Analisisku Terhadap Mahasiswa Tingkat Awal dan Akhir

Mengapa masjid Salman terdengar lebih riuh dari biasanya?Mengapa banyak orang berkumpul di koridor selatan?Ada yang membuka buku, ada yang tidur-tiduran, ada yang berdiskusi atau mengobrol. Hmm, susah sekali menemukan mahasiswa tingkat akhir yang kemana-mana selalu bersama. Mahasiswa tingkat berapa mereka?

Setelah kuperhatikan lebih lanjut, kulihat bundel soal GAMAIS untuk mata kuliah kalkulus sedang mereka buka. Tidak salah lagi, mereka mahasiswa tingkat pertama alias mahasiswa TPB. Dugaanku benar, susah sekali menemukan  mahasiswa tingkat akhir yang kemana-mana selalu bersama. Ya itulah mahasiswa TPB.

Mereka yang baru berkenalan dengan dunia kampus, sudah kebal di telinga mereka teriakan-teriakan para danlap PMB, INKM atau kaderisasi sejenisnya tentang status MAHASISWA. “Mahasiswa berbeda dengan mahasiswa”, begitulah kata-kata yang sering diteriakkan para danlap tentang kemahasiswaaan.

Mahasiswa TPB adalah mahasiswa yang sedang ingin-inginnya mengetahui seluk beluk dunia kemahasiswaan, sedang melalui proses pembentukan idealisme, sedang mencoba untuk membangun karakter pribadi. Lihat saja contohnya, berbagai acara mereka ikuti, kepanitiaan pun mereka ikuti. Mereka mencoba untuk menjadi “aktivis” sejak dini.

Dengan bangganya mahasiswa TPB memakai atribut-atribut kepanitiaan, bangga pula mereka memakai asesoris kemahasiswaan. Tidak peduli sudah dipakai berapa lama jaket almamaternya, tidak peduli berapa lama ia berada di kampus bahkan sampai larut. Itulah sebuah proses pembelajaran untuk memantapkan idealisme mahasiswa.

Agak sedikit berbeda dengan mahasiswa tingkat 2. Walaupun beragam kegiatan masih sering diikuti, beragam kepanitiaan masih diikuti. Mahasiswa tingkat 2 sudah mulai menemui tujuan akhirnya. Berbeda dengan saat TPB dulu, kini mulai agak sulit untuk bersama-sama dalam setiap aktivitas.

Semakin tinggi tingkatan, akan semakin sulit untuk bertemu kawan-kawan. Walaupun frekuensi bertemu masih cukup sering, tetapi mahasiswa tingkat akhir benar-benar sudah menetapkan tujuannya sehingga kemana-mana pun tidak selalu bersama seperti masa TPB dulu. Mahasiswa tingkat akhir benar-benar sudah memilih konsekuensi dari tujuan yang telah dipilihnya. Menjadi mahasiswa tingkat akhir kadang selalu merasa paradoks merasa kesepian di tengah keramaian.

Yah begitulah sekelumit dan dinamika dunia kemahasiswaan dan kampus. Setiap generasi memiliki waktunya, setiap generasi memiliki periode waktunya. Episode hidup harus tetap dijalani, bukan karena skenario kita, bukan atas kuasa kita. Akan tetapi atas skenario Allah dan yang terbaik tentunya.

4 thoughts on “Analisisku Terhadap Mahasiswa Tingkat Awal dan Akhir

  1. Erma Suwastika

    Mungkin hal yang akan saya soroti adalah kata2 ‘merasa kesepian di tengah keramaian’

    Sebelumnya, saya sampaikan bahwa yang saya tulis ini berdasarkan pendapat saya pribadi. Jadi, komentar saya benar2 subjektif.

    Karena saya tahu kamu bercita2 menjadi dosen, mau tak mau kamu harus lanjut S2. Bisa di ITB atau di luar negeri dan yang saya bahas di sini adalah situasi dan kondisi S2 di ITB.

    Kesepian yang kamu rasakan di tingkat akhir S1 tidaklah seberapa dengan yang akan dirasakan saat S2.
    Saat saya memutuskan untuk S2, saya sangat berharap menemukan suasana seperti saat S1. Ekspektasi saya terlalu tinggi, sehingga saya menjadi kecewa. Seperti kata orang, “Jika berani berharap, maka harus berani kecewa.”
    Mungkin hal itu yang menyebabkan saya lebih nyaman bergaul dengan mahasiswa S1 angkatan bawah daripada mahasiswa S2. Setidaknya kalian memiliki latar belakang dan karakteristik yang sama dengan saya. Juga adanya ‘sense of belonging’ terhadap ITB.
    Menurut saya, masa S1 adalah masa penempaan. Kita ditempa selama kurang lebih 4 tahun, sehingga memiliki karakteristik tertentu yang berbeda dengan mahasiswa perguruan tinggi lain. Bisa saya katakan bahwa kuliah di ITB itu ‘hardcore’
    Mahasiswa S2 ITB memiliki latar belakang yang heterogen dan rentang usia yang cukup besar. Kedua hal tersebut menyebabkan karakteristik yang berbeda. Kamu mungkin akan menemui hal-hal yang tidak pernah kamu temui saat bergaul dengan teman S1.
    Walaupun kamu merasa cara berpikir dan cara pandangmu dengan teman2mu sekarang berbeda, pada dasarnya kalian ditempa di tempat yang sama. Jadi, perbedaannya tidak akan terlalu jauh.
    Di S2 nanti, mungkin akan temui orang2 yang memandang dan menyelesaikan suatu masalah dengan cara yang berbeda dengan dirimu. Dari segi obrolan dan bahan becandaan juga terasa lain. Jika saya saat S1 sangat senang dan sering tertawa, maka saat ini saya merasa sulit untuk tertawa lepas.
    Kemudian, saya sudah bilang bahwa kuliah di ITB itu ‘hardcore’. Hal ini menyebabkan daya tahan dan daya tempur kita lumayan tinggi. Jika ada masalah atau kesulitan dalam menyelesaikan sesuatu, kita akan cenderung istiqomah untuk menyelesaikannya dengan cara yang menurut kita elegan, tetapi orang lain mungkin akan lebih memilih cara yang ‘lebih mudah’
    Jangan berpikir bahwa mahasiswa S2 pasti lebih dewasa dan bijaksana daripada mahasiswa S2. Kadang2 mahasiswa S2 lebih kekanak2an dan tidak logis.

    Jika saat S1 belajar bersama sebelum ujian bisa menjadi sangat menyenangkan, efektif, dan tepat sasaran, maka di S2 belajar bersama mungkin malah membosankan dan membuang2 waktu. Hal ini mungkin disebabkan oleh hal-hal yang sudah disebutkan di atas. Bisa jadi karena frekuensi gelombangnya berbeda, sehingga sulit untuk nyambung. :p
    Apalagi tugas2 yang diberikan bisa jadi berbeda untuk setiap orang, sehingga masing-masing akan sibuk dengan tugasnya masing-masing. Tidak ada waktu untuk membantu menyelesaikan tugas orang lain.

    Rentang usia sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menimba ilmu dari pengalaman orang lain yang jauh lebih tua, yang sudah banyak makan asam garam. Namun, jangan terlalu berharap kamu bisa mengajak mereka ‘bermain’ bersama.

    Sekian komentar dari saya. Mohon maaf apabila banyak kekurangan.

    *tips2 yg kamu minta saya kirim via facebook aja ya…
    klo di sini ntar kepanjangan

    Reply
    1. wawa

      ayo gan…lanjut lanjut jangan terbawa suasana… berteman mah bisa dimana aja, emang kalo udah tingkat empat ada kecenderungan ngurusin diri sendiri dulu…baru ngurusin kelompok…

      pikiran kita di tingkat empat sudah mulai bercabang-cabang…mulai dari kuliah yang udah ga selalu bareng sama angkatan; topik tugas akhir, pembimbing dan jadwal bimbingan yang berbeda-beda; terus juga pribadi masing-masing disibukkan dengan pemikiran “mau kemana setelah lulus nanti”… pemikiran2 semacam ini membuat sebagian besar orang untuk fokus ke diri sendiri dan merenung untuk ‘kehidupan’ setelah S1 nya.

      KEEP Spirit bos, nikmati detik2 kul semester2 akhir…toh kita masih ada beberapa kuliah bareng angkatan… dan jangan lupa masih ada Labkom…komunitas Perjuangan…hahaha..

      Reply
  2. Rizal Dwi Prayogo Post author

    Wah, teh erma nampak berpengalaman pisan dalam dunia kemahasiswaan dan dunia kampus.. bener, calon dosen mah kudu paham dulu medan juangnya nanti. Nuhun Tips2nya jg.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s