“Barang” Titipan

Tersebutlah sebuah keluarga yang hanya terdiri dari seorang suami dan istri yang tidak dikaruniai seorang anak pun. Walau begitu, mereka dikaruniai kekayaan yang melimpah oleh Allah. Rumahnya besar dan
memiliki kolam renang, mobilnya mewah dan tidak cuma satu, dan banyak lagi kekayaan lainnya.

Suatu hari mereka hendak pergi menunaikan ibadah haji. Tentu saja selama sebulan itu, rumah dan seisinya yang megah itu tak ada yang mendiami. Karena itu mereka berencana untuk menitipkannya pada seseorang kenalan mereka yang sangat mereka percayai akan kejujurannya.

Tiba hari H, berangkatlah suami istri tersebut ke Mekkah. Kenalan mereka sudah sejak tadi malam berada di rumahnya. Kenalan mereka juga membawa keluarganya. Dan apa yang dilakukan oleh kenalan mereka
beserta keluarganya di rumah mereka itu selam sebulan? Rupanya sang kenalan mulai lupa diri. Ia mengundang teman-teman kantornya untuk tasyakuran mendapat rumah baru. Ya, dia menobatkan rumah titipan itu sebagai rumahnya sendiri. Ke kantor pun ia membawa mobil mewah titipan. Semua itu dilakukan untuk menyombongkan diri di hadapan kawan-kawannya. Benar-benar ia telah lupa diri. Begitu juga istrinya. Ia mengundang kawan-kawan lamanya ke rumah titipan itu. Dia mengadakan pesta besar-besaran dan tujuannya tidak lain untuk menyombongkan dirinya. Dia pun tak kalah lupa dirinya dengan suaminya. Anak-anak si kenalan itu juga membawa mobil-mobil titipan ke sekolahnya dan mengundang kawan-kawannya ke rumah titipan itu. Satu keluarga telah lupa diri.

Selama sebulan mereka menikmati harta kekayaan titipan itu. Dan waktu sebulan berlalu. Maka pulanglah suami istri yang telah menunaikan ibadah haji ke rumahnya. Bertepatan dengan ketika sedang diadakan
pesta di rumah itu. Peserta pesta yang adalah kawan-kawan kenalan yang dititipi rumah terbengong-bengong melihat yang baru datang tiba-tiba marah-marah kepada temannya itu. Akhirnya, mengakulah orang yang dititipi itu dan dia diusir saat itu juga.

Sahabat, contoh di atas hanyalah ilustrasi dari keadaan kita saat ini. Kita semua telah lupa diri dengan barang yang telah dititipkan kepada kita semua. Sampai kepada iman yang ada di dada sekalipun, kita telah
salah sangka. Kita lupa bahwa rupa kita yang rupawan ini hanyalah titipan bahkan pinjaman.

Tak jarang juga kita memamerkan harta kekayaan kita di hadapan kawan-kawan. Kita lupa diri dengan mobil yang kita kendarai. Kita menyangka bahwa itu adalah harta kita. Padahal Allah berkenan untuk mengadakan
suatu peristiwa kecelakaan yang melibatkan mobil kita itu. Dan banyak hal lagi yang sudah kita cap sebagai milik kita. Bahkan mungkin semua hal dalam hidup kita.

Kita juga menyangka bahwa iman yang ada di hati kita ini adalah jerih payah kita untuk mendapatkannya. Maka jangan heran apabila sering orang yang sudah banyak beribadah menjadi sombong. Itu karena mereka
salah kaprah tentang iman, ibadah, dan ilmu. Padahal Allah-lah yang memberi hidayah. Allah-lah yang memberi
kekuatan untuk melakukan ibadah. Bagaimana kalau Allah mencabut iman di dada kita? Karena itu jangan salah kaprah. Semua milik Allah, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s