Mencari Sosok Pemimpin Sejati

Obrolan seputar kasus Century, pemakzulan sampai kasus teroris yang baru-baru ini mencuat kembali semakin meramaikan media massa kita, baik media cetak maupun elektronik. Mau tidak mau, sebagian masyarakat kita harus ikut menyimak dunia politik. Tetapi apa salah kita berbicara politik?Mahasiswa juga harus sadar politik agar kita tahu masalah-masalah yang sedang terjadi di tengah-tengah kita.

Jika selama ini, sebagian mahasiswa masih menghabiskan waktunya di depan komputer untuk bermain game maka yang didapat hanyalah kesenangan yang bersifat sementara tanpa memberi nilai edukasi lebih. Padahal, masalah kita tidak hanya sebatas menghilangkan kepenatan tetapi seluruh persoalan kehidupan lengkap dengan jawabannya.

Berbicara tentang calon pemimpin masa depan negeri ini tidak lepas dari yang namanya intrik politik. Bahkan sebetulnya sistem kehidupan yang ada sekarang lebih mengarah pada perebutan kekuasaan untuk mempertahankan individu dan partainya. Pejabat yang sudah mendapat kekuasaan akan berusaha mengembalikan “modal” kampanye nya dulu.

Memiliki pemimpin yang ideal sudah menjadi impian kita selama ini. Sebagai pemuda yang peduli terhadapa masa depan umat, memiliki harapan seperti ini tentunya merupakan hal yang wajar dan harus! Kita sudah lelah melihat kondisi bangsa yang selalu diwarnai dengan keributan, kasus Bank Century yang sudah seperti benang kusut, potret tayangan televisi kita yang semakin ngawur walaupun masih ada yang bermanfaat hanya saja jumlahnya tertutupi oleh yang ngawur tadi.

Hadirnya pemimpin yang baik memang salahsatu upaya kita menyelesaikan masalah. Tetapi masalahnya adalah seberapa pantas sistem kapitalisme ini mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara?Selama sistem kapitalisme dan demokarasi masih melekat dalam kehidupan kita maka hadirnya pemimpin sejati akan sulit terealisasikan.

Kesalahan Mungkin Pada Sistem dan/atau Operatornya

Ada dua kemungkinan ketika kita berbicara tentang sistem dan operatornya. Mungkin saja hanya salahsatu yang terdapat kesalahan atau mungkin bisa dua-duanya?

Misal saja ketika kita sedang bersepeda. Berdasarkan prosedur standar pengoperasian dan fungsinya, sepeda bisa menjadi alat transportasi yang ramah lingkungan sekaligus bisa menjadi alat olahraga yang akan menjaga stamina tubuh. Tetapi ketika kita tidak bisa menggunakannya sesuai fungsinya, sepeda pun akan cepat rusak. Misalnya saja, sepeda bukan digunakan untuk manusia tetapi digunakan untuk mengangkut barang-barang berat. Menghentikan sepeda tidak menggunakan rem tetapi dengan menabrakkannya ke trotoar tentu akan merusak sepeda karena digunakan tidak sesuai dengan prosedur dan fungsinya.

Akan tetapi, bisa saja kedua-duanya mengalami kesalahan. Rantai sepeda yang kurang oli atau bannya yang kempes atau bocor ditambah juga dengan penggunaannya yang tidak sesuai fungsinya akan membahayakan.

Sistem kapitalisme dengan alat politiknya yang bernama demokrasi adalah sistem kehidupan buatan manusia yang tentu saja memiliki kelemahan. Paradigma alias model pola sekularisme yang lahir dari sebuah proses kompromi telah memberikan suatu anggapan bahwa manusia adalah tuan bagi dirinya sendiri. Agar manusia dapat menjadi tuan bagi dirinya sendiri, maka manusia, menurut paradigma sekularisme, harus dijauhkan dari segala pengawasan pihak lain (agama/Tuhan). Hal ini tidak akan bisa terealisasi kecuali jika manusia diberikan kebebasan dan dilepaskan dari segala ikatan. Dari sini, lahirlah kemudian ide kebebasan (liberalisme) yang selanjutnya menjadi sesuatu yang inheren alias melekat erat dan udah jadi tabiat khas dalam ideologi Kapitalisme.

Dari ide kebebasan ini, pada gilirannya, lahirlah konsep demokrasi; sebuah konsep yang menghendaki manusia steril dari intervensi pengaturan pihak lain (baca: agama atau Tuhan), sekaligus menghendaki agar manusia diberikan kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri (Dicari : Pemimpin Sejati. Edisi 177/Tahun ke-5, 12 Januari 2004)

Dicari : Pemimpin Sejati

Imam al-Ghazali menuliskan:”Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.” (dalam kitabnya, al-Iqtishad fil I’tiqad hlm. 199)

Senada dengan Imam al-Ghazali, Ibnu Taimiyah juga menyatakan: “Jika kekuasaan terpisah dari agama, atau jika agama  terpisah dari kekuasaan, niscaya keadaan manusia akan rusak.” (Majmu’ul Fatawa juz 28 hlm. 394)

Nah, sejalan dengan prinsip Islam bahwa agama dan negara itu tak mungkin dipisahkan, juga tak mengherankan bila kita dapati bahwa Islam telah mewajibkan umatnya untuk mendirikan negara sebagai sarana untuk menjalankan agama secara sempurna. Negara itulah yang terkenal dengan sebutan Khilafah atau Imamah.

One thought on “Mencari Sosok Pemimpin Sejati

  1. Pesona Muslim

    Subhanallah..jika tidak keberatan bergabunglah dengan aggregasi web kami, cukup memasang banner kami, insya Allah setiap postingan terbaru dari blog ini akan muncul di aggregasi web kami..syukran

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s