Resensi Sang Pemimpi

Akhirnya bisa nonton Sang Pemimpi juga setelah melewati masa-masa UAS, tapi perjuangan belum berhenti, masih ada di Januari. Terimakasih buat keanggotaan XL LSS sebagai fasilitator. Awalnya saya penasaran juga dengan film Avatar, tapi saya pikir daripada belum jelas asal-usul ceritanya mendingan nonton yang sudah jelas dulu saja. Ya, rangkaian cerita dari Laskar Pelangi ini memang patut ditunggu kelanjutan ceritanya.

Cerita yang diawali di sebuah sekolah — SMA Negeri Manggar namanya — dengan 3 orang bernama Ikal, Aray, dan Jimbron. Mereka terbilang nakal di sekolahnya, tapi juga tersimpan potensi positif pada diri mereka. Aray yang memiliki mimpi besar untuk bisa merantau ke Jakarta untuk melanjutkan kuliahnya di UI, kemudian ingin sekolah lagi di Perancis. Sebuah mimpi yang mustahil bagi logika manusia karena keadaan mereka berada dalam keterbatasan. Namun mimpi-mimpi mereka dibuktikan dengan kerja nyata, mereka benar-benar memeras keringat di pelabuhan, bekerja di pasar untuk memenuhi penhasilan mereka dan ditabungkan untuk bekal kuliah di Jakarta kelak.

Kepala sekolah mereka yang keras dalam mendidik pun turut bertutur, “Aku keras dalam mendidik kalian karena aku tidak ingin anak didikku terbuai dalam mimpi-mimpi, aku ingin menanamkan bahwa dalam mengejar mimpi dan cita-cita perlu pengorbanan yang besar dan jalan menuju kesuksesan tidak mudah. Oleh karena itu aku tidak ingin kalian lembek”. Dan Pak guru mereka yang diperankan Nugie pun tak kalah bertutur, “Bukan seberapa besar mimpi kalian, tapi seberapa besar kalian untuk mimpi kalian“. Ya, itulah quotes yang membuatku sedikit terharu.

Setelah lulus SMA, mereka benar-benar merantau ke Jakarta dan kuliah di UI. Dalam cerita yang sangat singkat akhrinya mereka pun lulus. Selang beberapa tahun mereka belum mendapat pekerjaan. Ikal yang trauma dengan tukang pos karena kejadian di masa lalu yang menyebabkan ayahnya kecewa karena surat yang salah alamat malah bekerja di kantor pos, ironis memang. Aray pun sempat menghilang karena tidak ingin jadi beban bagi Ikal, dia merantau ke Kalimantan.

Setelah melihat iklan di koran mengenai beasiswa di Perancis, Ikal pun ikut wawancara, tanpa sengaja bertemu dengan Aray yang sempat menghilang. Mereka berdua mendapat beasiswa ke Perancis dan kedua orangtuanya pun bangga.

Lalu Aray bertutur kepada Ikal, “Kau pikir aku lupa tentang Perancis itu?
Sebuah kekuatan mimpi yang menjadi tindakan kongkrit.

4 thoughts on “Resensi Sang Pemimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s