Takut Miskin

​Allah SWT berfirman:

اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْـفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَآءِ  ۚ  وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا  ۗ  وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 268)

Dari sisi bahasa, mengapa Allah tidak menjanjikan kekayaan sebagai lawan kata kemiskinan? Tapi mengapa yang dijanjikan adalah ampunan dan karunia-Nya?

Kekayaan bagi seorang hamba belum tentu menjadi yang terbaik baginya. Ada yang diberi kekayaan tapi malah lupa bersyukur. Pun dengan kelapangan, belum tentu yang terbaik jika digunakan untuk bermaksiat.

Maka, jangan ngoyo meminta untuk urusan dunia yang belum tentu baik: minta kaya, minta karir bagus, minta mobil, minta harta, dll… Tapi ngoyo lah meminta untuk urusan-urusan akhirat yang sudah pasti baik: minta diampuni dosa, minta husnul khatimah, minta hidayah, minta dibukakan jalan hijrah, minta istiqomah.

Advertisements

Riba Penyebab Inflasi

Menurut Kamus KBBI, inflasi adalah kemerosotan nilai uang (kertas) karena banyaknya uang yang beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang. Akibatnya, harga barang terus meroket sedangkan daya beli masyarakat menurun. Pendapatan masyarakat tidak imbang dengan kenaikan harga barang. Contoh sederhana adalah harga rumah 5 tahun lalu misalnya 200 juta rupiah, harga hari ini bisa naik dua kali lipat menjadi 400 juta.

Mari kita telaah apa itu riba dan sistem kerjanya (penjelasan riba dan kaidahnya dapat dibaca di tulisan sebelumnya). Kita gunakan kaidah riba, yaitu setiap utang-piutang yang ditarik manfaat (tambahan) di dalamnya maka itu riba. Misalnya pinjam uang di Bank sejumlah 50 juta, kemudian Bank mempersyaratkan jangka waktu pengembalian selama 5 tahun dengan total bunga 20 juta, sehingga yang harus dikembalikan debitur kepada Bank yaitu sejumlah 70 juta (komponen pokok dan bunga).

Dalam jual beli rumah, Bank memiliki produk KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Katakanlah A ingin membeli rumah seharga 400 juta, kemudian ia mengajukan pinjaman kredit ke Bank. Setelah proses verifikasi oleh Bank, akhirnya permohonan KPR A dikabulkan oleh Bank dengan besaran kredit 80% dari harga rumah. Dengan catatan, uang muka telah dibayarkan oleh A sebesar 20%, yaitu 80 juta. Maka, kredit yang diterima A dari Bank sebesar 320 juta.

Dana segar yang diterima A tersebut harus diangsur kepada Bank dalam jangka waktu 15 tahun dengan komponen pokok dan bunga total sebesar 450 juta. Maka, ada tambahan bunga sebesar 450-320 = 130 juta yang menjadi beban A.

Suatu ketika A ingin menjual rumah tersebut, maka harga terendah yang menjadi acuan A adalah harga rumah saat ia beli ditambah dengan bunga riba yang harus dia angsur kepada Bank, yaitu sebesar 400 + 130 = 530 juta. Dari sini sudah terlihat kenaikan harga rumah. Beban bunga tentunya tidak mau menjadi tanggungannya, pasti akan dibebankan kepada pembeli dengan memasukkannya sebagai harga jual. Belum ditambah lagi dengan keuntungan yang ingin diperolehnya. Maka, kenaikan harganya sudah belipat-lipat.

Atau misalnya A membeli rumah tersebut dengan maksud untuk disewakan lagi ke orang. A akan berhitung berapa cicilan per bulan yang harus dibayar ke Bank dan keuntungan yang ingin ia peroleh dari biaya sewa. Dari total pinjaman sebesar 530 juta dengan jangka waktu 15 tahun (180 bulan), katakanlah cicilan per bulan sebesar 2,9 juta. Maka, harga acuan sewa terendah adalah besar cicilan per bulan ditambah dengan keuntungan yang ingin diperolehnya.

Jika rumah tersebut disewakan per tahun, maka harga sewanya adalah 2,9 x 12 = 34,8 juta ditambah keuntungan. Uang sewa tersebut digunakan untuk menutupi cicilannya yang sudah ada komponen bunga di dalamnya. Tidak mungkin A yang akan menanggung bunganya, pastinya akan dibebankan kepada penyewa. Maka, harga sewanya pun menjadi tinggi.

Maka sudah jelaslah bahwa bunga riba itu yang menyebabkan harga barang semakin naik, tidak imbang dengan kemampuan. Uang dianggap sebagai komoditas yang diperjualbelikan melalui sistem kredit pakai bunga, bukan sebagai alat tukar sehingga nilai uang terus merosot (inflasi). Ini berakibat kesetimbangan ekonomi menjadi rusak, dampaknya sangat menzalimi masyarakat. Kalau dulu dengan dengan uang 10.000 bisa beli banyak macam jajanan, hari ini malah untuk ongkos pun tak cukup.

Jika kita menyimpan uang 10 juta dalam brankas dan kita kunci, lalu kita diamkan selama 10 tahun. Setelah 10 tahun, uang tersebut masih utuh dengan jumlah yang sama. Namun, ketika akan digunakan sebagai alat tukar (jual beli), ternyata uang tersebut tak mencukupi. Siapakah yang mencuri? Padahal jumlahnya masih sama selama 10 tahun. Karena riba lah yang telah mencuri nilai mata uang tersebut. Karena riba lah yang membuat inflasi itu terjadi. Teramat nyata kezalimannya.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰٓوا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً  ۖ  وَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 130)

Rumah KPR, Kontrakan, dan Rumah di Surga

Persamaan rumah KPR dan kontrakan adalah yang mendiami rumah tersebut sama-sama bukan pemilik rumah. Yang beli pakai KPR, bukti kepemilikan hak milik (SHM) masih ditahan oleh bank, dan akan diberikan jika sudah lunas. Sedangkan yang ngontrak, jelas rumah bukan miliknya.

Perbedaannnya adalah yang ngontrak bayar secara tunai (per tahun), selesai. Yang beli pakai KPR, pusing bayar cicilan, jangka waktu bisa sampai 15-20 tahun. Ditambah bunga riba sekian persen.

Mari kita renungkan doa Siti Asiyah, istri Firaun dalam Q.S At-Tahrim (66) ayat 11, Allah SWT berfirman:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّـلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَ ۘ  اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَـنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, Ya Tuhanku, bangunkan lah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim”

Doa ini bisa juga kita dawamkan jika ingin Allah bangunkan rumah di surga, tanpa ngontrak dan tanpa KPR. Allah berikan sebagai bentuk karunia-NYA. Maka, bagaimana mungkin doa ini bisa dikabulkan jika ketika di dunia membeli rumah dengan cara KPR (kredit pakai riba), yang sudah jelas ancamannya neraka yang menyala-nyala?

Manusia hidup di dunia pada hakikatnya juga sebagai kontraktor (pengontrak). Segalanya milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Menumpuk-numpuk harta dan barang justru akan sangat merepotkan jika masa kontrak sudah habis. Maka, sebisa mungkin bekal yang dibawa adalah yang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat. Tinggalkanlah bawaan yang akan menjadi beban.

Kehidupan di dunia juga tidak lama. Dunia hanya sementara sebagai tempat singgah, akhiratlah tempat kembali kita, selama-lamanya. Maka, jalan yang akan menyelamatkan adalah sebagaimana prinsip kontraktor: mempersedikit beban dan memperbanyak bekal.

Ilustrasi Riba di Keseharian Kita

Sebut saja bunga, bukan nama sebenarnya. Nama aslinya adalah riba, dipoles sedemikian rupa supaya terlihat menarik. Dalam Bahasa inggris disebut interest (kepentingan, minat, keuntungan). Dalam bahasa arab, riba berarti bertambah dan tumbuh. Untuk memahami riba dalam keseharian kita, berikut diilustrasikan sepuluh kaidah umum dalam memahami riba (Referensi: M. Abduh Tuasikal. 10 Kaidah Memahami Riba).

Kaidah #1

Utang yang dikembangkan termasuk riba.

Contoh:
Pinjam uang satu juta rupiah, mesti dicicil 100 ribu tiap bulan dalam setahun, sehingga totalnya menjadi 1,2 juta rupiah. Maka kelebihan 200 ribu ini adalah riba.

Kaidah #2

Tambahan dari transaksi utang sebagai ganti karena adanya penundaan waktu pembayaran adalah riba.

Contoh:
Pengajuan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) ke Bank selama lima tahun sebesar 400 juta. Namun, karena tidak bisa dilunasi selama jangka waktu lima tahun, kemudian Bank mengubah transaksinya (restrukturisasi). Jangka waktu diperpanjang hingga 10 tahun dan harga bertambah menjadi 600 juta sebagai kompensasi atas penundaan pembayaran.

Kaidah #3

Semua utang yang menghasilkan manfaat (apapun bentuknya), statusnya adalah riba.

Contoh:
Ade memberi utang kepada Bude, akibat bantuan yang diberikan Ade kepada Bude tersebut maka Bude mentraktir Ade saat makan siang sebagai “wujud terimakasih”. Maka, traktiran ini adalah serupa manfaat yang didapat akibat memberi utang. Jalan yang lebih selamat adalah menolaknya, kecuali traktiran tersebut sudah menjadi kebiasaan sebelumnya.

Ade sebagai nasabah Bank X, kemudian setiap nasabah Bank X tersebut akan mendapatkan diskon khusus (manfaat) setiap berbelanja di merchant tertentu dengan menggunakan kartu debit atau kartu kreditnya. Maka, diskon ini serupa manfaat akibat nasabah menyimpan uang di Bank, karena pada prinsipnya nasabah memberi utang kepada Bank dan Bank memberi manfaat. Jalan yang lebih selamat adalah tidak mengambil manfaat tersebut.

Kaidah #4

Riba tetap tidak boleh, baik jumlahnya banyak maupun sedikit.

Contoh:
Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang merupakan program bantuan permodalan dari pemerintah dengan bunga kecil, hanya 9% per tahun, tetap tidak boleh dimanfaatkan. Cicilan kartu kredit 0% tetap tidak boleh dimanfaatkan karena sudah menyetujui akad riba saat menandatangani aplikasi.

Kaidah #5

Tidak diperkenankan ada kenaikan harga pada transaksi utang-piutang.

Contoh:
Ade memberi utang di tahun 2010 kepada Bude sebesar 100 juta, hingga di tahun 2018 ini nilai uang tersebut menyusut jauh dengan alasan inflasi, sehingga utang 100 juta tersebut harus dibayar 110 juta. Padahal, penyebab inflasi itu adalah riba (lingkaran setan). Nilai mata uang menurun dan harga barang naik, karena mata uang dianggap sebagai komoditas yang diperjualbelikan bukan sebagai alat tukar atau alat pembayaran.

Kaidah #6

Riba berlaku untuk semua jenis mata uang/alat tukar.

Contoh:
Riba tidak hanya berlaku pada uang kartal (uang logam dan kertas), tapi juga pada mata uang/alat tukar yang dilakukan secara tidak tunai dan ada jeda waktu. Tidak diperbolehkan jual beli emas secara kredit maupun tukar tambah.

Kaidah #7

Saling ridha tidak perhitungkan dalam riba.

Contoh:
Debitur telah menandatangani akad KPR dengan Bank dan beralasan debitur ridha dengan ketentuan memberikan bunga/margin pinjaman kepada Bank sesuai dengan ketentuan Perjanjian Kredit. Meski debitur “ridha” dengan memberi tambahan tersebut, tetaplah terhitung sebagai pemberi riba dan Bank sebagai pemakan riba.

Kaidah #8

Tidak boleh mengajukan syarat tambahan yang menguntungkan pihak pemberi utang.

Contoh:
Ade mau memberi utang kepada Bude dengan syarat Ade boleh menggunakan sepeda motor Bude kapanpun diperlukan.

Kaidah #9

Kredit dengan melibatkan pihak ketiga punya kemungkinan besar melakukan riba.

Contoh:
Jual beli sepeda motor secara kredit, harga pasaran 18 juta rupiah dan transaksinya dengan dealer sebagai penjual, tapi pelunasannya ke lembaga keuangan (leasing) secara kredit dalam jangka waktu lima tahun dengan total 25 juta rupiah.

Kaidah #10

Pengelabuan atau akal-akalan dalam riba tetap tidak diperbolehkan.

Contoh:
Ade menjual sebidang tanah kepada Bude secara kredit sebesar 200 juta dengan jangka waktu dua tahun. Sebulan setelah pelunasan, Ade ingin membeli kembali sebidang tanah tersebut dari Bude seharga 170 juta secara tunai.