Ingin Menjadi Pemain atau Sekedar Penonton?

Dunia ini bagaikan panggung sandiwara, tidak lepas dari romantika dan problematika hidup yang harus dilalui. William Shakeasper pernah bertutur, “All the world is a stage, and all the men and women merely players.” Tentu dalam bermain sandiwara terdapat penonton dan yang pasti pemainnya.

Jika kita analogikan dalam sebuah pertandingan sepakbola, terdapat pemain yang siap untuk mengatur flow pertandingan, bisa mengatur emosi penonton melalui aksi heroiknya, atau bisa mencetak sejarah melalui gol-golnya yang spektakuler. Inilah nilai tambah bagi seorang pemain, menyusun strategi kemudian diaplikasikan di arena sebenarnya.

Sementara jika kita hanya bisa menjadi penonton, kita tidak bisa berbuat lebih untuk ikut mengatur flow pertandingan, atau mencetak sejarah melalui gol-gol yang spektakuler. Kita hanya bisa berteriak-teriak untuk menyemangati pemain, atau hanya sekedar berkomentar, bahkan jika kita melihat fenomena suporter tim sepakbola Indonesia baru-baru ini, justru dari kalangan penonton lah keributan itu kerap terjadi.

Menurut saya, posisi pemain lebih terhormat daripada penonton. Sehebat apapun penonton, dia tidak bisa menentukan permainan. Paling maksimal hanya bisa berkomentar dan mungkin akan mengumpat pemain yang dianggapnya tidak becus. Penonton dengan semangatnya berteriak, “Ayo jangan lama-lama gocek bolanya, langsung aja tembak ke gawang,” “Ah bola udah di depan gawang aja masih belum gol,” “Ah staminanya payah, ngejar pemain lawan aja kedodoran.” Akan tetapi, sekeras apapun penonton berteriak-teriak, tetap tidak akan berpengaruh terhadap jalannya pertandingan.

Tanggung jawab pemain dan penonton itu berbeda. Pemain tidak hanya sekedar membawa nama dirinya, tetapi juga membawa nama tim yang mengusungnya, bahkan harus bisa membawa timnya menjadi juara. Pemain juga harus bisa bekerjasama dengan timnya dan fokus pada tujuan, serta bisa membanggakan timnya. Sedangkan penonton hanya bisa berkomentar seolah-olah dirinya lah yang paling jago, seolah-olah dirinya bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh pemain.

Beda halnya dengan seorang pemain, dia harus berjuang mati-matian di lapangan, memeras otak untuk menyusun strategi, mengucurkan keringat, berjibaku dengan cuaca yang tidak bersahabat, hingga harus mengalami risiko cedera karena permainan yang keras. Akan tetapi, dibalik perjuangan kerasnya itu, pemain bisa berbuat lebih banyak tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk timnya.

Menjadi pemain atau penonton adalah pilihan dan setiap pilihan memiliki konsekuensi, begitulah yang sering dikatakan banyak orang. Perjuangan berat yang dilakukan tentu akan mendapat imbalan yang sebanding dengan usaha yang dilakukan. Seorang pemain akan mendapat prestise yang baik jika berhasil membawa timnya menjadi juara, bahkan bisa saja mendapat bonus tambahan dari manajemennya. Akan tetapi, jika hanya menjadi penonton, kita tidak akan mendapat imbalan lebih. Paling maksimal adalah rasa kepuasan setelah melihat bintang idolanya atau setelah puas melepas penatnya dengan berteriak-teriak.

Membaca analogi diatas, tentu harus kita refleksikan terhadap diri kita sendiri. Apakah selama ini kta hanya bisa menjadi penonton ataukah sudah menjadi pemain dalam kehidupan kita sendiri?Apakah kita hanya bisa berkomentar terhadap fenomena yang terjadi di negeri ini?Atau kah kita sudah menjadi pemain, walaupun dimulai dari hal yang kecil. Itu semua memerlukan proses agar kehidupan kita senantiasa memberikan nilai manfaat bagi orang lain, jangan hanya berkomentar lantas tidak memberikan solusi apa-apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s