Belajar dari Bangsa Lain untuk Membangun Indonesia

Tahukah sahabat?Negara yang pernah menjajah negara kita selama 350 tahun, ternyata memiliki luas wilayah yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan Indonesia. Bahkan dengan jumlah penduduk sekitar 9 juta jiwa, seharusnya negeri “kincir angin” itu bisa kita kalahkan dalam kancah persaingan global. Sejarah telah menorehkan tinta emas kejayaan bangsa Indonesia, bukti-bukti kejayaan itu dapat kita ingat kembali melalui riwayat kerajaan-kerajaan. Kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada telah berhasil mempersatukan nusantara dan memperluas wilayah kekuasaan.

Sekarang, mari kita ingat-ingat kembali tentang sejarah penjajahan bangsa asing terhadap bangsa kita. Setelah Belanda tersingkir, bangsa Jepang mulai menjajah bangsa kita. Tidak lama memang, hanya 3,5 tahun dan kemudian bangsa Jepang dibom atom oleh sekutu sehingga mereka (bangsa Jepang) harus angkat kaki juga dari Indonesia. Banyak pihak meyakini bahwa peristiwa itu adalah akhir dari kejayaan Jepang. Namun, kenyataan berkata lain. Beberapa tahun kemudian ternyata Jepang bangkit dari keterpurukan dan berubah menjadi negara kuat dengan kemajuan industri melebihi kekuatan militernya pada perang dunia kedua. Sejak saat itulah cikal-bakal bangkitnya bangsa Jepang hingga kini. Padahal, bangsa Indonesia lebih dulu merdeka ketimbang mereka. Semangat Bushido, yaitu nilai-nilai tradisional yang menekankan kehormatan, harga diri, disiplin, kejujuran, loyalitas, dan kerja keras tetap dipegang teguh dalam membangun negara Jepang modern.

Sekarang, coba kita tengok negeri jiran Malaysia. Negara yang dengan percaya dirinya mengatakan “Malaysia Trully Asia” ini telah mengidentitaskan dirinya seolah-olah merupakan negeri yang mewakili Asia dalam sektor pariwisata. Padahal, Indonesia memiliki lebih banyak keindahan alam yang bisa kita banggakan kepada dunia. Kita memiliki pantai Sanur Bali yang tidak dimiliki Malaysia, kita memiliki Taman Laut Bunaken yang lagi-lagi Malaysia tidak punya. Bahkan Koes Plus pun mendendangkan keindahan alam Indonesia ini kedalam sebuah lagu, “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Akan tetapi, pada kenyatannya Indonesia masih belum mengoptimalkan potensi wisata yang ada.

Ada lagi negara yang lebih baik dari Malaysia, yaitu Singapura. Negara yang memiliki luas wilayah kurang lebih sama seperti Jakarta ini tidak memiliki potensi di bidang sumber daya alam. Namun, pada kenyataannya Singapura berhasil mencapai tingkat ekspor empat kali lebih banyak dari Indonesia. Sungguh ironi sekali, mereka tidak memiliki kebun teh tetapi menjadi pengekspor teh, mereka tidak memiliki bahan alam seperti di Indonesia tetapi mereka bisa lebih maju dari Indonesia. Mereka pun bisa menambah harga jual suatu produk karena mereka telah mengemasnya menjadi barang jadi, sedangkan Indonesia masih terlalu sering mengekspor barang dalam bentuk bahan mentah sehingga tidak memiliki harga jual yang tinggi.

Apa yang menjadi penyebab ketertinggalan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara tadi?Padahal secara geografis, kekayaan alam, sumber daya manusia, dan sumber daya alam, Indonesia memiliki nilai lebih. Ya, mentalitas lah jawabannya. Itulah sebuah kata kunci antara bangsa-bangsa yang mampu bangkit dari keterpurukan dengan bangsa yang hanya diam di tempat. Mentalitas pemenang, mentalitas juara, mentalitas yang konstruktif inilah yang akan menjadi nilai tambah bagi suatu bangsa.

Ketertinggalan bangsa Indonesia dengan negara-negara lain tidak perlu membuat kita pesimis. Pekerjaan kita jangan hanya meratapi nasib dan mengharapkan perubahan yang instant dari langit. Akan tetapi, seharusnya kita mengevaluasi dan bertindak cepat bagaimana agar ke depannya, kita dan anak cucu kita kelak akan menjadi bagian dari sejarah perubahan bangsa ke arah yang lebih baik, bagaimana agar anak cucu kita tidak mewarisi mentalitas yang buruk ini.

Berdasarkan fakta ini, tidak ada salahnya kita belajar dari kesuksesan bangsa lain. Tidak perlu merasa gengsi karena mencontoh usaha-usaha yang telah dilakukan. Semua ini semata-mata hanya untuk memperbaiki bangsa dan  untuk membangun Indonesia. Akhirnya, kejayaan dan kesuksesan sebuah negara tidak ditentukan oleh melimpahnya sumber daya alam yang dimiliki. Tidak juga ditentukan oleh luas wilayah yang dimiliki. Bukan juga karena faktor panorama alam. Memang, kesemua itu akan menjadi nilai tambah bagi suatu bangsa. Akan tetapi, kejayaan dan kesuksesan bangsa tidak akan tercapai jika tidak diiringi dengan mentalitas yang baik. Apakah memiliki mentalitas pemenang ataukah pecundang?Apakah memiliki mentalitas pelopor atau pengikut?Dengan mentalitas yang baik, tentu akan membawa suatu bangsa ke titik kejayaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s