Menyikapi Sikap Malas Untuk Memunculkan Kreativitas

Dunia kini semakin diwarnai dengan alat-alat teknologi yang canggih. Dulu, ketika alat komunikasi masih berupa surat dan dikirimkan oleh burung merpati, sekarang sudah beralih menjadi Short Message Service (SMS). Dulu ketika kemana-mana harus menunggang kuda atau sapi, kini telah beralih menjadi mobil-mobil dan sepeda motor yang semakin canggih.

Ketika pertama kali diciptakan televisi, alat elektronik tersebut merupakan barang mewah bagi yang memilikinya. Semua orang ingin memilikinya untuk menunjukkan kelas ekonominya sebagai orang yang berada. Sebelum handphone merajalela, alat komunikasi masih berupa surat-surat sederhana. Ingat ketika pager sedang trend?berkirim pesan tidak perlu lagi menggunakan surat yang memakan waktu lama. Cukup mengetikkan pesan pada pager lalu mengirimnya, maka operator akan mengirim pesan kita kepada orang yang dituju.

Akan tetapi, kegunaan pager dirasa masih terbatas. Pesan yang akan dikirimkan harus singgah dulu di operator dan kemungkinan pesan pribadi kita akan terbaca oleh publik dan ini termasuk mengganggu privacy. Begitu juga halnya dengan televisi, untuk memindahkan channel kita harus beranjak dari tempat duduk untuk melangkah memindahkan channel, suatu hal yang mengganggu kenyamanan.

Pernahkah terpikir bahwa segala teknologi canggih yang ada pada saat ini, berawal dari sifat malas?Ketika kita malas untuk berjalan jauh untuk menemui teman kita, muncul ide untuk menciptakan suatu alat untuk memudahkan transportasi. Maka dari itu dibuatlah alat transportasi sederhana yang akan mempermudah kita, misalnya mobil. Dengan diciptakannya mobil, maka jarak yang jauh akan terasa lebih dekat.

Ketika kita merasa malas untuk beranjak dari tempat duduk hanya sekedar untuk memindahkan channel televisi, muncullah ide untuk mengganti channel tanpa harus beranjak dari posisi nyaman kita. Maka dari itu muncullah remote control, cukup dengan menekan tombol-tombol yang ada maka sinar inframerah akan meneruskannya ke bagian panel televisi dan channel pun berubah.

Ketika kita merasa malas untuk menuliskan surat kepada teman-teman kita dan memerlukan waktu yang lama untuk menyampaikan pesan tersebut kepada teman kita, muncullah ide untuk menulis tanpa kertas dan dapat mengirim pesan dengan cepat. Maka dari itu muncullah alat teknologi yang bisa mengirimkan  Short Message Service (SMS) dan bisa mengobrol secara langsung yang kita kenal dengan handphone. Bahkan kini handphone sudah semakin berkembang, tidak hanya untuk SMS dan menelepon saja, tapi bisa serbaguna (smartphone).

Kadang kita tidak menyadari bahwa ternyata rasa malas yang hinggap dalam diri kita, bisa dialirkan untuk mengembangkan kreativitas. Asal kreativitas yang kita ciptakan masih berada dalam koridor yang benar. Ilmu yang kita dapatkan bisa langsung diaplikasikan untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat. Setiap kita adalah unik dan dari keunikan masing-masing kita bisa memunculkan kreativitas dengan gaya masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s