Dosa Mengotori Hati

Tidak ada manusia yang suci dari dosa, setiap manusia pasti pernah melakukan dosa, dan sebaik-baik manusia adalah manusia yang bertobat. Apalagi pada zaman sekarang ini, ketika hitam dan putih sudah sulit untuk dibedakan, ketika kebenaran harus terkalahkan oleh setumpuk uang, dan ketika hukum sudah bisa diperdagangkan oleh para makelar.

Kiranya sulit atau bahkan tidak mungkin kita temukan orang yang tidak pernah melakukan dosa walaupun hanya sehari. Ketika kita merasa tidak pernah berbuat dosa, justru itulah dosa kita. Bersikap sombong dan merasa suci dari dosa.

Sahabat, ketika kita melakukan suatu perbuatan dosa, maka dosa itu akan memberikan satu titik hitam pada hati kita. Namun, apabila perbuatan dosa yang kita lakukan sudah terlampau banyak, maka yang tadinya hanya ternodai oleh satu titik hitam saja, kini hati kita sudah ternodai oleh banyak titik hitam yang pada akhirnya akan menjadi keruh dan jika terus dibiarkan dalam kekeruhan maka akan menjadi hati yang mati (qolbun mayyit).

Seperti sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan perbuatan dosa maka dalam hatinya akan ada noda hitam, apabila ia berhenti dari dosa itu lalu beristighfar dan bertobat maka hatinya akan bersih kembali.” (HR. Tirmidzi)

Jika kita analogikan dengan gelas yang berisi air yang bening, seseorang yang bersih hatinya akan langsung bisa mendeteksi suatu perbuatan dosa karena kotoran yang masuk ke dalam air yang masih bening akan langsung terlihat dan bisa langsung kita bersihkan. Akan tetapi, jika seseorang yang sudah terbiasa melakukan dosa dan lupa untuk beristighfar maka hatinya akan menjadi keruh dan sulit untuk menerima hikmah. Ibarat air dalam sebuah gelas yang terlanjur keruh, akan sulit untuk mendeteksi kotoran yang masuk dan sulit pula untuk dibersihkan.

Sahabat, ternyata dosa-dosa yang kita lakukan akan mengeruhkan hati kita dan menutup mata hati kita untuk bisa menangkap hikmah yang berserakan. Ilmu yang kita pelajari akan terasa sulit untuk bisa kita pahami walaupun berbagai cara sudah dilakukan. Mungkin bukan karena metode belajarnya yang salah, mungkin juga bukan karena kapasitas otak kita yang terbatas. Akan tetapi, jika kita renungkan, mungkin saja dosa-dosa kita yang telah menjadi hijab sehingga akan menjadi tabir yang menutup pintu hikmah.

Kalau begitu, benarlah apa yang dikatakan oleh guru Imam Syafi’I, “Ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang-orang yang suka berbuat maksiat.” Ibnu Qayyim Al-Jauziah pun pernah menuliskan bahwa, “Sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang diletakkan oleh Allah di dalam hati, sedangkan maksiat memadamkan cahaya tersebut.”

Sahabat, sebenarnya jika kita ingin mendeteksi apa yang menjadi penyebab kegelisahan hati kita, apa yang menjadi penyebab tidak merasa nikmatnya ibadah, janganlah serta-merta kita menyalahkan lingkungan, jangan pula gegabah untuk menyalahkan keadaan, karena bisa jadi penyebab masalah itu semua ada pada diri kita sendiri, dosa-dosa kita lah yang menjadi penyebabnya.

Oleh karena itu, Allah dengan sifat Maha Penyayang dan Maha Pengampun nya telah memberikan solusi pada kita semua. Dalam sebuah hadits qudsi, “Wahai manusia, ketika kamu berdoa kepada-Ku dan mengharapkan ampunan-Ku maka Aku akan mengampuni dosa yang ada pada kamu dan Aku tidak memerdulikan seberapa besar dosamu. Wahai manusia, seandainya dosa-dosamu itu mencapai setinggi langit, kemudian kamu memohon ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampunimu dan tidak peduli seberapa besar dosamu.” (HR. Tirmidzi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s