Lampu Merah Budaya Konsumtif

Kalau kita termasuk tipe orang yang gemar berbelanja atau sering membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan tetapi karena keinginan, karena tergoda iklan yang menggoda lantas membuat kita “gatal” jika tidak membelinya, inilah yang disebut penyakit konsumtif. Bayangkan, tadinya kita sudah memiliki sepatu yang masih layak dipakai untuk kuliah dan jalan-jalan tetapi kita masih bernafsu untuk membeli sepatu yang sedang diskon besar-besaran, akibatnya pengeluaran pun tak tertahankan lagi.

Itu baru soal urusan alas kaki, belum lagi urusan makanan dan minuman. Apa bedanya makan ayam goreng di warteg dengan restoran mewah?Sama-sama mengenyangkan, sama-sama memenuhi hak tubuh untuk menerima asupan makanan. Tapi harganya yang membedakan, inilah salahsatu faktor pemborosan.

Bila kita cermati, budaya konsumtif ini ada kaitannya dengan masalah gengsi. Sebagian orang rela untuk membayar lebih dari kemampuannya untuk bisa dianggap mampu, dianggap berkelas dan bisa diterima oleh lingkungannya. Food, Fashion, and Fun sudah akrab di masyarakat kita sehingga lama-kelamaan selera Barat akan mewarnai gaya hidup masyarakat Indonesia.

Beli gengsi atau karena kebutuhan?

Di balik gaya hidup konsumtif sebagian masyarakat kita mungkin saja tersimpan keinginan untuk tampil keren, ingin mendapat sanjungan, atau ingin mendapat pengakuan di masyarakat yang sifatnya hanya sementara dan melenakan. Inilah yang dimaksud gharizah al baqa (naluri mempertahankan diri).

Misalkan, sebagian masyarakat perkotaan akan lebih suka untuk makan makanan cepat saji karena mengingat rutinitas yang padat sehingga tidak mau repot-repot menunggu lama. Memilih restoran fast food yang mewah karena ingin dianggap berkelas oleh teman bisnisnya, padahal makanannya belum tentu terjamin kesehatannya. Padahal jika dilihat dari sisi ekonomi, makanan seperti itu (fast food) justru akan mengeluarkan biaya hidup yang lebih untuk kesehatan karena efek sampingnya yang baru terasa setelah sekian lama (misalnya kolesterol).

Persoalan pakaian juga tidak kalah ketinggalan, jika belum memakai pakaian buatan Polo Sport, Metro atau apapun yang bermerek terkenal, serasa belum percaya diri. Gadget yang semakin canggih terus menghiasi kehidupan sebagian masyarakat kita, diluar kebutuhannya. Mulai dari Blackberry, Ipod, Iphone atau gadget lainnya. Bahkan saya pernah melihat tukang bangunan yang dengan asyiknya memencet-mencet tombol handphone nya yang terbilang cukup mewah jika dibandingkan dengan penghasilannya.

Memang gengsi ini bersifat naluriah dan manusiawi karena masalah gengsi berkaitan langsung dengan naluri mempertahankan diri, tetapi dalam pemenuhannya harus menyesuaikan dengan aturan yang dibuat oleh Allah.

“Sesungguhnya pemboros-pemboros (muba­dzirin) itu saudaranya syaithan.” (Al Isra: 27).

Pemenuhan gengsi bukan berarti turut membudayakan konsumtif, tetapi harus dibarengi dengan pemahaman yang baik sehingga kita bisa lebih bijak dalam memutuskan sesuatu.

Memang tidak terasa ketika kita sedang berbelanja, tiba-tiba pembayaran membengkak tanpa perencanaan sebelumnya. Alangkah lebih baiknya jika uang yang kita miliki diinvestasikan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti membeli buku, diinfakkan ke masjid atau untuk membantu teman kost-an yang belum mendapat kiriman dari orangtuanya. Ingat, JANGAN DIBELIKAN ROKOK! bisa rugi dua kali, rugi keuangan dan rugi kesehatan. Membelanjakan harta atas dasar kebutuhan akan menjaga kita dari perilaku konsumtif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s