Wajah Pertelevisian Kita

Resmilah televisi kita sebagai media hiburan sedikit manfaat. Ketika kita sedang berada di depan televisi dan memegang remote, cobalah untuk memindah-mindahkan channel nya. Mulai dari tayangan reality show, infotainment, sinetron dan berbagai macam acara yang lain. Sebagai penonton yang bijak, tentunya kita bisa memilih mana tayangan yang bermanfaat atau tayangan yang hanya sekedar tong kosong saja, tanpa makna.

Meningat fungsi televisi yang sebagai media hiburan dan sumber informasi, televisi bisa menjadi sumber informasi yang up to date atau bisa menjadi media hiburan yang melenakan. Ketika kita sudah terbuai dalam acara-acara hiburan, kita bisa saja lupa waktu dan tidak mengambil manfaat apa-apa. Akan tetapi, jika kita pergunakan untuk menonton berita, ceramah atau talkshow maka kita akan memperoleh wawasan baru.

Infotainment

Dengan menonton infotainment, kita akan disibukkan dengan urusan-urusan orang lain yang belum tentu terbukti benar. Kadangkala, dalam infotainment sering mengumbar aib-aib para selebritis kita. Gaya hidup artis yang serba glamour akan memberi contoh yang tidak baik untuk kita. Sisi kehidupan tidak bagusnya diumbar kepada publik sehingga publik banyak yang berkomentar miring terhadap selebritis itu padahal itu belum terbukti benar. Ini bisa menyebabkan kita tenggelam dalam prasangka. Belum lagi, pemberitaan itu akan menjurus ke gibah.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S Al-Hujuraat-12)

Lagipula hal-hal yang diumbar di acara infotainment lebih kepada penampilan fisik si artis. Gaya dandanan yang mengumbar aurat, bergaya hidup mewah, menganut budaya pacaran sudah merupakan gaya hidup sehari-hari. Jika tontonan masyarakat seperti ini, mau menyontoh apa kita dari artis yang seperti itu?Sayang jika waktu kita dipergunakan hanya untuk mengetahui sisi dunia artis, sedangkan kita sendiri masih banyak yang perlu dibenahi.

Reality Show

Secara logika, orang mana yang mau kehidupan paling pribadinya di-expose ke publik?logika akan menjawab tidak ada, kecuali orang yang sudah kehilangan rasa malunya. Jika kita simak, acara reality show ini tidak akan jauh dari cerita pertengkaran, perselingkuhan, keributan dan hal-hal pribadi lainnya. Drama sebuah keluarga yang kepala keluarganya melakukan perselingkuhan, cerita anak muda labil yang pasangan hidupnya melakukan perselingkuhan sudah terlalu sering diangkat. Kadang hati kecil ini bertanya, apa cerita ini tidak direkayasa untuk menarik penonton?

Rasa malu adalah sebagian dari iman”. Kalau kita perhatikan, mereka tidak malu untuk menceritakan kisah hidup mereka kepada pihak reality show untuk kemudian ditayangkan di televisi. Apakah ini tanda-tanda melemahnya iman?wallahu’alam. Akan tetapi sebagian masyarakat bisa menilai sendiri. Apakah tidak ada bentuk acara lain yang lebih berbobot?

Ada lagi tayangan yang bergenre keusilan. Sebagai contoh, artis kita akan dipertandingkan dengan ibunya untuk suatu lomba tertentu. Ternyata lomba tersebut banyak yang melanggar norma terhadap orang tua. Ada juga yang mengusili temannya dengan sesuatu yang ia takuti sehingga temannya sampai histeris ketakutan, tetapi terus saja diusili. Inilah bentuk kezaliman terhadap sesama walaupun kadang tidak disadari. Inikah yang disebut menghibur?bisa jadi, tapi yang pasti tidak mendidik.

Tapi tidak semua tayangan reality show buruk, ada sebagian yang bernilai positif dan mengasah empati. Misal saja tanyangan Tolong, dalam tayangan tersebut digambarkan keadaan masyarakat kita yang kurang rasa empatinya untuk menolong sesama. Akan tetapi, masih ada orang yang bersedia menolong untuk kemudian diberi hadiah, ini sebagai bentuk penghargaan atas rasa empatinya.

Musik

Coba saja menyetel televisi sekitar pukul 09.00 pagi menuju siang, tidak banyak berbeda tayangan di stasiun televisi yang satu dengan yang lain. Semuanya berisik dengan acara musik, tidak ada ketenangan yang dirasakan. Perhatikan juga pembawa acaranya, perempuan yang mengumbar aurat dan tidak menjaga hijab dengan laki-laki. Bercanda seolah tidak ada norma yang berlaku, pegang-pegang secara bebas dan “gratis”

Ketika salahsatu grup band tampil, penonton masuk ke panggung dengan menunjukkan gayanya. Satu orang mengangkat tangan, yang lain mengikuti. Orang yang lain menunjukkan gaya yang baru, yang lain pun mengikuti. Tidak ada hijab antara laki-laki dan perempuan, seolah mereka tidak malu dan bangga karena sudah disorot kamera. Lagu-lagu yag dibawakan pun bertema cinta. Sebuah lagu yang tidak menunjukkan makna apa-apa kecuali curahan hati saja. Inilah yang melalaikan kita.

Sinetron

Satu lagi yang mulai menunjukkan penurunan kualitas tontonan televisi. Semakin menjamurnya sinetron di berbagai stasiun televisi, bisa dilihat dari jam terbang yang terlalu sering. Kualitas dan makna yang semakin kabur karena sudah ditayangkan beratus-beratus episode. Mengakunya sinetron islami, tetapi isi yang diberikan sangat berbeda jauh dari nilai-nilai Islam. Dengan balutan jilbab yang menawan masih bisa mengumpat orang lain, dengan baju koko yang gagah masih bisa memukul istrinya. Hal ini bisa menunjukkan citra yang tidak bagus terhadap Islam dan tanggungjawab dari persinetronan sangat besar.

Di lain cerita, sudah sering kita dengar sinetron yang mengisahkan perebutan harta warisan orang tua. Paling tidak ceritanya seputar keinginan untuk membunuh ahli waris supaya harta warisan bisa jatuh ke tangannya, klise pisaaaannn. Belum lagi tentang dugaan sinetron-sintron Indonesia yang menjiplak karya negara lain. Misal Buku Harian Nayla dan 1 Litre Of Tears (J-dorama), Siapa Takut Jatuh Cinta dan Meteor Garden (T-drama) dll.

Dunia persinetronan negara kita sudah miskin kualitas dan kosong makna. Sinetron-sinetron yang masih bertahan hanya yang diperankan oleh artis-artis yang terkenal dan “menjual” saja. Tidak peduli terhadap makna apa yang akan disampaikan, yang penting bisa meraup keuntungan maksimal. Memang tidak semuanya, tetapi yang sebagian besar sinetron tidak berkualitas sudah menutup hati masyarakat terhadap sinetron bermutu.

wallahu’alam bisshowab

2 thoughts on “Wajah Pertelevisian Kita

  1. dida

    ya… begitulah “wajahnya” pertelevisian. tapi karena pasar yang meminta, alias masih banyak juga yang nonton tv dgn konten tsb😦

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s