi hakikatnya kesedihan terbesar baginya. Hanya untuk orang-orang berfikir.”

Ketika semuanya telah hilang, mulai dari rumah, Ummi, Kak Fatimah, Kak Aisyah, Kak Zahra, semua kenangan lama tersingkap lagi. Delisa amat merindukan Umminya yang belum diketemukan. Mata Delisa mulai basah. Semua cobaan ini telah membuatnya “dewasa” lebih cepat. Membuatnya tumbuh lebih awal. Semua ini sungguh terlalu dini baginya, Memaksanya untuk berusaha mengerti dan memahami lebih cepat. Tetapi, ya Allah, Delisa baru 6 tahun. Kanak-kanak yang seharusnya mengisi kesehariaanya dengan bermain, bukan masa-masa untuk bertanya. Pertanyaan yang entah kapan ia mampu menjawabnya. Jikapun ada jawabannya, entah kapan ia mampu memahaminya. Jikapun ia bisa memahaminya, entah kapan ia bisa menerimanya.

Ketika Delisa bertemu Umminya dalam mimpi, Delisa teringat akan dosanya ketika hendak mengucapkan, “Delisa cinta Ummi karena Allah” karena iming-iming hadiah coklat dari ustadz Rahman. Kali ini Delisa mengatakan kalimat itu sekali lagi kepada Umminya. Ummi tersenyum indah mendengar kalimat yang ikhlas tanpa pengharapan. Maka terimalah, gugurkanlah dosa sebatang coklat itu.

Malaikat Atid−sang pencatat keburukan, membuka catatan amalnya. Mengeluarkan dosa sebatang coklat Delisa. Butuh dua belas hari untuk menghapus dosa itu. Dua belas hari langit, setara dua belas ribu tahun bumi. Maka berpikirlah kita para pembuat maksiat. Berpikirlah, wahai pembuat kedzaliman yang ringan tangan mengambil hak-hak orang lain, yang dengan ringan berkata, “Ah, sepanjang kami berbuat baik, bekerja baik, sungguh-sungguh, maka uang sogok kerja ini akan terampuni!” Atau dengan senang berkata, “Ah, sepanjang kami kembali ke istri masing-masing, berbuat baik, sungguh-sungguh, maka semua zina tangan, mata, dan hati ini akan terampuni.” Yang mudah sekali mencuri waktu kerja. Mencuri hak orang lain, atau yang lainnya. Bagaimanakah kalian akan berharap ampunan, sedangkan dosa sebatang coklat Delisa membutuhkan dua belas ribu tahun untuk menghapusnya. Sungguh semua urusan ini seharusnya membuat kita malu dan berpikir.

Lalu begitu saya masuk ke halaman 228, saya diajarkan tentang arti keikhlasan lewat dialog yang tidak bersifat menggurui. Ketika Delisa merasa begitu sulit untuk menghafal bacaan shalatnya, Kak Ubai−yang menjaganya di rumah sakit ketika itu− mengucapkan kata-kata yang begitu menggugah, “Orang-orang yang kesulitan mendapatkan kebaikan itu, mungkin karena hatinya  Delisa. Hatinya tidak ikhlas! Hatinya jauh dari ketulusan..” Memang salahsatu motivasi Delisa untuk menghafal bacaan shalat adalah kalung yang dijanjikan Umminya yang dipasang huruf D, D untuk Delisa!

Dan yang menariknya, yang tidak pernah saya duga sebelumnya, novel ini diakhiri dengan kisah yang membuat saya takjub. Ketika Delisa dan teman-teman lainnya−dan tentu juga dengan Kak Ubai− selesai melaksanakan shalat, dan ternyata itu shalat sempurna Delisa untuk pertama kalinya, ia mampu membaca bacaan shalatnya dengan sempurna dan niat ikhlas. Jika dihubungkan dengan bab awal buku ini, kita tahu bahwa Delisa akan menerima hadiah kalung dari Umminya. Ternyata, Umminya menepati janji. Ketika hendak pulang, Delisa menghampiri sungai kecil dan melihat cahaya dari seberang sungai. Setelah didekati, terlihat kalung dengan huruf D di ujungnya−sebagai simbol nama Delisa−tergantung di lengan yang sudah menjadi jasad, jasad Umminya. Subhanallah.

Buku ini mengajarkan kepada saya tentang arti keikhlasan, bagaimana seorang anak berusia 6 tahun yang memiliki kesabaran luar biasa dalam menghadapi penderitaan, tentang arti memahami makna/hikmah yang tersembunyi di balik kejadian, tentang arti penerimaan terhadap segala musibah. Membuat saya malu untuk mengeluh, karena seorang anak berusia 6 tahun ini pun tidak pernah mengeluh, walaupun kakinya pincang. Mengajarkan kita untuk lebih mensyukuri apa yang kita punya sekarang. (Rizal Dwi Prayogo)

About these ads

One thought on “Tentang Hafalan Shalat Delisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s