Kembali Menulis

Selasa, 2 Agustus 2016
Sudut Kamar Novotel Bogor, dalam suatu event workshop kedinasan perusahaan.

Ah, hampir dua tahun berselang semenjak tulisan “Pelangi Ikhtiar” dirampungkan, saya kembali harus membersihkan laba-laba yang bersarang di blog ini. Hampir dua tahun segala macam pengalaman dan pengetahuan baru terlewat untuk bisa saya bagi melalui update tulisan.

Inikah sindrom selepas launching buku pertama? Kehabisan energi untuk kembali berkata-kata. Saya harap tidak begitu. Yang kubutuhkan hanya sekumpulan tekad untuk dapat mewujudkan kembali semangat dari blog ini: menulis untuk mengikat ilmu.

Kemana saja selama ini? Ada. Hanya karena rusaknya notebook yang biasa dipakai menulis dan juga fakir bandwidth maka aktivitas menulis jadi terbengkalai. Biasanya, laptop selalu standby di meja kamar yang terhubung dengan internet.

Oh, ya. Dua tahun berselang, ada yang ingin kusampaikan bahwa setelah launching buku pertama “Pojok Gaijin” pada Mei 2014 lalu yang bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, baru saja kami launching pada 16 April 2016 buku kedua yang saya tulis bersama seorang Peranakan Pontianak yang judulnya “Buku Nikah”. Mohon doanya, semoga aktivitas menulis kembali diistiqomahkan dan bisa launching buku ketiga.

Pelangi Ikhtiar

Apa yang kita peroleh itu tak melulu dari apa yang kita usahakan.

Dulu sewaktu saya tinggal di Jepang dan pada saat keuangan mulai menipis, saya pernah coba mencari kerja paruh waktu (arubaito). Berhubung saat itu menjelang pergantian tahun, jadi cukup banyak juga lowongan yang buka. Ada lowongan dari kampus, ada juga lowongan dari luar kampus. Awalnya saya tertarik untuk ikut lowongan membuat kue persiapan Natal, tapi karena berbagai pertimbangan, saya putuskan tidak mengambil lowongan tersebut.

Saya terus mencari lowongan yang dipajang di papan informasi. Saking banyaknya informasi, saya minta Daichi-san—teman Jepang—untuk memilihkan mana yang cocok untuk saya. Lowongan yang buka ada macam-macam, misalnya jadi tukang cuci piring di restoran, jadi kasir kantin, jadi pelayan, dan semacamnya. Tapi, atas rekomendasi Daichi-san, saya tak jadi mengambil lowongan yang ada.

Continue reading

Pelayanan yang Tak Pernah “Tulus”

Sekarang kalau jalan-jalan ke tempat-tempat keramaian biasanya sudah ada fasilitas Wi-Fi gratis. Seperti di Bandung, kalau singgah di taman-taman kota sudah dilengkapi fasilitas Wi-Fi gratis yang bisa terkoneksi langsung dengan perangkat digital. Tanpa prosedur yang rumit, bisa langsung terkoneksi.

Tapi, hal tersebut tak saya jumpai di mal-mal. Memang ada koneksi Wi-Fi yang berseliweran, tapi saya tak bisa langsung konek karena harus mengikuti beberapa prosedur yang merepotkan. Misalnya saya harus memakai kartu GSM tertentu. Maka, meski ada Wi-Fi yang katanya gratis, saya tak bisa terkoneksi dengan internet. Ujung-ujungnya tetap pakai koneksi internet sendiri. Iming-iming gratis seperti tak diikuti “keikhlasan” berbagi, mesti saja ada prasyarat yang merepotkan.

Continue reading

Perjalanan Panjang Menerbitkan Buku “Pojok Gaijin”

Setelah dua bulan lebih blog ini saya biarkan tanpa tulisan baru, pada kesempatan ini saya ingin melemaskan kembali otot jemari saya untuk berbagi pengalaman menerbitkan buku. Alhamdulillah, di bulan Mei ini buku saya yang berjudul “Pojok Gaijin” sudah terbit. Buku tersebut berisi cerita pengalaman dan pemikiran saya selama tinggal di Jepang dalam rangka melanjutkan studi master di Kanazawa University. Saya ucapkan terimakasih kepada Penerbit Diva Press yang telah mewujudkan salah satu mimpi saya.

Prosesnya terbilang panjang, hampir satu tahun jeda antara kirim naskah hingga penerbitan. Tentu rencana yang saya jalankan tak selalu mulus, sempat mengalami beberapa penolakan. Sebelumnya, saya sempat mengirimkan tulisan saya ke redaksi Semut Merah yang pada saat itu sedang membuat projek buku antar anggota PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Dunia. Namun, tulisan saya tak dimuat. Dalam hati saya berbaik sangka, mungkin suatu saat nanti saya bisa bikin buku dengan penulis tunggal nama saya sendiri. Saya tetap meyakini bahwa naskah saya layak terbit, setidaknya itulah yang jadi penguat tekad.

Continue reading

(Jangan) Golput

Pemilu sudah dalam hitungan hari, para caleg mengiklankan diri dengan caranya masing-masing. Bakal calon presiden pun melancarkan strategi marketing, “tunggu hasil pileg”, itu kata yang kerap diucapkan kala ditanya wartawan. Sementara capres lain sudah terang-terangan mengajukan diri. Seperti tak ada pilihan, isu golput menjadi ancaman demokrasi kita. Golput menjadi pilihan, padahal satu suara amat berarti untuk perubahan di negeri ini. Berdasarkan kategorinya, golput dibagi ke dalam tiga jenis: golput administratif, golput teknis, dan golput ideologis.

Continue reading