Ketika Gelar di Tangan Pasar

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama“. Ya itulah sebuah ungkapan yang kita kenal.

Seminggu sudah kita kehilangan salah satu tokoh bangsa, Presiden RI ke 4. Beliau adalah Abdurrahman Wahid yang kerap disapa Gus Dur. Begitu banyak orang yang menangisi kepergiannya, tidak hanya bagi kalangan umat muslim saja, tetapi ada juga dari kalangan non-muslim. Orang orang mengenalnya sebagai Bapak Pluralisme.

Setelah kepergiannya, kini bayak orang meributkan gelar kepahlawanan untuk beliau. Seolah gelar kepahlawanan ada berada di tangan pasar, rakyat merekomendasikan lalu pemerintah menyetujui. Seharusnya pemberian gelar kepahlawanan itu mutlak diberikan oleh negara.

Lalu apa syarat untuk menjadi pahlawan nasional?

berdasarkan UU No 33 Prps/1964 tentang Penetapan Penghargaan dan Pembinaan terhadap Pahlawan, seseorang bisa ditetapkan sebagai pahlawan ketika memenuhi beberapa kriteria di antaranya syarat kewarganegaraan, pengabdian dan perjuangan yang dilakukannya, serta perjuangan yang dilakukan mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional. Selain itu juga kriteria memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan atau nasionalisme yang tinggi.

Gelar kepahlawanan itu seolah pasar yang me-request. Mulai dari PKB yang setuju untuk memberikan gelar itu, lucunya lagi Golkar akan menyetujui gelar pahlawan bagi Gus Dur jika Soeharto juga dijadikan pahlawan nasional. Terjadi tawar menawar harga rupanya disini, kayak pasar saja.

Terlepas dari segala kontroversi Gus Dur yang dianggap Bapak Pluralisme dan Guru Bangsa, banyak orang setuju untuk pemberian gelar ini. Seolah pemberian gelar pahlawan nasional bisa dilakukan kapan saja, dimana saja asal ada dukungan yang banyak. Kalau gitu, suatu saat nanti rakyat bisa merekomendasikan kakek, nenek, ayah, ibu mereka untuk bisa jadi pahlawan nasional.

Lalu bagaimana dengan guru? Itulah yang seharusnya menjadi pahlawan nasional, mendidik bangsa, mencerdaskan umat. Kalo bisa semudah itu memberikan gelar pahlawan, kita beri gelar untuk Ustadz Yusuf Mansyur yang selalu menguatkan fondasi iman, mengampayekan gerakan menghapal Al-Quran. Kita beri gelar juga kepada Aa Gym yang selalu mengingatkan tauhid kepada setiap muslim.

Banyak hal kecil dibesar-besarkan, hal yang seharusnya mudah dibikin repot. Kasus-kasus besar jadi terhambat, masih banyak yang harus dibenahi. Kasus Century, KPK, Anggodo….. kalo bisa mudah kenapa dibikin repot. Gitu aja kok repot….

4 thoughts on “Ketika Gelar di Tangan Pasar

  1. ajeng

    sepakat,,
    masih banyak masalah2 lain yg harus dselesaikan
    masih banyak pekerjaan yg belum dilakukan
    masih banyak orang lain yg (lebih) layak dberi gelar pahlawan, tapi tidak pernah mereka minta,

    pahlawan tanpa tanda jasa, termasuk guru2 kita
    masih banyak
    masih banyak sekali

    Reply
  2. akhnurhadi

    saya mungkin termasuk orang yang kurang setuju dengan pmebrian gelar pahlwawan kepada Gus Dur,
    tanya kenapa..
    cobalah bertanya pada rumput yang bergoyang..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s