Mengalirkan Ide Saat Menulis

Cukup banyak orang yang merasa sudah memiliki banyak ide di kepalanya, tetapi ketika hendak menulis seolah ide itu tersendat dan sulit untuk dituangkan kedalam sebuah tulisan. Seseorang menjadi bingung untuk memulai kalimat pertama, mungkin karena takut kalimat pertamanya itu tidak menggugah minat pembaca atau takut nanti tulisannya tidak akan disukai pembaca. Sikap seseorang yang menginginkan kesempurnaan biasanya tidak dapat mengalirkan ide secara bebas karena dalam mengeluarkan ide dituntut kehati-hatian.

Menurut pakar menulis−yang juga terkenal dengan konsep mengikat makna− Hernowo mengatakan bahwa mungkin saja ide yang dirasa sudah berkelebat di dalam kepala seseorang itu sebenarnya tidak nyata, atau lebih tepatnya tidak ada. Bagaimana mungkin seseorang yang merasa sudah memiliki banyak ide untuk menulis tetapi tidak dapat menuangkannya ke dalam sebuah tulisan, berarti memang benar bahwa ide itu sebenarnya fiktif.

Bila kita mengalami kebuntuan ide saat akan menulis, lakukanlah langkah seperti yang dikatakan oleh Stephen King, “Bila engkau tidak membaca, engkau tidak dapat menulis. Membaca adalah pusat kreatif kehiduopan seorang penulis.” Membaca dan menulis memang sudah jadi satu paket, ketika kita sudah membaca banyak buku maka kegiatan membaca yang kita lakukan akan menjadi sia-sia jika tidak kita ikat makna yang kita dapat ke dalam sebuah tulisan. Begitulah konsep mengikat makna yang diajarkan Hernowo.

Beliau juga mengajarkan prinsip untuk menulis dalam 2 ruang, yaitu ruang privat dan ruang publik. Pada awalnya, tuangkanlah ide kita secara bebas ke dalam sebuah tulisan, tidak usah takut akan aturan kebahasaan karena pada prinsip yang pertama ini kita dibebaskan untuk mengalirkan ide apa adanya, tuangkanlah segala apa yang berkelebat dalam imajinasi kita. Pada prinsip yang pertama ini juga kita dituntut untuk bisa memaksimalkan fungsi otak kanan karena pada otak kanan inilah segala imajinasi dan ide tertuang.

Setelah kita menuangkan ide ibarat air yang mengalir pada prinsip yang pertama, yaitu pada ruang privat, biarkan tulisan kita mengendap untuk beberapa saat, jangan di-publish dulu ke publik. Lalu, cobalah membaca kembali tulisan kita pada ruang privat tadi untuk kemudian kita sempurnakan dan kita lakukan self editing. Pada prinsip yang kedua, kita dituntut untuk menggunakan otak kiri kita untuk bisa menggunakan rasio dan penalaran yang logis pada saat mengedit tulisan kita pada ruang privat. Mungkin saja ide yang kita tuangkan pada ruang privat tadi masih mengandug kalimat yang belum terstruktur dengan baik atau masih mengandung penalaran yang ambigu.

Setelah kita menggunakan kedua prinsip tadi, barulah kita boleh mem-publish tulisan kita kepada publik. Perlu diingat juga, tulisan yang kita buat sebaiknya tidak menimbulkan konflik di masyarakat dan tidak menimbulkan pemahaman yang ambigu. Banyak orang yang menuntut untuk bisa menghasilkan tulisan yang berkualitas, tetapi malah tidak bisa memulai satu kalimat pun karena sikap prefeksionis tadi yang telah mengungkung idenya. Tulisan yang baik itu bukan tulisan yang menggunakan kalimat atau kata-kata yang mewah, tetapi salah satu ciri tulisan yang baik itu adalah memiliki penalaran yang baik dan tulisan yang dikatakan memiliki penalaran yang baik apabila tulisan tersebut benar-benar bening atau jernih menerangi pikiran pembacanya serta dapat menyentuh hati (emosi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s