Mengartikan Bahagia dan Senang

Dalam bahasa Indonesia, mungkin yang namanya senang selalu bersinonim dengan bahagia. Namun, ternyata dalam kehidupan nyata, makna dari kedua kata itu sangat berbeda. Banyak orang bilang senang, namun mereka tidak bahagia.  Tapi orang yang bahagia, sudah pasti termasuk orang yang senang juga. Lalu apa perbedaan diantara keduanya?tahan dulu.

Banyak orang yang mengalihkan masalahnya pada bentuk-bentuk kegiatan yang menimbulkan kesenangan. Namun, kesenangan yang didapat bersifat sementara. Setelah selesai dari urusan mencari kesenangan, sebagian orang mungkin akan merasakan kembali masalahnya semula. Kesenangan disini bersifat semu, cepat dapat maka akan cepat pergi pula.

Ambil contoh, seseorang yang sangat menggemari penyanyi idolanya mengetahui bahwa minggu depan akan diadakan konser dengan harga tiket sebesar Rp. 300.000 (tigaratus ribu). Akan tetapi dalam waktu yang bersamaan, dia harus mengantar ibunya untuk pergi. Setelah menimbang-nimbang, dia memutuskan untuk tetap menonton konser itu dengan pertimbangan bahwa konser hanya diadakan sekali. Apapun jika sudah menjadi hobi akan dilakoni.

Berangkatlah dia menuju tempat konser penyanyi idolanya, dengan penonton yang berjejal-jejal dia rela walaupun berdesak-desakan, bersimbah peluh hanya untuk bertemu dengan sang idola. Setelah menikmati konsernya dan berfoto bersama, dia terlihat senang. Namun, sepulangnya ke rumah, dia teringat kembali atas permintaan ibunya untuk mengantar pergi. Dia merasa menyesal telah menolaknya. Dalam kasus ini, kesenangan yang dia peroleh ketika bertemu sang idola pudar setelah mengingat masalah yang baru.

Lalu bagaimana dengan kebahagiaan?Ambil contoh, seorang pemuda yang alim diajak teman-temannya untuk pergi berbelanja pakaian diskon, Namun, agenda pemuda alim ini cukup padat dengan berbagai kegiatan dakwah sehingga dia menolak ajakan teman-temannya. Tersiar kabar bahwa, harga pakaian diskon itu terjun bebas dan kualitas ekspor. Mendengar kabar ini, pemuda alim hanya tersenyum dan berkata, “Aku bahagia tidak mengikuti mereka karena aku bisa lebih banyak memberi dengan agenda-agenda dakwah ini..”. Jadi, bahagia lebih bersifat ukhrawi, masalah-masalah yang datang kemudian tidak akan menyurutkan kebahagiaan yang sudah dicapai.

Aku senang menulis, tapi aku bahagia jika tulisanku bisa jadi manfaat untuk umat.

*ditulis ketika mata sudah mengantuk tapi otak masih berpikir apa perbedaan senang dan bahagia

4 thoughts on “Mengartikan Bahagia dan Senang

  1. Ummati

    Bagus artikelnya, antum punya bakat menulis, lho. Kembangkan terus, latihan terus, nanti bisa menjadi penulis yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Dan nantinya semoga masuk sorga bersama ummat Islam yang lainnya. Ada satu pesan penting, jangan terlalu mudah bilang bid’ah! Apalagi hobby memusyrikkan kaum muslimin, jangan sampai deh. Bisa kuwalat, famali…. he he he…. Salam kenal dari kami:
    http://ummatiummati.wordpress.com/penulis-ummati-press/

    Wah…, link blogmu banyak banget mas. Ini kami tambah satu link lagi: http://millahibrahim.wordpress.com/2007/02/06/bantahan-atas-syubhat-syaikh-albani-bagian-pertama/

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s