Dalam Dekapan Ukhuwah

Judulnya terinspirasi dari buku karya Salim A. Fillah

Seperti kata pepatah, mencari 1000 musuh lebih mudah daripada mecari satu orang sahabat. Mencari musuh bisa disebabkan oleh hal-hal yang sepele, misalnya menghina fisik saudara kita yang memiliki keterbatasan. Akan tetapi, mencari seorang sahabat butuh waktu untuk beradaptasi dalam rangka mengenali karakter dan kebiasaannya, bahkan ketika kita sudah mendapatkanya sekalipun adakalanya kita sulit menjaga hubungan itu supaya tetap harmonis.

Bebicara tentang ukhuwah islamiyyah (persaudaraan Islam), kita jadi teringat kembali bahwa harga sebuah persaudaraan itu mahal, tidak bisa dibeli dengan uang. Bayangkan jika kita hidup sendiri, selain kesepian kita juga tidak akan memiliki “reminder” ketika kita berbuat kesalahan, ini berarti membiarkan hidup kita berjalan tanpa nasihat dari seorang sahabat. Padahal, nasihat-nasihat itu akan sangat bermanfaat dalam kehidupan kita.

Contoh seperti ini bisa dirasakan oleh mereka yang baru masuk ke dalam lingkungan yang baru. Kondisi sebelumnya yang terbiasa dengan banyak teman untuk mengobrol, berbagi cerita, dan berbagi kelu-kesah harus tersingkirkan sejenak ketika memasuki lingkungan pergaulan yang baru. Ini membuktikan bahwa untuk membangun hubungan dengan orang-orang baru itu tidak mudah, perlu waktu untuk beradaptasi. Hal ini menyadarkan kita juga bahwa persaudaraan dalam ikatan Islam tidak akan tergantikan dengan kemewahan harta karena ukhuwah Islamiyyah itu mahal harganya.

Ketika kita dihadapkan dengan kondisi bangsa kita kini, ketika beban kehidupan kian menghimpit, ketika untuk mendapatkan kenikmatan dan kekuasaan harus dilalui dengan sikut kanan sikut kiri, di saat itu pula Ukhuwah Islamiyyah terus mengalami degradasi. Bersaing boleh-boleh saja, mengejar cita-cita dan impian juga diharuskan, tapi apalah artinya kesuksesan jika tidak memiliki sahabat tempat kita berbagi kebahagiaan.

Bagaimana memulainya?

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S al-Hujurât [49]: 10)

Saudara itu bukan semata satu keturunan atau keluarga dekat, tetapi seluruh kaum muslimin di muka bumi ini adalah saudara kita. Walaupun terbatas oleh jarak dan waktu, tetapi dekat di hati. Jauh di mata dekat di hati.

“Tak kenal maka tak sayang.” Bila kita sudah mengenal seseorang, biasanya kita akan leluasa untuk berbagi dan bercanda. Sekarang ini sudah banyak fasilitas yang mendukung kita untuk bisa memperluas jaringan pertemanan. Facebook misalnya, bila kita belum sempat untuk menyapa teman kita di kampus, bisa diakali melalui media ini.

Dari seringnya kita berinteraksi akan muncul perasaan tahu sama tahu, kita akan semakin mengenal karakter teman-teman kita, semakin hapal dengan kebiasaannya, paham dengan kekurangannya, menerima apa adanya.

Merawat Ukhuwah

Seperti kata pejuang kita terdahulu, “Mempertahankan itu lebih berat ketimbang merebut.” Orang yang selalu bersama tidak mungkin akan selalu sepaham dan sejalan pemikirannya. Bukan hal yang tak mungkin akan muncul gesekan-gesekan yang akan memperkeruh suasana dan menggoyahkan ukhuwah.

Berbeda pendapat itu pasti, tapi perbedaan pendapat itu harus kita berdayakan untuk mencapai satu tujuan bersama. Konflik pasti berdatangan, tetapi bisa kita manfaatkan untuk pendewasaan diri, konflik bukanlah ancaman tapi tantangan.

Maka, jika ada di antara kita, hanya karena berbeda partai, hanya karena berbeda pandangan politik, atau hanya karena perbedaan calon pemimpin yang akan kita pilih, lalu kita memasang kuda-kuda dan siap perang, bahkan banyak kejadian saling mengumbar fitnah. Sekali lagi, di mana praktik ukhuwah islamiyah yang selama ini dikaji? Apa tidak ada kesempatan untuk bicara menyamakan persepsi?

Sabda Rasulullah saw : “Jangan kamu sa­ling dengki dan iri, dan jangan pula meng­ungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan, serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, dengan tidak mendzaliminya, tidak mengecewakannya, tidak membohonginya, dan tidak merendahkannya. Letak takwa ada di sini (Nabi saw menunjuk ke dada beliau, sampai diulang tiga kali). Seorang patut dinilai buruk bila merendahkan sudaranya yang muslim. Seorang muslim haram menumpahkan darah, merampas harta, dan menodai kehormatan muslim lainnya” (HR Muslim)

4 thoughts on “Dalam Dekapan Ukhuwah

  1. hijrayantisari

    ukhuwah…kata yang seringan kapas terucap….tetapi sangat susah melihat torehan kanvas kata itu diatas lukisan realita…karena untuk menorehkan warna yang indah butuh kerja dan keahlian…bukan hanya kata…ukhuwah adalah kata kerja

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s