Siapa Idolamu?

Siap-siaplah kecewa kalau idolamu hanya ‘manusia biasa’. Hari ini minta foto bareng lalu upload, besok hari minta hapus semua jejak digital. Hari ini adalah sosok yang dipuja-puji, esok lusa dijebloskan masuk jeruji. Hari ini adalah sosok yang tak bersinar, esok hari ingin nebeng tenar. Hari ini teriak dukungan, besok lusa tarik dukungan.

Allah SWT berfirman:

قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَآءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَآءُ ۖ  وَتُعِزُّ مَنْ تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَآءُ  ۗ  بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ  اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Katakanlah (Muhammad), Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 26)

Begitu kuasanya Allah membolak-balik hati dan menyibak yang ditutup-tutupi. Dan bersiaplah kecewa jika hati tidak disandarkan pada Allah. Kalau tidak begitu mengenal sosok si ‘manusia biasa’ itu, maka tidak perlulah berlebihan mengelu-elukannya.

Imam syafii mengatakan bahwa untuk benar-benar mengenali karakter seseorang, lakukanlah 3 hal ini:

  1. Menginaplah di rumahnya
  2. Bermuamalah (hubungan kerjasama) dengannya
  3. Berpergian bersamanya

Untuk melihat karakter aslinya, perhatikanlah ‘respon spontan’ atas suatu kejadian. Itulah aslinya. Apa sudah bener-bener mengenali si ‘manusia biasa’ itu?

Maka, dalam urusan memberi nama anak juga saya tidak mau mengambil nama dari para tokoh ‘manusia biasa’ yang belum terjamin surganya, belum jelas akhir hayatnya, dan tidak jelas keberpihakannya pada Islam. Karena nama adalah doa, dan dengan nama itu nanti masing-masing dipanggil hingga hari akhirat.

Sebisa mungkin cari idola dari Al-Quran dan generasi sahabat. Sebaik-baik inspirasi adalah dari Al Quran, dan sebaik-baik teladan adalah Rasulullah Muhammad saw, para sahabat, dan yang telah terjamin surganya. Jadikanlah inspirasi dan idola, maka tidak akan kecewa.

My Hijrah My Adventure

Dalam momen lebaran biasanya banyak yang tanya kabar setelah resign dari tempat kerja riba dulu. Untuk tiap yang tanya, jawabnya seragam, “Alhamdulillah, MASIH HIDUP, BRO!

Sebagian besar kekhawatiran dan ketakutan itu gak terbukti. Takut berkurang harta, khawatir gak bisa makan, takut gak hidup enak, waswas nafkah keluarga, dan macem-macem cara setan menakut-nakuti.

Rezeki dan ajal itu saling berkejaran, namun rezeki selalu di depan. Ajal baru akan menyusul rezeki saat rezeki bagi seorang hamba telah dicukupkan dan sudah takdirnya mati.

Gak perlu khawatir soal urusan rezeki karena PASTI dijamin, baik yang lalu maupun kemudian. Rezeki mendatangi kita lebih hebat daripada kita mencari rezeki. Rezeki tahu persis dimana alamat kita, meski kita gak tahu dimana rezeki mesti disambut.

Kekhawatiran soal rezeki adalah soal ketidakpastian (bisikan setan). Tapi kenapa gak khawatir saat rezeki yang diperoleh dari hasil yang SUDAH PASTI gak halal? Dari cara riba?

Hijrah dari tempat riba belum dapat jaminan selamat di akhirat. Tapi juga atas dasar apa bertahan untuk sesuatu yang tidak akan menyelamatkan di akhirat?

Allah SWT berfirman:

اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْـفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَآءِ ۚ وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 268)

Dari sisi bahasa, mengapa Allah gak menjanjikan kekayaan sebagai lawan kata kemiskinan? Tapi mengapa yang dijanjikan adalah ampunan dan karunia-Nya?

Kekayaan bagi seorang hamba belum tentu menjadi yang terbaik baginya. Ada yang diberi kekayaan tapi malah lupa syukur. Pun dengan kelapangan, belum tentu yang terbaik jika digunakan untuk bermaksiat.

Maka, jangan ngotot meminta untuk urusan dunia: Minta kaya, minta pangkat jabatan, minta mobil, minta harta, dll… Karena tiap pinta kita adalah amanah. Tapi ngotot lah meminta untuk urusan-urusan akhirat: minta diampuni dosa, minta husnul khatimah, minta hidayah, minta qonaah, minta istiqomah dalam hijrah.

Diantara nikmat-nikmat hijrah adalah Allah karuniakan nikmat qonaah: gak tertarik punya keinginan yang macem-macem. Dicukupkan atas kebutuhannya. Segimanapun nikmatnya makanan, hanya sesempit piring. Sesegar apapun minuman, hanya serendah gelas. Dan sebanyak apapun hidangan hanya bisa masuk selebar lingkar lambung.

Maka, gak perlu ngotot mengejar dunia yang gak bisa semuanya dinikmati dan hanya menyisakan pertanggungjawaban kelak. Melelahkan!

 

Takut Miskin

​Allah SWT berfirman:

اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْـفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَآءِ  ۚ  وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا  ۗ  وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 268)

Dari sisi bahasa, mengapa Allah tidak menjanjikan kekayaan sebagai lawan kata kemiskinan? Tapi mengapa yang dijanjikan adalah ampunan dan karunia-Nya?

Kekayaan bagi seorang hamba belum tentu menjadi yang terbaik baginya. Ada yang diberi kekayaan tapi malah lupa bersyukur. Pun dengan kelapangan, belum tentu yang terbaik jika digunakan untuk bermaksiat.

Maka, jangan ngoyo meminta untuk urusan dunia yang belum tentu baik: minta kaya, minta karir bagus, minta mobil, minta harta, dll… Tapi ngoyo lah meminta untuk urusan-urusan akhirat yang sudah pasti baik: minta diampuni dosa, minta husnul khatimah, minta hidayah, minta dibukakan jalan hijrah, minta istiqomah.

Riba Penyebab Inflasi

Menurut Kamus KBBI, inflasi adalah kemerosotan nilai uang (kertas) karena banyaknya uang yang beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang. Akibatnya, harga barang terus meroket sedangkan daya beli masyarakat menurun. Pendapatan masyarakat tidak imbang dengan kenaikan harga barang. Contoh sederhana adalah harga rumah 5 tahun lalu misalnya 200 juta rupiah, harga hari ini bisa naik dua kali lipat menjadi 400 juta.

Mari kita telaah apa itu riba dan sistem kerjanya (penjelasan riba dan kaidahnya dapat dibaca di tulisan sebelumnya). Kita gunakan kaidah riba, yaitu setiap utang-piutang yang ditarik manfaat (tambahan) di dalamnya maka itu riba. Misalnya pinjam uang di Bank sejumlah 50 juta, kemudian Bank mempersyaratkan jangka waktu pengembalian selama 5 tahun dengan total bunga 20 juta, sehingga yang harus dikembalikan debitur kepada Bank yaitu sejumlah 70 juta (komponen pokok dan bunga).

Dalam jual beli rumah, Bank memiliki produk KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Katakanlah A ingin membeli rumah seharga 400 juta, kemudian ia mengajukan pinjaman kredit ke Bank. Setelah proses verifikasi oleh Bank, akhirnya permohonan KPR A dikabulkan oleh Bank dengan besaran kredit 80% dari harga rumah. Dengan catatan, uang muka telah dibayarkan oleh A sebesar 20%, yaitu 80 juta. Maka, kredit yang diterima A dari Bank sebesar 320 juta.

Dana segar yang diterima A tersebut harus diangsur kepada Bank dalam jangka waktu 15 tahun dengan komponen pokok dan bunga total sebesar 450 juta. Maka, ada tambahan bunga sebesar 450-320 = 130 juta yang menjadi beban A.

Suatu ketika A ingin menjual rumah tersebut, maka harga terendah yang menjadi acuan A adalah harga rumah saat ia beli ditambah dengan bunga riba yang harus dia angsur kepada Bank, yaitu sebesar 400 + 130 = 530 juta. Dari sini sudah terlihat kenaikan harga rumah. Beban bunga tentunya tidak mau menjadi tanggungannya, pasti akan dibebankan kepada pembeli dengan memasukkannya sebagai harga jual. Belum ditambah lagi dengan keuntungan yang ingin diperolehnya. Maka, kenaikan harganya sudah belipat-lipat.

Atau misalnya A membeli rumah tersebut dengan maksud untuk disewakan lagi ke orang. A akan berhitung berapa cicilan per bulan yang harus dibayar ke Bank dan keuntungan yang ingin ia peroleh dari biaya sewa. Dari total pinjaman sebesar 530 juta dengan jangka waktu 15 tahun (180 bulan), katakanlah cicilan per bulan sebesar 2,9 juta. Maka, harga acuan sewa terendah adalah besar cicilan per bulan ditambah dengan keuntungan yang ingin diperolehnya.

Jika rumah tersebut disewakan per tahun, maka harga sewanya adalah 2,9 x 12 = 34,8 juta ditambah keuntungan. Uang sewa tersebut digunakan untuk menutupi cicilannya yang sudah ada komponen bunga di dalamnya. Tidak mungkin A yang akan menanggung bunganya, pastinya akan dibebankan kepada penyewa. Maka, harga sewanya pun menjadi tinggi.

Maka sudah jelaslah bahwa bunga riba itu yang menyebabkan harga barang semakin naik, tidak imbang dengan kemampuan. Uang dianggap sebagai komoditas yang diperjualbelikan melalui sistem kredit pakai bunga, bukan sebagai alat tukar sehingga nilai uang terus merosot (inflasi). Ini berakibat kesetimbangan ekonomi menjadi rusak, dampaknya sangat menzalimi masyarakat. Kalau dulu dengan dengan uang 10.000 bisa beli banyak macam jajanan, hari ini malah untuk ongkos pun tak cukup.

Jika kita menyimpan uang 10 juta dalam brankas dan kita kunci, lalu kita diamkan selama 10 tahun. Setelah 10 tahun, uang tersebut masih utuh dengan jumlah yang sama. Namun, ketika akan digunakan sebagai alat tukar (jual beli), ternyata uang tersebut tak mencukupi. Siapakah yang mencuri? Padahal jumlahnya masih sama selama 10 tahun. Karena riba lah yang telah mencuri nilai mata uang tersebut. Karena riba lah yang membuat inflasi itu terjadi. Teramat nyata kezalimannya.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰٓوا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً  ۖ  وَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 130)

Rumah KPR, Kontrakan, dan Rumah di Surga

Persamaan rumah KPR dan kontrakan adalah yang mendiami rumah tersebut sama-sama bukan pemilik rumah. Yang beli pakai KPR, bukti kepemilikan hak milik (SHM) masih ditahan oleh bank, dan akan diberikan jika sudah lunas. Sedangkan yang ngontrak, jelas rumah bukan miliknya.

Perbedaannnya adalah yang ngontrak bayar secara tunai (per tahun), selesai. Yang beli pakai KPR, pusing bayar cicilan, jangka waktu bisa sampai 15-20 tahun. Ditambah bunga riba sekian persen.

Mari kita renungkan doa Siti Asiyah, istri Firaun dalam Q.S At-Tahrim (66) ayat 11, Allah SWT berfirman:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّـلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَ ۘ  اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَـنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, Ya Tuhanku, bangunkan lah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim”

Doa ini bisa juga kita dawamkan jika ingin Allah bangunkan rumah di surga, tanpa ngontrak dan tanpa KPR. Allah berikan sebagai bentuk karunia-NYA. Maka, bagaimana mungkin doa ini bisa dikabulkan jika ketika di dunia membeli rumah dengan cara KPR (kredit pakai riba), yang sudah jelas ancamannya neraka yang menyala-nyala?

Manusia hidup di dunia pada hakikatnya juga sebagai kontraktor (pengontrak). Segalanya milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Menumpuk-numpuk harta dan barang justru akan sangat merepotkan jika masa kontrak sudah habis. Maka, sebisa mungkin bekal yang dibawa adalah yang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat. Tinggalkanlah bawaan yang akan menjadi beban.

Kehidupan di dunia juga tidak lama. Dunia hanya sementara sebagai tempat singgah, akhiratlah tempat kembali kita, selama-lamanya. Maka, jalan yang akan menyelamatkan adalah sebagaimana prinsip kontraktor: mempersedikit beban dan memperbanyak bekal.