Habis Gelap Terbitlah Terang?

Semboyan Door Duisternis tot Licht alias Habis Gelap Terbitlah Terang menjadi begitu bergema bagi kalangan perempuan di negeri ini. Apalagi ketika memasuki pertengahan bulan April, 21 April tepatnya. Simbol semangat dari perjuangan pembebasan kaum wanita. Tahukah sahabat?Dengan semboyan seperti ini—penerjemahnya orang Nasrani (Armijn Pane), artinya menjadi bias. Perjuangan Kartini untuk mengajak kaumnya bangkit, masih ada kemungkinan untuk ‘dimo­difikasi’ sesuai keinginan si pe­nulis sejarah. Bisa kita lihat sekarang-sekarang ini, ‘Kartini-Kartini’ kontemporer menyerap mak­na perjuangan RA Kartini se­batas perjuang­an hak-hak wa­nita karena waktu itu wani­ta ‘dijajah’ pria, seperti dalam lagu Sabda Alam, “Wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu..”

Dalam masalah pendidikan, mi­salnya, RA Kartini sudah jelas memper­juangkan agar wanita bisa mendapat hak yang sama dengan laki-laki. Sayangnya, kini cita-cita perjuangan Kartini akhirnya diperluas dengan peran wanita yang lebih bebas dan luas di luar rumah. Bahkan, katanya atas nama emansipasi, kaum wanita mulai mengambil ‘jatah’ peran kaum pria. Bisa kita lihat seperti sekarang ini, wanita yang jadi hansip, satpam, atau menjadi tukang ojek.

Sedikit tentang perjuangan RA Kartini, Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, dalam bukunya Menemukan Sejarah (hlm. 183), menuliskan komentar Kartini, “Sekarang ini kami tiada mencari penghibur hati pada manusia, kami berpegang seteguh-teguhnya di tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun (jahiliyah) menjadi terang (cahaya iman Islam), dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi.” Dijelaskan pula bahwa kata-kata Habis Gelap Terbitlah Terang terpengaruh cahaya al-Quran yang menerangi lubuk hatinya; Minazh zhulumati ilan nur (dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya Islam).

Nah, itu terjadi saat beliau mengalami kebingungan setelah melakukan korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di luar negeri (Belanda). Bercerita tentang apa saja. Terma­suk tentang agama. Jadi, tidak hanya berbicara tentang emansipasi saja. Ternyata kalau dipiki-pikir, perjuangan RA Kartini, paling tidak menurut pengarang buku Menemukan Sejarah, masih ada kaitannya dengan pergerakan kebangkitan, yang bernuan­sa Islam. Bukan kesimpulan akhir memang karena Kartini juga konon kabarnya baru sebatas proses berpikir ke arah Islam. Itu juga harus diakui sebagai prestasi tersendiri bagi seorang wanita yang hidup di tengah kehidupan bangsawan dan di masa penjajahan. Akan tetapi, Allah mengambil nyawa Kartini di usia 25 tahun.

Tentu akan menjadi suatu ketidak-adilan jika kita selalu menghubungkan perjuangan RA Kartini sebatas emansipasi wanita saja. Sebab, banyak sisi kehidupan beragama beliau yang tidak tergali (atau belum tergali) para penulis sejarah pada umumnya. Bahkan terkesan ada pemaksaan sembo­yan Door Duisternis tot Licht hanya dihu­bungkan dengan pembebasan kaum wanita dari ‘penjajajan’ kaum pria.

One thought on “Habis Gelap Terbitlah Terang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s