Pendidikan Anti Korupsi Sejak Dini

Perilaku tindak pidana korupsi di Indonesia semakin menjadi-jadi, mulai dari petugas pajak, bea cukai, hingga aparat penegak hukum−yang seharusnya turut memberantas korupsi− pun ikut tergiur dengan perilaku yang banyak merugikan Negara ini. Tidak tanggung-tanggung, oknum aparat ini telah mengeruk kekayaan Negara hingga bermilyar-milyar. Bagaimana bisa mencegah tindak pidana korupsi jika aparat penegak hukumnya pun ikut korupsi?tentu akan hilang kewibawaan dari hukum itu sendiri.

Perilaku korupsi yang dilakukan oleh para pejabat dan aparat penegak hukum di Indonesia telah membuat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap hukum dan pemerintah. Maraknya mafia hukum dan peradilan yang menghantui proses penegakkan korupsi di tanah air telah membuat masyarakat semakin pesimis terhadap keadilan penegakkan hukum di negeri ini. Akibatnya, masyarakat pun cenderung untuk “meneladani” perilaku para pejabat yang korup ini.

Ternyata perilaku korupsi ini sudah menjalar luas ke tingkat masyarakat kita dan ini merupakan kabar buruk bagi proses pemberantasan korupsi di Indonesia. Masyarakat yang diharapkan bisa membantu aparat penegak hukum dan menjadi pengawas bagi keberjalanan pemerintahan ternyata juga tidak tidak bisa diharapkan. Oleh karena itu, penanaman kesadaran anti-korupsi dan pendidikan karakter bangsa akan berjalan efektif jika dimulai dari masyarakat dan kelompok masyarakat yang paling kecil, yaitu keluarga.

Di tengah carut-marutnya kasus korupsi di Indonesia, ada baiknya kita mulai membenahi sistem dari lingkungan masyarakat kita sendiri. Pendidikan anti korupsi sejak dini bisa menjadi jawaban. Peserta didik pendidikan anti-korupsi bisa dimulai dari kalangan siswa sekolah dasar hingga yang berusia sekolah menengah atas (SMA). Metode yang digunakan bisa berupa mata pelajaran tambahan (mulok), bisa merupakan mata pelajaran baru, atau bisa disisipkan ke dalam mata pelajaran lain yang relevan, misal saja mata pelajaran Pendidikan Agama Islam atau Pendidikan Kewarganegaraan.

Pendidikan antikorupsi ini merupakan proyek jangka panjang menuju pembentukan Indonesia baru. Program pendidikan anti korupsi yang dilakukan di sekolah-sekolah harus dilakukan secara bersama dan konsisten. Program tersebut harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pemberantasan korupsi mulai dari KPK, kepolisian, kejaksaan, kementerian pendidikan nasional hingga kalangan masyarakat madani seperti LSM. ormas-ormas, dan lain sebagainya.

Metode pemberian pendidikan anti korupsi pun tidak bisa dipaksakan kepada peserta didik, nanti dikhawatirkan bukan mengajak mereka untuk sama-sama memberantas korupsi, tetapi malah membuat mereka menjadi tidak tertarik dengan metode yang diberikan, maka sebisa mungkin materi yang diberikan kepada mereka lebih bersifat pencegahan dan dikemas dalam nuansa yang menyenangkan, seperti mengadakan simulasi atau games.

Sistem pendidikan yang diajarkan di masyarakat, jangan hanya terfokus pada nilai semata, sehingga siswa selalu dituntut untuk mendapat nilai bagus. Dengan begitu, siswa tidak akan lagi membedakan cara mana yang baik dan buruk. Pendidikan yang baik juga harus bisa membangun karakter (character building) dan membangun akhlak yang mulia. Sehingga nantinya, masyarakat kita akan memiliki mental yang kokoh ketika terjun langsung ke lapangan.

Pendidikan anti-korupsi sejak dini pun harus bisa mengajak para siswa yang hadir dalam kegiatan tersebut untuk menjadi agen-agen pelopor pemberantasan korupsi di masyarakat terutama di lingkungan sekolah. Para siswa ini diharapkan punya sensitifitas terhadap adanya indikasi korupsi yang sewaktu-waktu dapat terjadi di lingkungan sekolah. Apalagi sekarang alokasi APBN dan APBD untuk bidang pendidikan sangat besar. Jika tidak ada kontrol dari masyarakat, dana tersebut dapat saja di korupsi oleh para penyelenggara pendidikan.

Pendidikan anti-korupsi sejak dini tidak akan berjalan efektif jika tidak didukung oleh berbagai pihak, khususnya dari pihak keluarga. Guru yang paling baik bagi anak-anak adalah lingkungan keluarganya. Program pendidikan anti korupsi sejak dini tidak akan berjalan efektif jika tidak dibarengi dengan penanaman kesadaran individu, dan pengembangan karakter serta moralitas yang baik. Kesemua itu adalah peran besar dari sebuah keluarga.

Ketika anak-anak mengikuti pendidikan anti-korupsi di sekolah atau pun di keluarga, anak tersebut akan menuruti nasihat dari para pendidik. Namun, wawasan yang didapat dari pendidikan anti-korupsi tersebut akan sirna jika orang tua atau lingkungan keluarga kita tidak mencontohkan teladan yang baik dalam usaha pemberantasan korupsi. Ketika anak diajarkan di sekolah untuk tidak menerima gratifikasi−dalam hal ini pemberian hadiah yang sederhana−, lalu ia pulang ke  rumah dan orang tuanya menerima begitu banyak parsel dari koleganya−padahal beliau pejabat pemerintah−maka kejadian seperti ini akan membekas dalam benak anak tadi, bahwa tindak pidana korupsi itu bisa menjadi legal karena melihat kasus orang tua nya tadi.

Pendidikan anti-korupsi sejak dini pun diharapkan bisa menumbuhkan pemikiran yang kritis bagi anak didiknya. Nantinya diharapkan, anak-anak terdidik ini bisa menjadi garda terdepan dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Pendidikan anti korupsi sejak dini itu penting. Akan tetapi, akan menjadi lebih penting dan powerful jika dibarengi dengan pendidikan agama yang dilaksanakan secara konsisten dan kontinyu.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s