Tentang Bumi Cinta

Tiga hari belakangan ini, saya sedang membaca bukunya Kang Abik−Habiburrahman El Shirazy− terbaru yang berjudul “Bumi Cinta”. Dan seperti biasa, ketika saya telah beres membaca sebuah buku, saya akan menuliskannya kembali sebagai upaya saya untuk mengikat makna yang telah saya dapatkan. Entah mengapa, setelah membaca juga bukunya Hernowo−Mengikat Makna Updatesaya seperti terbius dengan kata-kata mengikat makna. Memang benar terasa manfaatnya, kegiatan membaca yang kita lakukan tidak akan menjadi sia-sia.

Begitu melihat sampul bukunya, saya agak terheran-heran. Mengapa nama penulisnya ditulis lebih besar daripada nama judul novelnya?Inikah sebuah kekuatan figur sang penulis di mata masyarakat?Begitu mendengar namanya saja, pasti pikiran kita langsung terbayang pada tulisan-tulisannya yang selalu menggugah jiwa. Memang namanya telah menjadi suatu nilai tambah bagi karya-karyanya.

Novel ini berangkat dari perenungan Kang Abik terhadap ayat-ayat Allah Surat Al-Anfal ayat 45-47 :

Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.”

Cerita

Kali ini, kang abik menjadikan negara Rusia sebagai latar ceritanya. Berawal dari kedatangan Muhammad Ayyas di kota Moskwa, Rusia yang ditemani oleh sahabatnya ketika SMA yang bernama Devid. Devid menjelaskan kepada Ayyas bahwa kehidupan di Rusia ini adalah kehidupan yang paling bebas se-dunia. Kehidupan yang “melegalkan” prostitusi, minuman keras, dan budaya-budaya yang bertentangan dengan adat ketimuran. Seolah kebebasan itu sudah mendarah-daging bagi warga Rusia.

Maksud kedatangan Ayyas ke Moskwa adalah untuk menyelesaikan tesisnya tentang sejarah Islam di Rusia. Begitu menginjakkan kaki di Moskwa, Iman Ayyas harus diuji dengan para nonik-nonik muda Rusia yang terkenal akan kecantikannya. Tidak hanya di jalanan, bahkan di apartemennya pun paham kebebasan itu tetap berlaku. Ayyas harus se-apartemen dengan para nonik muda Moskwa−Yelena dan Linor− yang belakangan diketahui berprofesi sebagai WTS sekaligus agen Mossad (Linor). Keimanan Ayyas benar-benar diuji disini.

Tidak hanya di apartemennya, ternyata godaan wanita itu pun harus dihadapi Ayyas di kampusnya. Prof Tomskii yang seharusnya membimbing Ayyas dalam menyelesaikan tesisnya harus diganti dengan asistennya yang juga merupakan nonik muda Moskwa−Anastasia Palazzo. Prof Tomskii harus memenuhi undangan ke Timur Tengah untuk membantu penelitian di Kedutaan Timur Tengah. Dalam keberjalanannya, Anastasia Pallazzo pun masuk dalam daftar godaan wanita paling berat yang dirasakan Ayyas.

Godaan hidup Ayyas tidak hanya wanita saja, tapi juga masalah kepercayaan yang dianutnya. Ayyas tinggal se-apartemen dengan orang yang tidak memercayai Tuhan (Atheis) dan yahudi. Tentu Ayyas harus menunjukkan sikap terbaiknya sebagai seorang muslim. Ayyas pun mendapat godaan seperti yang dialami oleh nabi Yusuf ketika harus melawan gejolak hawa nafsunya dengan Zulaikha.

Hingga pada akhirnya, suatu musibah menimpa kepada Yelena−dibuang ke jalan. Ternyata Ayyaslah yang menolongnya melalui perantaraan Bibi Margareta. Dari peristiwa inilah, Yelena membuka diri terhadap kepercayaan terhadap Tuhan dan pada akhirnya mempelajari Islam. Akan tetapi, Linor masih dalam kegelapan. Ia yang didoktrin semenjak kecil sebagai darah Yahudi, menunjukkan perilaku yang makin menyimpang. Ia melakukan pembunuhan hingga merencanakan fitnah kepada Ayyas.

Hingga pada suatu ketika, Linor diminta ibunya untuk datang ke tempat tinggal ibunya di Ukraina. Selain untuk mengunjungi ibunya, alasan ia pergi ke Ukraina adalah untuk menghindar dari peristiwa yang ia rancang untuk menjebak Ayyas. Ternyata di Ukraina, ibunya menyibakkan segala rahasia yang tersembunyi sejak kecil karena takut diketahui oleh ayahnya Linor yang berdarah Yahudi kental. Ibunya menceritakan bahwa selama ini, Linor bukanlah anaknya. Sewaktu muda dulu, ibunya menjadi relawan bersama sahabatnya yang bernama Salma untuk membantu korban kekerasan Zionis di Lebanon dan Palestina. Linor adalah anak kandung dari Salma yang berkebangsaan Palestina dengan nama asli Sophie. Linor adalah nama pemberian ayah tirinya yang sudah meninggal.

Setelah melahirkan, Salma−ibu kandung Sophie (Linor)− harus tewas di tangan Zionis. Ia disiksa lalu ditembaki. Salma adalah seorang muslimah, berarti Sophie (Linor) adalah keturunan muslim juga. Kemudian Sophie dititipkan kepada Madam Ekaterina−ibu tiri Linor. Mendengar kabar seperti ini, hati Sophie terbuka. Ia menyesali dirinya telah mengikuti agen Mossad, berarti selama ini ia juga turut andil dalam penyerangan terhadap Palestina. Pada akhirnya, Sophie ini masuk Islam dan sebelumnya juga ia melihat Madam Ekaterina melakukan sholat.

Kembali ke kehidupan di Moskwa. Devid−teman lama Ayyas−datang kembali untuk mengadukan kegelisahan yang dialaminya. Ia merasa telah mendapatkan semuanya tapi tidak mendapat kebahagiaan sedikitpun. Devid mengaku muslim tapi jarang melakukan sholat, Devid terpengaruh budaya kebebasan hidup di Moskwa−ibukota Rusia. Hingga pada akhirnya, Devid bertobat dan mencoba menjalankan syariat Islam secara kaffah. Saat itu juga Devid ingin menikah untuk menjaga kesuciannya. Awalnya ia akan dinikahkan dengan adik Imam Hasan, tetapi ia merasa tidak cocok bersanding dengan bidadari. Ia teringat dosa-dosa masa lalunya. Lalu Ayyas menyarankan untuk menikahi Yelena, kemudia Devid pun bergegas ke apartemen Yelena. Yelena bersedia untuk menjadi istri Devid dan yang lebih mengharukan lagi, Yelena bersedia mengucapkan kalimat syahadat. Singkat kata, Yelena dan David menikah di masjid KBRI dengan suasana yang mengharukan.

Setelah disarankan ibunya untuk belajar Islam lebih lanjut ke Jerman, Sophie akhirnya memutuskan untuk kembali ke Moskwa dan berniat untuk mempertanyakan Ayyas tentang kesediaanya untuk mempersunting dirinya. Dengan diliputi perasaan takut ketahuan oleh agen Mossad, Sophie langsung meluncur ke Moskwa dengan melakukan penyamaran. Sophie mencari Ayyas ke apartemen lama, tapi tidak ketemu. Kemudian ia mencari ke KBRI untuk menanyakan alamat baru Ayyas. Setelah dapat alamat baru, Sophie langsung bergegas ke apartemen Ayyas dengan tetap melakukan penyamaran. Setelah sampai di apartemen Ayyas. Sophie lalu menjelaskan beberapa peristiwa yang telah mengubah hidupnya dan keyakinannya kepada Ayyas. Sophie telah memeluk Islam, Ayyas terpana. Sophie pun meminta Ayyas untuk menikahinya. Akan tetapi, Ayyas perlu mendiskusikan dengan keluarganya di Indonesia. Sophie yang kecewa lalu pergi begitu saja.

Akan tetapi, malang nasib Sophie. Agen Mossad yang telah mengincarnya, melancarkan aksinya untuk membunuh Sophie. Sophie ditembak hingga kondisinya kritis. Kemudia Ayyas berubah pikiran. Ia berjanji akan menikahinya jika dia selamat. Akan tetapi, mungkin Allah telah menyiapkan Sophie sebagai bidadari untuk Ayyas di bumi cinta-Nya yang kekal. Bidadari di surga-Nya.

Kelebihan

Novel ini merupakan novel yang bermuatan dakwah, sebagaimana digambarkan oleh tokohnya yang menjalani kehidupan yang mengusung kebebasan, tetapi ia tetap konsisten menjalankan syariat Islam. Tidak itu saja, kang Abik pun menyisipkan wawasan keislaman didalamnya, mulai dari bukti kebenaran Al-Quran, memaparkan kisah Sabra dan Sathila yang merupakan kisah pembantaian Zionis atas muslim Palestina, hingga berbicara tentang tauhid (akidah).

Kang abik pun pandai bercerita dalam hal-hal detail, seperti menggambarkan makanan (Sup bukhari, roti hitam, kentang rebus, dan makanan khas Rusia lainnya). Pembaca akan ikut dalam imajinasinya membayangkan makanan-makanan itu. Tidak hanya itu, kang abik pun pandai mendeskripsikan tempat-tempat dan perawakan manusia yang diceritakan di novel ini.

Kekurangan

Menurut saya, tokoh Ayyas ini tidak berbeda jauh dengan Fahri (tokoh dalam AAC). Hanya saja, Ayyas terkesan lebih “bebas” dari penderitaan. Sepanjang novel, tidak ada klimaks dari godaan iman Ayyas di Moskwa. Saya tidak merasakan fluktuasi emosi yang berlebihan di novel ini.

Banyak dialog yang dirasa sangat panjang dan hanya terkesan sekedar “memenuhi” cerita. Ketika  Ayyas menjadi pembicara di seminar, tampak sekali penjelasan yang panjang, begitu juga saat Ayyas berdialog dengan Anastasia Palazzo. Dialog yang panjang tadi seakan tidak relevan lagi dengan judul bab.

Plot novel terlalu datar, saya hanya merasakan fluktuasi emosi saat bab “Kaulah bayi Palestina itu” sampai bab akhir. Pada awal bab, terkesan monoton dan cerita yang ditampilkan itu-itu saja. Tidak sesuai ekspektasi saya seperti novel KCB yang tokohnya banyak mengalami berbagai cerita. Alur cerita juga dirasa kurang logis ketika Devid tiba-tiba muncul dan cepat sekali mengajak Yelena menikah. Saya merasa juga bahwa seharusnya Yelena dan Sophie ini mendapat hukuman atas tindak kejahatannya di masa lalu.

Begitu juga dengan akhir novel ini, cerita seolah menggantung. Saya tidak puas dengan akhir cerita ini. Tidak diketahui apakah Sophie meninggal atau selamat. Atau mungkin dalam filmnya nanti, dibuat ending jelas untuk novel ini?Begitu juga dengan tokoh Anastasia Palazzo, bagaimana akhir kisahnya?

2 thoughts on “Tentang Bumi Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s