Kelapangan Hati

Suatu ketika datanglah seorang pemuda kepada ibunya, kemudian pemuda tadi menceritakan keluh kesah yang dialaminya. Ibunya hanya terdiam seraya memberikan senyum yang menyejukkan. Belum selesai pemuda tadi bercerita, ibunya beranjak ke dapur untuk mengambilkan garam dan gelas berisi air kemudian diaduknya perlahan tetapi si pemuda tadi tidak mengetahui bahwa air itu bercampur garam.

Coba minum ini dulu, nak. Lalu katakan pada ibu bagaimana rasanya?” Ucap ramah sang ibu.

Asin sekali, bu. Apa ibu salah memberikan gula?” jawab pemuda tadi sembari mengerenyitkan dahi.

Ibunya hanya tersenyum bijak tanda memaklumi anaknya. Kemudian, ibu tadi mengajak sang pemuda ke tepian danau yang tidak jauh dari rumahnya. Segenggam garam yang dibawa sang ibu tadi ditaburkannya ke dalam danau, kemudian sang ibu mengaduknya dengan ranting pohon.

Coba sekarang kau minum air dari danau ini, nak.Tidak apa-apa, airnya bersih. Katakan pada ibu bagaimana rasanya?” Ucap ramah sang ibu.

Segar sekali, bu. Tidak terasa asin, padahal ibu sudah mencampurnya dengan garam.” Jawab pemuda.

Sang ibu dengan senyum bijak menepuk-nepuk pundak anaknya. Kemudian mereka duduk di tepian danau dengan saling berhadap-hadapan.

Anakku, ketahuilah. Garam yang ibu taburkan sama banyaknya, tak lebih dan tak kurang. Akan tetapi, rasa asin yang kamu rasakan akan sangat bergantung dari wadah yang kamu miliki. Sama halnya dengan masalah yang menimpa kita, cara kita menyikapi masalah tergantung dari wadah yang kita miliki. Hatimu adalah wadah itu, perasaanmu adalah tempat itu, qolbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadikanlah hatimu seluas danau tadi yang mampu menjaga dirinya tetap segar walaupun sudah ditaburi masalah.”

Permasalahan apapun yang kita hadapi, kesulitan apapun yang menghampiri, ibarat garam dalam danau hati kita. Jika kita menampung masalah dalam keluasan danau hati kita, kelak kita pun akan mudah memecahkannya dan tetap bisa menjaga kesegaran hati kita. Sebaliknya, jika kita menghadapi masalah dengan hati yang sempit, pikiran yang sempit, berpandangan negatif justru masalah akan menjadi besar karena kesempitan hati kita sendiri lah yang mempersulit itu semua.

Sahabat, saat kita merasakan kesulitan, himpitan masalah, atau kebuntuan dalam mengerjakan TA, cara yang bisa kita lakukan adalah melapangkan hati kita untuk menerima semuanya. Seperti analogi danau tadi, walaupun sudah ditaburi garam tidak akan terasa asin karena luasnya danau mampu menetralisir rasa asin tadi.

Betapa banyak rumah yang besar tetapi terasa sempit, makan 3 kali sehari dirasa kurang, kasur empuk tidak membuat kantuk, uang banyak terasa sedikit, fasilitas mewah dirasa belum memuaskan, persoalan kecil terasa besar dan mencekik, semua itu terjadi karena hati pemiliknya demikian sempit. Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak

Ya Fattaah, Ya Fattaah Wahai Yang Maha Pembuka, Wahai Yang Memberikan Kemenangan!

Dia-lah yang membuka segala yang tertutup. Hapalan, selama masih terkunci, maka betapa pun berusaha tetap tidak teringat. Kata-kata, betapa pun sudah dirancang dan dipersiapkan, selama masih terkunci maka tidak dapat keluar dengan lancar dari mulut. Persoalan, selama masih tertutup jalan pemecahannya maka akan tetap buntu, gelap, dan pekat. Ide, usaha, rezeki, urusan, semuanya akan sulit selama belum terbuka jalan dariNya. Memperbanyak membaca Ya Fattaah, Ya Fattaah sambil berharap Allah membuka jalan-jalan yang masih tertutup akan sangat berguna. Ikhtiar mencari jalan bagaikan benih yang ditabur, doa bagaikan siraman air hujan yang menumbuhkan benih.

3 thoughts on “Kelapangan Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s