Saya sedang kebingungan menuliskan referensi dari sebuah karya tulis. Pasalnya, referensi tersebut tidak memiliki data yang lengkap terkait dengan nama penulis dan tahun pembuatannya. Khawatir, imbasnya berdampak pada karya tulis yang sedang saya buat. Mencantumkan referensi yang tidak lengkap bisa-bisa dianggap plagiat. Dan plagiat adalah dosa terbesar dalam dunia akademik.
Saya sekarang sedang membuat karya tulis, dan ada referensi yang sangat membantu saya dalam pengerjaan karya tulis ini. Namun, masalahnya data referensi tersebut tidak lengkap. Ini yang menjadi ganjalan bagi saya. Khawatir akan bermasalah di kemudian hari, apalagi dalam dunia internet sekarang ini plagiarisme sangat mudah ditelusuri.
Bisa saja saya tulis data referensi tersebut apa adanya, tapi masalahnya adalah bagaimana jika di kemudian hari ada referensi yang mirip? Toh kita sendiri tidak tahu siapa yang telah membuat karya terlebih dahulu. Dan kita juga tidak tahu siapa yang mengutip siapa. Yang ada, nanti malah saling klaim karena tidak menuliskan data karya ilmiah secara lengkap.
Saya ingin mengevaluasi bagi siapa saja yang berkutat dalam dunia akademisi, hendaknya kita menuliskan keterangan yang lengkap dalam setiap karya ilmiah kita. Baik itu nama, tahun pembuatan, judul, tempat pembuatan, maupun penerbitnya. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan bagi siapa saja yang mengutip karya kita dalam menulis referensinya. Apalagi karya ilmiah tersebut kita publikasikan juga di internet, akan semakin banyak yang mencarinya.
Ini bukan tentang masalah keikhlasan untuk berbagi, sehingga enggan untuk menyebutkan nama. Tapi, ini menyangkut hak cipta. Dan sesuatu yang sudah menyangkut hak cipta, pasti bersinggungan dengan hukum. Kita tidak ingin masalah plagiarisme masih mewarnai dunia pendidikan. Oleh karena itu, bisa jadi kesalahan penulisan referensi adalah dampak dari ketidak-lengkapan data dari suatu karya ilmiah tadi.


gin-adikusuma.blogspot.com
/ 29 November 2011yup