Pemerintahan yang Ideal, Adakah?

Di tengah carut-marutnya kondisi pemerintahan di Indonesia, program 100 hari yang dinilai gagal, ditambah lagi dengan fenomena para elit politik kita yang mendapat fasilitas mewah padahal masih banyak rakyat yang masih makan nasi aking. Aparat-aparat hukum yang terjerat hukum, terlepas dari perbincangan kriminalisasi. Hukum seolah bisa diperjual-belikan. Tidak perlu waktu yang lama untuk menjerat bu Minah, cukup dengan bukti 3 butir kakao. Tidak sulit untuk menjatuhkan vonis penjara 15 hari untuk Basar Suyanto dan Kholil dengan bukti buah semangka. Tapi apa kabar Anggoro dan para “sahabat-sahabatnya” ? Katanya hukum tidak mengenal kaya atau miskin, besar atau kecil, kota atau desa, laki atau perempuan. Masihkah berlaku pernyataan ini?

Memang yang bersalah patut dihukum. Bahkan Rasulullah saw pun sampai menyatakan, “Jika Fatimah putriku mencuri, sungguh akan kupotong tangannya.”. Namun, yang menjadi ironis disini adalah hukum yang seakan tidak bisa “berbicara” banyak kepada orang-orang yang punya pangkat dan harta. Penjara dibuat seperti hotel, dan baru belakangan ditindak tegas. Lagi-lagi, uang berbicara.

Kemiskinan yang masih ada dimana-mana tidak menyurutkan langkah pemerintah untuk menambah fasilitas mewah kepada pejabat-pejabat kita. Untuk membantu pekerjaan lah katanya, sudah dianggarkan lah katanya. Padahal, masih banyak mahasiswa yang membutuhkan beasiswa. Jika kita melihat kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab r.a, Umar tidak bersenang-senang dengan jabatannya. Setiap malam beliau keliling ke wilayah kekuasaannya untuk melihat kondisi rakyatnya secara langsung (tidak hanya menerima laporan anak buahnya saja). Dia tolong secara langsung rakyatnya yang butuh makan, rakyatnya yang butuh keadilan. Dia mengharuskan semua pejabat di bawahnya melaksanakan tugas dengan baik dan jujur, dan menindaknya dengan tegas apabila pejabat2 itu melanggarnya.

Kondisi masyarakat kita pun memiliki tingkat konsumtif yang tinggi. Pernah ada beberapa waktu yang lalu, Produsen Handphone mengobral produknya dengan diskon yang menggiurkan. Ternyata, tawaran itu mendapat respon yang sangat positif. Terlihat dari kalangan yang bisa dibilang kurang mampu pun ikut dalam antrean ini. Entah kenapa, (mungkin sugesti) setiap ada barang yang didiskon besar-besaran, kita akan menyambutnya walaupun barang yang didiskon bukan barang yang kita butuhkan.

Angka kemiskinan yang masih tinggi sangat ironis dengan kehidupan para pejabat kita. Jika kita berkaca kepada kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, dalam tempo 852 hari beliau bisa membuat kerajaan Umaiyyah semakin kuat, rakyat mendapat layanan yang sewajarnya, dan menjadi kaya-raya sampai-sampai Baitulmal penuh dengan harta zakat karena tidak ada lagi orang yang mau menerima zakat, orang-orang kebingungan untuk menyalurkan zakat,  karena kebanyakan masyarakat sudah kaya.

Angka korupsi di Indonesia pun masih tinggi, dengan nilai Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia yang terus mengalami peningkatan dari 2.0 menjadi 2.8. Korupsi ini menjangkiti pemerintah pusat sampai pemerintah daerah. Fasilitas negara digunakan untuk kepentingan pribadi, uang pengadaan barang dan pekerjaan umum “ditilep”, bukan hal yang aneh lagi jika gedung-gedung fasilitas umum kita tidak memiliki kontruksi yang baik karena bahan-bahan bangunannya dikorup.

Jika kita berkaca lagi kepada kekhalifahan Umar bin Khattab r.a, saat ada tamu yang datang berkunjung di saat Umar sedang bekerja beliau mematikan lampu yang ada diruangan itu karena saat beliau bertanya, “Apa maksud kunjunganmu kesini? untuk keperluan negara atau pribadi?” dan si tamu menjawab, “Aku ingin berbicara mengenai hal pribadi kepadamu ya Amirul Mukminin.”

Si tamu pun bingung kenapa Umar mematikan lampu sehingga ruangan menjadi gelap dan Umar berkata, “Engkau datang kesini untuk berbicara masalah pribadi denganku, sementara saat kamu datang aku sedang bekerja untuk kepentingan negara dan minyak dari lampu ini adalah milik negara. Aku tidak pantas menggunakannya untuk kepentingan pribadiku.

Kisah yang lain lagi, pada suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab r.a membutuhkan uang untuk keperluan pribadi. Beliau menghubungi Abdurrahman bin ‘Auf, sahabat yang tergolong kaya, untuk meminjam uang 400 dirham. Abdurrahman bertanya, “mengapa engkau meminjam dari saya? Bukankah kunci baitul maal (kas negara) ada di tanganmu? mengapa engkau tidak meminjam dari sana?” Umar r.a menjawab, “Aku tidak mau meminjam dari baitul maal. Aku takut pada saat maut merenggutku, engkau dan segenap kaum muslimin menuduhku sebagai pemakai uang baitul maal. Dan kalau hal itu terjadi, di akhirat amal kebajikanku pasti dikurangi. Sedangkan kalau aku meminjam dari engkau, jika aku meninggal sebelum aku melunasinya, engkau dapat menagih utangku dari ahli warisku.

Mungkin pemerintahan yang ideal sudah sulit untuk ditemukan kini. Sebagai rakyat, kita pun tidak berhak menuntut banyak kepada pemerintah jika kita belum bisa membenahi diri sendiri. Meminta aturan dan hukum ditegakkan, tapi kita masih nyelonong saat lampu merah dan berhenti tidak di belakang garis. Meminta pemerintah untuk memberantas kemiskinan, tapi masih ada yang membeli rokok padahal keadaan keuangannya pas-pasan. Menuntut kesejahteraan rakyat, tapi rakyatnya tidak mau berusaha dan hanya nongkrong sambil merokok. Kondisi bangsa yang ideal adalah sinergisasi antara pemerintah dan rakyatnya untuk sama-sama mewujudkan masyarakat madani.

One thought on “Pemerintahan yang Ideal, Adakah?

  1. rumaishamaswar

    Rosulullah hanya membutuhkan 23 tahun untuk mperbaiki ummat.. So,solusi terbaik adalah mengikuti langkah2/metode pembinaan yg dilakukan oleh Rosulullah.. Bukankah ia adl sebaik2 teladan?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s