Apa Jadinya Jika Pacitan Dipimpin Oleh Julia Perez?

Bangsa kita kembali digegerkan oleh proses pemilihan kepala daerah. Bukan masalah proses pencoblosannya, bukan masalah birokrasinya, tetapi ada hal yang lebih membuat bibir ini tersenyum kecut dan keningku mengerenyitkan tanda keheranan. Sejenak saya berpikir, sudah seperti inikah potret kepemimpinan di negeri kita, apakah tidak ada lagi orang yang lebih berkompeten?

Sudah marak di acara berita televisi hingga infotainment yang mengabarkan bahwa seorang artis yang dikenal dengan pakaiannya yang terlihat kekurangan bahan sehingga aurat tubuhnya yang sering dipertontonkan kepada publik, seorang artis yang lebih dikenal sebagai pemain film bergenre esek-esek berbumbu horor, seorang artis yang lebih dikenal bukan sebagai politisi, bahkan jika mendengar namanya saja pikiran masyarakat sudah terimajinasikan dengan hal-hal yang syur, astaghfirullohhal’adzim.

Dengan mengklaim diri telah didukung oleh delapan partai, membuat si artis ini malah semakin percaya diri untuk melangkah menjadi calon Bupati Pacitan. Seperti yang saya kutip dari berita harian, “Saya sudah didukung oleh delapan partai,” ungkapnya tegas. Inikah realita potret dari kepemimpinan di Indonesia?Apa yang dicari dari suatu posisi pemimpin?Apakah popularitas yang akan menaikkan harga jual di masyarakat?Apakah jabatan yang akan mendatangkan fasilitas mewah?

Amanah kepemimpinan itu tidak main-main pertanggungjawabanya, saya jadi teringat sebuah hadits dari Rasulullah saw, “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari dan Muslim). Apa mudah untuk menjadi pemimpin?Menjadi seorang pemimpin harus memiliki ilmu dan bisa menjadi teladan bagi yang dipimpinnya. Teladan yang seperti apa yang akan diberikan kepada pengikutnya jika selama ini masih mengumbar aurat, apa yang akan dijadikan teladan jika kita mengetikkan namanya saja di Google yang keluar adalah gambar-gambar aneh saja.

Jika kita melihat latar belakang pendidikan dan kehidupannya, masih akankah kita ikut mendukung pencalonannya? Bila sebuah amanah dijadikan sebuah komoditi untuk meraih kekuasaan atau materi (dunia), Rasulullah saw mengancam akan hancurnya sebuah bangsa. “Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Memang tidak banyak yang bisa saya lakukan selain menuliskan tulisan opini ini, berharap perbaikan datang melalui tangan orang-orang terpilih yang akan segera membenahi kebodohan-kebodohan yang terjadi di negeri kita tercinta. Tentu jika saya sendiri yang berteriak-teriak tidak akan membawa perubahan apa-apa, tetapi jika semua elemen masyarakat ikut bergerak untuk memberantas kebodohan-kebodohan yang terjadi di negeri ini maka hasilnya pun akan lebih powerful.

Sudah sebegitu parahkah jiwa kepemimpinan di Indonesia sehingga kurangnya generasi-generasi pelanjut?Tentu hal ini hanya bisa dijawab oleh diri kita sendiri karena perubahan besar berawal dari perubahan-perubahan kecil yang berawal dari diri sendiri.

One thought on “Apa Jadinya Jika Pacitan Dipimpin Oleh Julia Perez?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s