Kapan Taaruf

Ini tentang pemuda usia 27 tahun yang tengah berikhtiar ingin menggenapkan separuh agamanya. Dia sudah mengikuti seminar-seminar pranikah, bahkan memberanikan diri mengikuti sekolah pranikah semenjak tingkat 3 di bangku kuliahnya. Harapannya adalah bisa segera menikah selepas lulus kuliah. Setidaknya itulah semangatnya, satu hal yang ia yakini adalah wanita yang baik untuk lelaki yang baik. Si pemuda pun berupaya hijrah memperbaiki dirinya. Beginilah ceritanya.

Selepas lulus kuliah, wanita idaman yang diharapkan itu belum juga nampak. Diapun kerap merasa baper dengan pertanyaan-pertanyaan, “Kapan nikah? Sudah ada calon?”. Yang kemudian dijawab dengan nada tegar namun sebenarnya ia meronta, “Masih gelap, mohon doanya.” Dijawabnya dengan senyum manis padahal hati meringis.

Si pemuda menghajatkan mendapatkan pasangan hidup tanpa proses pacaran, meskipun ia masih belum terbayang bagaimana jalannya. Ia meyakini jika ingin pernikahan yang berkah maka harus dilalui dengan proses yang berkah. Dan status tak pernah pacaran adalah yang amat disyukuri di kemudian hari. Meski pada masanya ia pernah merasa minder dengan status yang tak laku-laku, namun dengan bangga dan bersyukur bahwa Allah menjaga dirinya dari gejolak masa muda yang tak karuan. Lebih baik menabung untuk melamar dan memberi mahar anak orang ketimbang menghamburkan uang yang malah ternyata hanya untuk menjaga jodoh orang.

Berawallah dari form data diri rekomendasi dari seorang mentor dan profil yang dilihat dari latar belakangnya nampaknya tak pernah beririsan. Bukan teman sekolah, tak juga teman di kampus, belum pernah satu organisasi, secara asal daerah pun bukan dari daerah yang sama dengannya. Si pemuda campuran Sunda Jawa, namun lebih kental Sundanya. Sementara yang diperkenalkan (selanjutnya dipanggil G) berdarah melayu-Pontianak. Apa yang bisa mempersatukan? Kesamaannya, mereka sama-sama tinggal lama di Bandung. Kesamaan lain? Perlu ditelurusuri lewat pertemuan.

Dan hari untuk bertemu dan melihatnya pun tiba, dengan ditengahi seorang mentornya. Pelataran masjid Istiqomah di Minggu pagi menjadi titik awal pertemuan. Saat dimana keduanya bisa saling mengklarifikasi dan bertanya tentang apa yang sudah disampaikan di form data diri. Tentang visi-misinya, kriteria calon, profil keluarga, kelebihan kekurangannya, dan hal-hal perintilan lain yang bisa memunculkan rasa saling ketetarikan. Keduanya berupaya memahami bahwa tak ada manusia yang sempurna, tapi bisa saling menyempurnakan. Apa yang lemah di satu sisi, dikuatkan di sisi lainnya. Apa yang tak dipunyai, sama-sama saling melengkapi.

G yang pertama kali membuka diri dengan membeberkan pengakuannya, “Saya tidak terbiasa beres-beres, tak bisa masak, dan tak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga.” Si pemuda sempat bergumam dan berusaha meyakinkan hatinya bahwa selama bukan hal yang prinsip itu bukanlah suatu penghalang. Dan kemudian si pemuda berupaya meyakinkan, “Itu bukanlah kekurangan, hanya perlu pembiasaan.” Kemudian G malah semakin membeberkan pengakuannya, yang jika didaftar hampir mencapai 10 kekurangannya. Ah tapi ia percaya dibalik 10 daftar kekurangan itu, ada 20 daftar kebaikan yang justru dibutuhkan oleh si pemuda.

Dari pertemuan pertama, si pemuda diminta datang bertemu orang tuanya dua pekan kemudian. Dag…dig…dug. Bukan jeda waktu yang lama untuk mempersiapkan mental. Namun, dua minggu berselang si pemuda merasa masih belum siap mental. Bukan ragu-ragu, hanya perlu selang waktu lagi untuk memanjatkan doanya Nabi Musa ketika akan menghadap Firaun, “Lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka mengerti perkataanku.”

Memang yang akan ditemui si pemuda bukanlah Firaun, tapi beliaulah wali yang akan memilih kepada siapa akan menyerahkan tanggung jawab anak perempuannya. Seminggu kemudian dengan modal nekad dan pisang molen kartika sari si pemuda memberanikan diri mendatangi rumahnya, dengan tekad: “Bismillah, mau jomblo seumur hidup atau nikah?” Tentu pilihan kedua yang dibela-belanya.

Menghadap calon mertua lebih mendebarkan daripada interview lamaran kerja oleh Direktur perusahaan. Karena jawaban interview bisa di-set dan dipoles sedemikian rupa, tapi siapa bisa kira pertanyaan calon mertua? Sampai-sampai si G sempat mengingatkan untuk rileks saja, santai kayak di pantai. Namun, si pemuda tak dapat menutupi gurat dan air muka tegangnya. Kurang bisa meyakinkan calon mertua itu artinya memperpanjang tiket terusan menjomblo. Jodoh adalah takdir, sementara jomblo adalah nasib.

Dari pertemuan itu kemudian dilanjutkan dengan pertemuan antar dua keluarga. Saling memperkenalkan. Mempertemukan calon dengan orang tua sekaligus meminta pendapat tentang siapa yang dipilih anaknya akan memperkuat hati untuk memilih. Berselang waktu tiga bulan dari pertemuan pertama, si pemuda memberanikan diri mengajak serta keluarga untuk melamar di tanggal 19 Desember 2015. Di tanggal ini, setahun kemarin, si pemuda menyatakan keseriusan dan komitmen ingin membangun rumah tangga bersamanya.

Tanggalkanlah perasaanmu saat akan memilih pasangan hidup. Karena ketika kamu libatkan perasaan maka disitulah nafsu turut hadir. Nafsu datangnya dari setan, dan ini akan menghalangi kejernihan hatimu untuk berserah.

Memilih pasangan hidup adalah tentang berserah dan menerima. Dan disaat itulah keberserahan si pemuda tadi diuji, menguji saat melantunkan doa istikhoroh, “Jika ia yang terbaik, maka mudahkan… Dan jika ia bukan yang terbaik, maka pilihkan dengan yang lebih baik.” Benarkah hatinya sudah posisi netral saat bermunajat?

Jika kamu menemukan hal-hal yang berpotensi baik darinya, dan kamu bisa berpotensi baik untuknya, maka majulah temui walinya untuk meminta restu menikahinya. Karena lelaki sejati adalah ia yang berani menemui wali pujaan hatinya untuk satu niat mulia: menikah. Alangkah lebih indah menggenggam erat tangannya setelah menggenggam erat tangan walinya untuk berucap qabul.

Aksi Super Damai 212

Adalah suatu penghinaan ketika sebuah panggilan hati dianggap sebagai utusan bayaran. Terlalu remeh nilai lembaran rupiah itu jika disandingkan dengan seruan berjuang atas nama agama. Bahkan rela membayar untuk ongkos dan memberikan bantuan.

Tak ada aktor politik yang dapat mengumpulkan dan menggiring massa sebanyak ini, tujuh juta orang berkumpul rela berpanas-panas dan diguyur hujan. Apa yang mereka cari? Tapi entah kenapa hati ini merasakan suatu kebahagiaan, yang mungkin inilah yang dinamakan rekreasi hati.

Saya bersyukur karena Monas dekat dengan kantor dan yang lebih bersyukur adalah karena menjadi bagian dari orang-orang yang terpanggil. Rasanya malu dengan rombongan dari Ciamis yang terpanggil dengan berjalan kaki mereka rela berlelah-lelah ke Jakarta. Mungkin ada yang jaraknya lebih dekat tapi tak merasa terpanggil. Awalnya saya berniat cuti supaya bisa fokus dan tidak mengganggu pekerjaan, tapi konon ada agenda raker yang akhirnya ditunda juga, hehehe.

Ah, tak sampai diri ini bisa menjangkau iman para mujahid yang terpanggil untuk berjihad bersama Rasulullah saw. Sebuah panggilan yang didasari iman dan keyakinan akan ganjaran mati syahid. Bahkan para syuhada yang sudah menikmati surga minta dikembalikan lagi ke dunia karena ingin merasakan mati syahid lagi.

Namun, hari ini, di sini, di tempat ini, di Ring 1 pusat kota Jakarta, tempat bertautnya antara ruh dan ruh yang merindukan keadilan dan membela kemuliaan agama berkumpul. Yang tak mengeluh pada guyuran hujan pun pada kuyupnya pakaian. Supaya Allah catatkan sebagai bagian dari orang-orang yang peduli.

Dewasa

Ketidakdewasaan adalah ketika tidak sesuai antara usia dan kematangan berpikir. Ciri orang yang tidak dewasa (tunjuk diri sendiri agar tak mencari-cari sasaran orang lain):

1. Berfokus pada perasaannya sendiri
Kurang peka terhadap apa yang dirasakan orang lain, sehingga tidak muncul empati dalam dirinya. Senantiasa menganggap diri sebagai korban dan meminta orang lain untuk mengerti perasaannya. Posisikan diri kita pada posisi orang lain, perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

2. Keras kepala
Tidak mau menerima nasihat orang lain, bersikap defense atas saran dan masukan orang lain. Senantiasalah bermunajat agar Allah melapangkan dada kita (Q.S 20: 25). Jangan mencari-cari pembelaan bagi diri sendiri karena itu menjadi hijab tertutupnya hati.

3. Tidak mandiri
Jangan bertawakal kepada makhluk-Nya karena hanya akan menimbulkan perasaan berharap untuk selalu diberi, tapi bertawakallah kepada-Nya maka lepaslah ketergantungan kita kepada orang lain. Pantang menjadi beban untuk orang lain dan berharap pemberian orang, tapi bertekadlah menjadi orang yang senantiasa memberi.

Kembali Menulis

Selasa, 2 Agustus 2016
Sudut Kamar Novotel Bogor, dalam suatu event workshop kedinasan perusahaan.

Ah, hampir dua tahun berselang semenjak tulisan “Pelangi Ikhtiar” dirampungkan, saya kembali harus membersihkan laba-laba yang bersarang di blog ini. Hampir dua tahun segala macam pengalaman dan pengetahuan baru terlewat untuk bisa saya bagi melalui update tulisan.

Inikah sindrom selepas launching buku pertama? Kehabisan energi untuk kembali berkata-kata. Saya harap tidak begitu. Yang kubutuhkan hanya sekumpulan tekad untuk dapat mewujudkan kembali semangat dari blog ini: menulis untuk mengikat ilmu.

Kemana saja selama ini? Ada. Hanya karena rusaknya notebook yang biasa dipakai menulis dan juga fakir bandwidth maka aktivitas menulis jadi terbengkalai. Biasanya, laptop selalu standby di meja kamar yang terhubung dengan internet.

Oh, ya. Dua tahun berselang, ada yang ingin kusampaikan bahwa setelah launching buku pertama “Pojok Gaijin” pada Mei 2014 lalu yang bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, baru saja kami launching pada 16 April 2016 buku kedua yang saya tulis bersama seorang Peranakan Pontianak yang judulnya “Buku Nikah”. Mohon doanya, semoga aktivitas menulis kembali diistiqomahkan dan bisa launching buku ketiga.

Pelangi Ikhtiar

Apa yang kita peroleh itu tak melulu dari apa yang kita usahakan.

Dulu sewaktu saya tinggal di Jepang dan pada saat keuangan mulai menipis, saya pernah coba mencari kerja paruh waktu (arubaito). Berhubung saat itu menjelang pergantian tahun, jadi cukup banyak juga lowongan yang buka. Ada lowongan dari kampus, ada juga lowongan dari luar kampus. Awalnya saya tertarik untuk ikut lowongan membuat kue persiapan Natal, tapi karena berbagai pertimbangan, saya putuskan tidak mengambil lowongan tersebut.

Saya terus mencari lowongan yang dipajang di papan informasi. Saking banyaknya informasi, saya minta Daichi-san—teman Jepang—untuk memilihkan mana yang cocok untuk saya. Lowongan yang buka ada macam-macam, misalnya jadi tukang cuci piring di restoran, jadi kasir kantin, jadi pelayan, dan semacamnya. Tapi, atas rekomendasi Daichi-san, saya tak jadi mengambil lowongan yang ada.

Continue reading