Menata Waktu, Mendatangkan Manfaat

Tempat nongkrong di pinggir jalan menjadi lokasi yang paling banyak digandrungi oleh para pemuda untuk sekedar berkumpul dengan teman-temannya. Selain tidak memerlukan ongkos, bisa bersantai, dan sekalian mencoba lagu-lagu baru yang telah diciptakannya kemarin sore.

Kian hari, semakin banyak pemuda yang nongkrong tanpa melakukan apa-apa. Kadang kita mengabaikan celah-celah waktu yang sebenarnya bisa kita manfaatkan dengan baik. Ketika kita akan berangkat kuliah pagi-pagi, kita mungkin saja dihadapkan dengan kondisi jalanan yang macet. Situasi macet tentu saja akan membuat waktu menjadi tidak efektif. Padahal kita bisa mengisinya dengan mendengarkan murottal Al-Quran dari MP3 kesayangan kita.

Ketika kita membuat janji dengan teman-teman kita untuk mengadakan pertemuan atau rapat, ternyata teman-teman kita datang terlambat sehingga membuat kita harus menunggu agak lama dan tentu saja akan membuang-buang waktu. Padahal kita bisa mengisinya dengan membaca buku atau koran yang baru saja kita beli.

Ketika kita telah sampai di rumah atau kost-an, terkadang kita terlalu asyik untuk menonton tayangan bola, menonton acara gosip atau tontonan yang tidak menjadi tuntunan sehingga kita dibuat lupa waktu. Menunggu-nunggu untuk menonton bola di tengah malam, padahal besoknya harus beraktivitas pagi-pagi. Padahal kita bisa mengisinya dengan menonton berita untuk mengetahui kabar terbaru atau menulis untuk dipublikasikan.

Fenomena di atas hanya sebagian kecil kegiatan yang sering kita kerjakan tetapi miskin manfaatnya. Kita selalu ada waktu untuk bermain, bersantai-santai, atau untuk sekedar jalan-jalan melihat barang-barang yang sedang discount. Tapi kadang kita merasa berat untuk meluangkan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat. Ketika kita harus mengerjakan sesuatu, kadang terlontar kata-kata, “saya tidak punya waktu luang.” Sebenarnya kita yang memang tidak punya waktu luang atau tidak mau meluangkan waktu?

Waktu bagi seorang muslim

Kadang kita sering merasa bahwa waktu terlalu cepat berlalu ketika kita sedang dalam keadaan bahagia. Serasa baru kemarin saya lulus SMP, sekarang sudah lulus SMA. Serasa baru kemarin saya pergi ke luar negeri, sekarang akan pergi ke luar negeri lagi.

Namun, kita sering merasa bahwa waktu berjalan amat sangat lambat ketika kita sedang dalam keadaan susah, berlarut-larut dalam kesedihan, paahal itu semua hanya halusinasi perasaan saja. Satu hari tetap 24 jam, satu jam tetap 60 menit.

Waktu ibarat kereta yang tidak lama berhenti dan kemudian jalan lagi. Ketika kita sudah tertinggal rombongan, maka selamanya akan tertinggal tidak bisa kembali. Begitu pentingnya arti waktu walaupun hanya sedetik. Oleh karena itu, Rasulullah saw. mengingatkan kita melalui sabdanya: “Jika kalian bangun di pagi hari, janganlah mengharap akan (hidup) sampai sore; dan jika berada di waktu sore jangan berharap akan (hidup) sampai besok pagi. Pergunakan masa sehatmu untuk (mempersiapkan) masa sakit, dan masa hidup untuk (menyiapkan bekal) kematian, seakan-akan kalian tidak tahu nama kalian besok pagi.” (HR Bukhari)

Banyak yang bisa kita kerjakan untuk memanfaatkan waktu. Saking banyaknya kadang kita bingung mana dulu yang harus diutamakan. Sebagai seorang muslim, tentu kegiatan yang kaya manfaat dunia akhirat harus menjadi prioritas. Mumpung masih muda yang full tenaga dan masih menggelora semangatnya. Supaya tiap hari ada peningkatan amal ibadah kita, bisa kita dapatkan kalau kita mau terus belajar. Baik wawasan Islam atau pun ilmu umum. Isi hari-hari kita dengan berlomba-lomba dalam kebaikan (fasthabiqul khairat).

Berguru pada ulama

Seperti dalam kisah Muhammad bin Salam, guru dari Imam Bukhari. Suatu kali ia asyik mendengar pelajaran dari gurunya, tiba-tiba pensil yang sedang dipakainya patah. Kontan ia langsung berteriak “Siapa yang menjual pensil, aku akan membayarnya seharga satu dinar (mata uang berbentuk koin seberat 4,25 gr emas)!” Kalau dihitung-hitung, misal harga 1 gr emas = Rp 80 ribu, beliau berani membayar Rp 340 ribu untuk sebuah pensil agar tidak ketinggalan pelajaran.

Tidak salah jika kisah para ulama itu banyak memberi kita pelajaran berharga tentang waktu. Terbukti, penghargaan mereka terhadap waktu turut menjadikannya ulama terkemuka di dunia Islam. Tidak heran pula jika mereka mampu menelurkan karya-karya yang spektakuler. Ambil contoh, tafsir buah tangan Abu Bakar Ibn al-Arabi berjudul Anwarul Fajr yang tebalnya hingga 80.000 halaman.

Membuat hidup menjadi lebih hidup

Tidak terbayang sudah berapa banyak waktu yang sudah kita sia-siakan. Padahal masih banyak ilmu yang bisa kita dapat dan keterampilan yang bisa kita asahm jika kita mau meluangkan waktu untuk membaca buku, belajar menulis, mengikuti kajian keagamaan, shaum sunat, atau kegiatan bermanfaat lainnya.

Dari kegiatan yang hanya sekedar pelampiasan, kita ubah menjadi kegiatan yang memilki nilai manfaat bagi orang lain. Dari sekedar hobi menulis buku harian, kita kembangkan menjadi tulisan yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Dari sekedar hobi membaca buku, kita kembangkan menjadi bisnis yang bisa menjadi sarana pengembangan ilmu bagi orang lain. Tentu kita niatkan semuanya karena Allah.

Untuk mengetahui nilai SATU TAHUN,
tanyakan kepada seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikannya.
Untuk mengetahui nilai SATU BULAN,
tanyakan kepada seorang ibu yang melahirkan bayi prematur.
Untuk mengetahui nilai SATU MINGGU,
tanyakan kepada seorang editor majalah mingguan.
Untuk mengetahui nilai SATU HARI,
tanyakan kepada seorang buruh harian yang punya enam anak untuk diberi makan.
Untuk mengetahui nilai SATU JAM,
tanyakan kepada seorang sahabat yang sedang menantikan kawannya untuk rapat.
Untuk mengetahui nilai SATU MENIT,
tanyakan kepada seseorang yang ketinggalan kereta.
Untuk mengetahui nilai SATU DETIK,
tanyakan kepada seseorang yang selamat dari kecelakaan.
Untuk mengetahui nilai SATU MILIDETIK,
tanyakan kepada seseorang yang memenangkan medali di Olimpiade

One thought on “Menata Waktu, Mendatangkan Manfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s