Antara Mimpi dan Harapan

Kunyalakan televisi di pagi ini untuk mengetahui berita terkini di Indonesia. Kupindahkan channel televisi ke acara berita yang memiliki jargon “terdepan dalam mengabarkan” itu. Kulihat dalam berita itu ada sekelompok anak muda yang berhasil mengharumkan nama kampusnya dalam bidang pendidikan, mereka mendapat juara 1 dalam lomba kontes robot.

Di channel berita yang lain, kulihat berita tentang semakin membaiknya kondisi politik di negeri ini. Kebijakan-kebijakan presiden selalu mengutamakan kepentingan rakyat. Kondisi masyarakat Indonesia pun membaik, sektor pendidikan sudah dibenahi dengan rapi sehingga sedikit sekali anak-anak yang masih berkeliaran di jalan. Kondisi ekonomi rakyat pun membaik, iklim-iklim usaha masyarakat terus tumbuh di berbagai sektor industri, dari industri kecil sampai industri raksasa.

Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, saatnya saya bersiap-siap untuk pergi kuliah. Setelah berpamitan, kutancap si bleqi sepeda motor supra hitam milikku. Saya melihat jam di lengan kiri sudah menunjukkan pukul 8.50 saat saya berhenti di persimpangan jalan dago yang kini sudah rimbun oleh pepohonan. Terasa sejuk sekali udara pagi waktu dhuha itu, tidak ada lagi pengamen bahkan pengemis yang biasa mangkal di persimpangan ini. Beda sekali ketika 5 tahun yang lalu, ketika saya berhenti di stopan lampu merah. Mungkin sudah dua kali pengamen yang menghampiri sepeda motor saya ketika itu. Namun, alhamdulillah kini sudah tidak ada lagi.

Konon kabarnya, pemprov Jawa Barat saat itu khususnya Pemkot Bandung menggalakkan program community development yang merupakan inisiasi dari kawan-kawan mahasiswa ITB. Dengan program yang sudah dijalani kurang lebih 5 tahun, alhamdulillah tujuan dari program tersebut tercapai. Keluarga yang kurang mampu sudah bisa mandiri secara finansial, mereka sudah bisa menjalankan usaha secara mandiri sehingga sangat jarang sekali terlihat orang yang mengamen bahkan meminta-minta di jalan.

Lampu stopan sudah menyala hijau, si bleqi harus saya geber lagi. Sesampainya di kampus, suasananya makin segar karena sudah ditumbuhi banyak tanaman. Lingkungannya pun bersih dari sampah, tempat-tempat sampah yang tersedia bertuliskan “sampah plastik”, “sampah kertas”, “sampah organik”, dan “sampah non-organik”. Semuanya tersusun dengan rapi.

Singkat cerita − setelah melewati jadwal kuliah yang cukup menguras pikiran hari itu − waktu di jam tanganku sudah menunjukkan pukul 3 sore. Sebelum pulang, sebaiknya menunggu sholat ashar dulu. Tidak lama kemudian, saya mendengar kang Hyang melantunkan adzan dari masjid Salman. Suaranya yang begitu khas membuat saya mudah untuk mengenalinya. Setelah beres sholat ashar, saya menuju parkiran motor untuk melanjutkan perjalanan pulang bersama si bleqi.

Cuaca memang tidak dapat diduga, perkiraan saya bahwa hari ini akan cerah ternyata meleset. Langit sudah terlihat gelap dan terasa berat karena mengantongi berton-ton air yang siap ditumpahkan ke bumi. Tidak lama kemudian, gerimis mulai menetes di kepalaku. Saya bergegas untuk membuka jok si bleqi untuk mengambil jas hujan biru yang sudah agak sobek dan celana anti air.

Setelah memakai pakaian “tempur” dan memperlihatkan STNK kepada petugas parkir, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar. Saya khawatir karena kondisi perjalanan akan lebih beresiko ditambah lagi lampu si bleqi yang mati. Memang kondisi jalanan pada saat hujan akan menjadi (lebih) macet. Sesampainya di persimpangan jalan dago, lebih tepatnya di bawah jembatan Pasupati banyak pengendara sepeda motor yang berteduh dan ini yang membuat jalanan semakin macet.

Hujan ini terasa begitu menyeramkan, pohon-pohon besar di depan mataku mulai terlihat kerapuhannya. Banyak ranting yang berjatuhan dan menimpa rumah. Namun, ketika  saya memutar pandangan ke samping, saya melihat papan iklan yang sepertinya akan roboh. Tidak lama kemudian, memang papan iklan itu roboh dan menimpa sebuah mobil. BRAAAAKK!!! Suaranya yang begitu mengagetkan ditambah lagi dengan suara petir yang menggelegar telah membuat saya terkejut.

Seketika itu juga saya terbangun dari tidur, ternyata ini hanya mimpi. Saya membayangkan Indonesia yang akan seperti di mimpi saya ini dan saya berlindung kepada Allah dari setiap keburukan yang akan menimpa saya dan bangsa Indonesia.

One thought on “Antara Mimpi dan Harapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s