Booktainment

“Buku yang kubaca selalu memberi sayap-sayap baru, membawaku terbang ke taman-taman pengetahuan paling menawan, melintasi waktu dan peristiwa, berbagi cerita cinta, menyapa semua tokoh yang ingin kujumpai, sambil bermain di lengkung pelangi.” Abdurahman Faiz.

Kita pasti sering mendengar dengan istilah infotainment, edutainment atau isitilah lain yang diakhiri dengan kata ..tainment. Ya, istilah-istilah tadi merupakan gabungan dari dua kata yang diakhiri dengan kata entertainment yang berarti hiburan. Begitu mendengar kata hiburan, mungkin pikiran kita akan menerawang kepada televisi, radio, games, atau alat hiburan lainnya. Pernahkah terpikir untuk menjadikan buku sebagai sarana hiburan?

Budaya membaca bangsa kita termasuk kedalam kategori rendah sehingga terus tergerus oleh arus persaingan. Dua musuh utama bangsa kita adalah kebodohan dan kemiskinan. Sengaja saya menempatkan kebodohan sebelum kemiskinan karena saya menganggap bahwa karena kebodohan lah kita menjadi bangsa yang miskin. Tidak hanya miskin harta tetapi juga miskin ilmu. Tentu saja ilmu yang didapat harus diseimbangkan dengan integritas individu.

Ketika saya berkunjung ke toko buku, saya merasa begitu banyaknya ilmu yang harus kita pelajari, betapa luasnya samudra ilmu yang ada pada lembaran-lembaran buku sehingga membuat saya berandai-andai, “Andai saya memiliki kemampuan untuk membaca semua buku sekaligus, saya akan lahap semua.” Setiap kali berkunjung ke toko buku, selalu saja ingin memborong banyak buku walau akhirnya harus dibatasi oleh isi dompet.

Namun, ketika tadi saya berkunjung ke toko buku, saya begitu terkesan dengan satu keluarga yang memborong begitu banyak buku. Tahukah sahabat?Saya melihat angka 500.000-an yang tertera pada kasir. Saya begitu terkesan karena ada satu keluarga yang menjadikan buku sebagai hiburannya. Saya beranggapan bahwa membeli buku bukanlah hal yang termasuk pemborosan, tetapi bisa dikatakan investasi, ya investasi intelektual lebih tepatnya.

Cukup banyak masyarakat kita yang masih salah mengartikan hiburan yang sebenarnya. Hiburan masih dipandang sebagai suatu kegiatan hura-hura dan tidak melibatkan proses berpikir yang terlalu berat. Padahal, kita bisa menjadikan hiburan sebagai sarana untuk menambah wawasan dan intelektual, seperti berwisata ke toko buku dan membaca buku tentunya. Berwisata ke toko buku tidak harus selalu membeli, kita bisa membaca sekilas, mengenal buku-buku terbaru, dan mengetahui perkembangan dunia perbukuan.

Terinspirasi dari satu keluarga tadi, budaya membaca memang perlu dibiasakan dari lingkungan keluarga atau minimal dari diri sendiri. Begitu besar manfaat dari membaca, membaca membuat kita belajar tentang beragam cara pandang, sehingga menjadikan kita lebih bijak. Membaca membantu kita untuk menemukan banyak gagasan, membantu kita dalam berkomunikasi, menemukan orang-orang yang sama seperti kita, memperluas imajinasi positif, membuat kita tahu apa-apa yang orang lain ketahui, membuat kita terhindar dari melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan orang lain, membantu kita dalam menyelesaikan permasalahan yang susah dan menghadapi kesulitan dalam hidup, membuat kita belajar dari pribadi-pribadi istimewa sepanjang jaman, membantu kita belajar budaya berbagai bangsa dan kebudayaan di seluruh dunia, memperkaya ide ketika akan menulis, dan tentunya kita bisa menjadikan membaca sebagai suatu sarana hiburan bagi kita. Dari kebiasaan kecil ini, siapa tahu beberapa tahun mendatang kita akan menjadi bagian dari peradaban bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s