Sanjungan Adalah Teror

Saya yakin kita semua memilki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain, saya yakin setiap dari kita pernah mendapat pujian dari orang lain, baik itu pujian kekaguman, pujian basa-basi, bahkan pujian untuk menjilat. Lalu, apa yang kita rasakan ketika mendapat pujian?Senang?Boleh, tetapi jangan sampai hidung ini serasa terbang.

Sahabatku, berhati-hatilah jika kamu dipuji, sebab Ibnu Ata’illah  dalam Al-Hikam telah mengingatkan kita semua, “Apabila seorang yang beriman dipuji, maka ia malu di hadapan Allah, sebab ia seharusnya dipuji karena sifat yang tidak dilihatnya ada dalam dirinya.”

Kadang ketika kita mendapat pujian karena kelebihan atau prestasi yang kita miliki, kita merasa seperti di atas awan. Hati merasa senang dan percaya diri kembali naik. Akan tetapi, pernahkah kita merasakan setiap kali kita mendapat pujian, kita merasa yang paling hebat?Merasa kita adalah seorang yang selalu unggul di atas orang lain.

Sebenarnya jika kita merenungi nasihat dari Ibnu Ata’illah di atas, bisa saja Allah menutupi segala kekurangan dan aib kita sehingga orang lain masih melihat kebaikan yang ada pada kita. Bisa saja, orang lain memuji kita karena prestasi yang kita miliki, padahal sadarkah kita bahwa sebenarnya Allah lah yang menutup aib kita ketika kita pernah melakukan kecurangan?

Seseorang yang terbiasa dengan pujian, akan merasa dongkol ketika tidak ada orang yang menyanjungnya. Seseorang yang selalu mengharapkan pujian, akan merasa kecewa jika pujian tak kunjung datang. Seseorang akan  lebih bersemangat ketika ada orang lain yang melihat dan merasa malas ketika tidak ada yang melihat pekerjaannya.

Bila disikapi secara sehat dan proporsional, pujian bisa memotivasi kita untuk meraih pencapaian-pencapaian baru. Namun, kenyataannya, pujian justru lebih sering membuat kita lupa daratan. Semakin sering orang lain memuji, semakin besar potensi kita untuk terlena dan besar kepala.

Sahabatku, jika ada orang lain yang memuji kita hendaknya mengucap syukur kepada Allah (alhamdulillah) dan beristighfar karena siapa tahu pujian yang ditujukan kepada kita tidak sesuai dengan apa yang kita miliki. Dengan begitu, kita akan terhindar dari besar kepala dan keras hati karena kita telah menyadari bahwa sebenarnya hakikat pujian itu untuk Allah.

Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui (Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan).” HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 761

Benarlah kalau begitu apa yang sering dikatakan oleh Tukul, sanjungan adalah teror.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s