Pernahkah Kita Sadar?

Setiap kali melewati jalan Ganesha−apalagi setelah waktu maghrib− ada seseorang yang selalu menarik perhatian saya. Setiap beres sholat maghrib di masjid Salman, saya selalu melihat orang itu selalu ada bersama pedagang-pedagang lainnya. Awalnya, saya hanya lewat selintas saja tanpa ada keinginan untuk mengenalnya lebih jauh, lama-kelamaan saya jadi seperti pelanggan dagangannya−gorengan.

Ada yang membedakan bapak yang satu ini dengan pedagang-pedagang lainnya, tapi saya masih belum ada keinginan untuk mengenalnya lebih jauh. Hingga pada suatu saat, bapak pedagang gorengan ini tidak berdagang selama beberapa hari. Ini membuat saya bertanya dalam hati, ada apa dengan bapak ini?Apa ada gangguan kesehatan pada beliau?Saya teringat usia Bapak ini sudah bisa dibilang lanjut, belakangan saya tahu usia Bapak ini 66 tahun.

Hingga pada suatu saat, selepas maghrib itu perut saya terasa lapar, walaupun sudah saya isi dengan baso tahu sewaktu beres sholat maghrib. Akan tetapi, ketika melewati kumpulan pedagang di depan gerbang ITB, saya melihat Bapak itu lagi. Tanpa pikir panjang, saya coba menghampiri.

Setelah “mewawancarai” seadanya sambil membeli gorengannya, akhirnya saya tahu juga nama beliau. Beliau bernama Pa Udin, berasal dari Sumedang dan tinggal di belakang masjid Salman (gelap nyawang). Beliau sudah berjualan gorengan sejak tahun 1990-an. Dan yang menarik dari Bapak ini adalah beliau berdagang hingga tengah malam. Pernah saya melihat Bapak ini masih berjualan padahal jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul 01.00 dinihari. Sungguh suatu perjuangan yang patut diacungi jempol di usianya yang sudah lanjut.

Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa kadang manusia itu tidak pernah sadar akan kehidupan orang-orang kecil di sekelilingnya, padahal bisa jadi dari jasa orang kecil itulah kita bisa menjadi seseorang yang lebih baik. Tanpa sadar, kita telah banyak dibantu dari orang di sekeliling kita. Kita tidak mungkin bisa hidup sendiri, walaupun kebanyakan perasaan kita mengatakan bahwa segala keberhasilan adalah karya diri kita sendiri.

Tanpa sadar juga, keberhasilan  atau kemudahan hidup yang kita dapatkan adalah jasa orang-orang di sekeliling kita. Tidak terbayang jika tidak ada orang yang bersedia untuk menyapu jalan, tidak ada orang yang bersedia untuk menjadi cleaning service, tidak ada orang yang dengan ikhlas berjualan gorengan seperti Bapak tadi. Mungkin kita sudah kelabakan karena semua tugas harus kita selesaikan sendiri, dan pada kenyataannya, banyak dari kita yang belum bisa multitasking.

Sungguh kemajuan teknologi informasi telah membuat manusia menjadi apatis terhadap lingkungannya. Semua dianggap bisa selesai dengan dunia online, semua beres tanpa perlu susah-susah turun ke lapangan. Dunia online telah banyak mengubur interaksi sosial kita dengan sesama. Bagaikan kumpulan orang di dalam lift, walaupun dalam satu ruangan dan saling berdekatan, bahkan mungkin satu tujuan tempat tidak membuat mereka saling menegur satu sama lain. Hingga pada nantinya, perkembangan dunia informasi dikhawatirkan akan menjadikan kita manusia-manusia yang apatis terhadap kondisi di sekitar kita. Jangan sampai deh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s