Semua Akan Terbayar Jika Sudah Mencapai Puncak

Tulislah rencanamu dengan sebuah pensil, tapi berikan penghapusnya kepada Allah. Izinkan Dia menghapus bagian-bagian yang salah & menggantikan dengan rencana-Nya yang indah di dalam hidupmu. Maka engkau akan bersyukur atas apapun yang terjadi.

Setiap orang pasti memiliki cita-cita, setiap orang pasti memiliki impian, dan setiap orang pasti memiliki tujuan akhir. Walaupun ada sebagian orang yang hanya bercita-cita ala kadarnya, sudah bisa makan saja cukup, sudah bisa tidur saja cukup. Tapi itukah cita-cita kita?Cita-cita tertinggi seorang muslim adalah mati syahid dan masuk surga. Walaupun banyak rintangan menghadang, banyak lika-liku yang harus dilalui, seorang muslim akan tetap istiqomah.

Masih ada yang salah kaprah tentang menafsirkan takdir. Banyak orang yang menyalahkan takdir jika gagal meraih impiannya, “Sudahlah, cita-citaku berhenti sampai disini, ini sudah takdir“. Jika kita belum usaha maksimal, kita tidak akan tahu takdir kita seperti apa. Takdir bisa kita ketahui setelah kita mengerahkan usaha terbaik kita, mengerahkan waktu, tenaga, dan pikiran ekstra. Setelah itu kita serahkan hasilnya kepada Allah, apapun hasilnya itulah takdir dan itu pasti yang terbaik dari Allah.

Secara sederhana, takdir bisa diilustrasikan dengan contoh berikut : Minggu depan akan diadakan ujian akhir, kita mulai mempersiapkan segalanya mulai hari ini juga. Mulai dari persiapan materi, persiapan fisik, persiapan hapalan. Kita sudah berusaha untuk bertanya kepada ahlinya, mencoba mengerjakan soal-soal latihan, bahkan sampai begadang. Pada hari H ujian, ternyata kita sakit sehingga tidak bisa mengerjakan soal ujian dengan maksimal, akibatnya nilai akhir ujian pun kurang memuaskan. Ya, secara sederhana bisa dikatakan takdir, diluar kehendak kita.

Balik lagi ke pencapaian cita-cita, jika cita-cita diibaratkan sebagai suatu puncak bukit, pasti banyak sekali rintangan menghadang. Banyak sekali tanjakan yang curam yang harus kita lewati, banyak anak tangga yang harus kita langkahi, kadang stamina kita pun “turun-naik” sesuai dengan curamnya tanjakan. Perlu penguatan dari sahabat-sahabat kita, perlu doa, perlu dorongan agar stamina kita kembali terisi. Tekad dan doa yang kuat merupakan bahan bakar utama.

Pandangan kita, kita arahkan ke puncak bukit. Maka tubuh ini akan terus menggeluarkan energi terbaiknya. Bayangkan, puncak bukit itu tinggal beberapa langkah lagi, hingga akhirnya kita pun sampai. Kelelahan, pikiran, tenaga, materi yang kita korbankan terbayar sudah dengan indahnya pemandangan di puncak bukit. Semakin tinggi puncak bukit, akan semakin indah pemandangannya walaupun harus kita lewati jalan yang terjal berliku dan menanjak. Tapi itu semua terbayar ketika kita sudah sampai di puncak bukit.

2 thoughts on “Semua Akan Terbayar Jika Sudah Mencapai Puncak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s