Menjadi Pemuda Muslim Idaman

Berbicara tentang pemuda idaman, tentu semua pemuda ingin menjadi orang yang beruntung tersebut. Mereka pasti memiliki kriteria masing-masing untuk urusan pemuda idaman ini. Mulai dari gaya busananya yang keren, penampilan wajah yang menyejukkan, prestasi segudang, pekerjaan mapan, mobil BMW sampai isi dompet semua memiliki standarnya.

Tapi, bagaimana sebenarnya pemuda idaman itu?pemuda yang memiliki modal besarkah?atau anak seorang yang kaya raya?anak pejabat publik?

Gaya Hidup Metropolis

Gaya hidup metropolis kian kental dalam nuansa tayangan sinetron televisi negeri ini. Sebuah gaya hidup yang penganutnya gemar memanjakan kenikmatan hidup daripada dipusingkan oleh arti hidup itu sendiri. Lebih suka gaya daripada makna sehingga tidak jarang tayangan sinetron yang mengusung penampilan fisik dari pemain sinetronnya.

Di sepanjang tayangan, tidak jarang hadir perempuan-perempuan yang ditampilkan berlenggak-lenggok dengan pakaian minim, sok-sok manja, dan menggoda. Relevansi antara sinetron yang diusung dan gaya artis sinetronnya sering tidak serasi. Artis-artisnya mengandalkan fisiknya untuk menjual rating sinetron tersebut.

Mobil-mobil mewah dan gadget canggih pun sering menjadi pajangan, sangat bertolak belakang dengan kondisi masyarakat yang menjadi penonton sejati. Tidak jarang masyarakat yang menonton tayangan seperti itu terbawa pengaruhnya. Bisa kita lihat dari kehidupan masyarakat kita, anak SD sudah diberi handphone, anak SMP sudah diberi kendaraan bermotor padahal belum memiliki SIM. Inilah tuntutan lingkungan yang tidak sehat, tayangan televisi yang tidak sehat telah menularkan virus-virus kemunduran mental.

Pemuda Idaman Versi Hedonis

Penayangan sinteron-sinteron yang tidak bermutu makin menggiring masyarakatnya ke arah budaya hedonis dan permissive yang berasal dair budaya Barat. Budaya hedonis menyeret masyarakat ke dalam kehidupan yang bersifat duniawi semata. Sehingga berkembang perilaku keserbabolehan (permissive) dalam berpikir dan bertindak demi meraih predikat konglomerat yang hidup serba glamour dan mampu menyalurkan hawa nafsunya.

Selain gaya hidup mewah yang identik dengan gaya hidup metropolis, kaum hedonis juga punya standar sendiri dalam menilai manusia. Mereka menilai derajat manusia berdasarkan penampilan fisik dengan segala aksesorisnya semata. Kaum hedonis seolah mengelompokkan pemuda ke dalam dua kategori, with ‘N’ or without ‘N’. pemuda with ‘N’ artinya pemuda keren yang selalu punya nilai lebih dalam berpenampilan. Sementara pemuda without ‘N’ berarti pemuda kere alias pemuda yang nilainya minus semua dalam berpenampilan.

Pepatah menyebutkan bahwa “don’t judge the book by its cover”, jangan pernah menilai orang dengan penampilan fisiknya saja. Siapa tahu dugaan kita salah sehingga prasangka yang kita lontarkan mengandung dosa.

Jika kita lihat pergaulan sebagian anak-anak remaja sekarang, tangannya tidak jauh dari batangan yang mengepulkan asap (rokok), dikiranya itulah pemuda yang mengikuti trend dan pemuda yang gaul. Pulang sekolah selalu diisi dengan nongkrong-nongkrong di warung atau kios, dikiranya itulah pemuda masa kini. Sayang sekali jika masa remaja yang merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan digunakan untuk hal yang sia-sia. Masih banyak harapan yang ditumpukan pada para pemuda karena pemuda (pelajar) adalah generasi penerus bangsa.

Pemuda Idaman Versi Islam

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. al-Hujurât [49]: 13)

Islam tidak melarang juga pemuda muslim untuk berpenampilan keren, karena Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan selama masih dalam koridor yang benar. Tetapi boleh bukan berarti harus, kita juga dituntut untuk cerdas dalam arti mampu menjadikan Islam sebagai standar dalam berpikir dan berbuat. Seperti para sahabat Rasulullah saw yang juga banyak termasuk kategori pemuda muslim idaman.

Contohnya Mushab bin Umair, seorang pemuda muslim yang jadi duta pertama guna membuka dakwah pertama kalinya di Madinah. Beliau dibesarkan di tengah keluarga quraisy terkemuka. Wajahnya tampan, hidupnya mewah, serba kecukupan, dan selalu menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan. Wajar saja kalau beliau menjadi buah bibir gadis-gadis Mekkah. Beliau memang keren,. tapi lebih keren lagi ketika beliau meninggalkan kehidupannya yang glamour agar bisa memeluk Islam. Sampai Rasulullah saw. berkata: “Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orangtuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya.”

Selain Mushab, ada sahabat Ali bin Abi Thalib r. a. Beliau termasuk salah satu khulafaur Rasyidin. Di usianya yang sangat muda (8 tahun) dia sudah masuk Islam. Bahkan berani menghadapi bahaya dengan menggantikan posisi tidur Rasulullah saw. yang akan dibunuh orang-orang kafir saat peristiwa hijrah. Dan masih banyak sahabat Rasulullah saw. yang layak disebut pemuda muslim idaman.

Menjadi pemuda muslim idaman itu tidak perlu menyusahkan diri sendiri dengan kehidupan yang serba glamour atau menjadi orang lain untuk bisa diakui publik. Menjadi pemuda muslim idaman itu yang penting bisa menjadi diri sendiri dengan selalu meningkatkan keimanan, ilmu, dan wawasan kita sehingga kita selalu siap dengan tantangan yang terus menghadang. Walaupun tantangan menghadang tetap kita hadapi dengan riang untuk mendapatkan hasil yang gemilang.

One thought on “Menjadi Pemuda Muslim Idaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s