Potret Perfilman Indonesia

Jika kita melihat sejarah perfilman Indonesia, aktor Dedi MIzwar bisa dikatakan sudah profesional di bidangnya. Melalui film Naga Bonar, beliau sudah menunjukkan kualitas acting dan performa yang mumpuni. Hanya saja, generasi harus berganti dan pengganti-pengganti beliau harus bisa meneruskan sejarah perjuangan film Indonesia.

Masih teringat dalam benak kita, film yang sangat laris dalam mendobrak pasar, film dengan bergenre cinta dan dimainkan oleh artis remaja pula pada saat itu, apalagi kalau bukan Ada Apa Dengan Cinta. Pada masa film itu tayang di seluruh bioskop di Indonesia, rata-rata penonton terbanyak adalah remaja ABG. Ceritanya tidak jauh dari sekelumit kehidupan cinta remaja, saya bilang remaja labil tepatnya.

Setelah film AADC yang laris di pasaran, banyak bermunculan film yang bergenre sejenis. Entah apa judulnya, tapi yang pasti film-film itu bercerita tentang kisah cinta pemuda-pemuda labil. Melihat kondisi seperti itu, kualitas perfilman di Indonesia dirasa makin menurun kualitasnya. Film yang harusnya bisa menjadi media pencerdasan untuk para penontonnya, malah tidak digunakan seharusnya.

Film yang bergenre cinta-cintaan itu banyak mengisahkan tentang sekelumit kehidupan remaja dan problematikanya. Ceritanya pun tidak jauh dari pacaran, bergaul ala anak gaul, merokok, bahkan sampai kehidupan free sex. Melalui film yang seperti ini, remaja-remaja ABG mulai meniru gaya hidupnya. Tidak jarang remaja yang setelah menonton film seperti ini minta dibelikan motor baru atau mobil karena melihat kondisi sekelilingnya yang menuntut ia berbuat seperti itu. Film yang seharusnya bisa menjadi media pendidikan bagi remaja malah digunakan untuk meraup keuntungan saja.

Generasi terus bergulir, genre-genre film pun sudah banyak yang bervariasi. Tidak berkutat seputar dunia remaja saja, tetapi sudah bergerak ke dunia horor. Lebih parahnya lagi, film-film kita sudah bergerak ke arah esek-esek. Jika kita lihat perjalanan film Indonesia, sedikit sekali film yang memiliki nilai pendidikan di dalamnya. Selebihnya adalah film yang tidak bermutu yang hanya ingin meraup keuntungan saja.

Negeri kita pernah digegerkan oleh insan perfilman kita yang akan mendatangkan bintang film porno dari Jepang. Bintang film itu serasa dijadikan “umpan” untuk menarik para penonton, tanpa memerdulikan konten dari film yang akan disampaikan. Film-film yang bergenre horor pun bermunculan, dibumbui dengan konten esek-esek didalamnya. Entah kenapa, seakan yang berbau esek-esek bisa menjadi andalan untuk merangkul penonton padahal film seperti itu tidak memiliki nilai manfaat bagi yang menonton.

Film-film dengan judul yang “memancing“ pun mulai marak dan poster wanita sedang membuka aurat dipampang jelas. Itulah potret perfilman kita kini, seakan kontennya sudah jauh dari nilai-nilai pendidikan dan pencerdasan anak bangsa. Meraih keuntungan maksimal itulah yang dicari. Tidak mau bersusah-susah untuk membuat film yang berkualitas seperti Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Laskar Pelangi, atau Sang Pemimpi, bahkan konon kabarnya film Negeri 5 Menara akan dirilis. Mencerdaskan bangsa bisa melalui apa saja, misalnya melalui media perfilman. Film-film yang inspiratif dan mendidik akan menambah semangat penontonnya untuk bisa meniru hal-hal yang baik. Insan perfilman yang cerdas tidak akan membuat film yang tidak mencerdaskan, dan masyarakat pun sebaiknya ikut serta untuk mendukung gerakan anti menonton film Indonesia yang tidak berkualitas. Jika film-film yang tida bermutu itu sepi penontonnya, film-film seperti itu tidak akan menempati pasar di negeri kita dan pada akhirnya akan musnah dari peredaran.

Namun, pada akhirnya semua akan kembali pada diri kita masing-masing. Apakah kita akan turut serta dalam menyuburkan film yang tidak bermutu dengan cara menontonnya di bioskop?Ataukah kita akan memboikot peredarannya?Semua tergantung kita. Jika kita masih ingin membangun bangsa yang cerdas dengan tontonan yang berkualitas, maka kita hilangkan daftar film-film tidak bermutu itu dalam masyarakat kita sehingga nantinya film-film yang tidak bermutu itu tidak akan lagi menempati poster-poster yang ada di bioskop. Wallahu’alam bisshowab

2 thoughts on “Potret Perfilman Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s