Membentuk Generasi Bangsa yang Berkarakter

Barangkali bagi para penggemar sepakbola di tanah air, sudah menjadi rahasia umum maraknya berbagai peristiwa tawuran antar supporter tim masing-masing daerah. Para supporter membawa arogansinya masing-masing. Hanya saja, yang membuat saya terheran-heran, begitu polisi melakukan razia terhadap para supporter ini, tidak hanya atribut yang berhubungan dengan sepakbola saja yang mereka bawa, tapi juga mereka membawa persenjataan seolah tujuannya bukan untuk menonton sepakbola.

Tidak hanya itu saja, kalangan terpelajar pun ikut turun ke jalan menyalurkan “hasrat” kekerasannya. Mahasiswa yang mengatas-namakan idealisme pun mulai terbius sehingga akal sehatnya mulai tidak bisa berpikir rasional lagi. Begitu banyak kerugian karena menuruti hawa nafsu. Sesuatu yang seharusnya bisa diselesaikan dengan musyawarah, harus terkalahkan oleh emosi sesaat yang kerugiannya berlarut-larut.

Dr. Arief Rachman, menyebut empat penyebab utama pemicu tawuran. Pertama, berkarakter labil. Sikap pemuda/mahasiswa tersebut cepat marah dan reaktif. Bahkan emosinya tidak seimbang dengan penggunaan nalarnya, dan imannya sangat rendah. Kedua, keluarga pemuda/mahasiswa tersebut bermasalah. Bisa dibilang tidak cocok dengan perkembangan kepribadian anak, seringkali orang tua menerapkan pola asuh yang represif alias melakukan penekanan terus menerus. Ketiga, ini menyangkut manajemen sekolah/kampus. Keempat, tayangan televisi yang cenderung menyajikan sadisme, vulgarisme, dan hedonisme yang jelas-jelas sangat berpengaruh terhadap pembentukan pola pikir dan karakter. Tayangan televisi yang mengekspos kebrutalan dan kesadisan telah banyak berpengaruh bagi perkembangan penontonnya. Sebagai contoh saja, film Taxi Driver yang dibintangi Jodie Foster pada tahun 1976, yang mengisahkan tentang sopir taxi yang gila, diduga kuat memicu John Hinckley menembak Presiden Ronald Reagen.

Menurut Aristoteles, sebuah masyarakat yang budayanya tidak memerhatikan pentingnya mendidik good habits (melakukan kebiasaan berbuat baik), akan menjadi masyarakat yang terbiasa dengan kebiasaan buruk. Hati itu ibarat sebuah gelas yang diisi dengan air dan minyak, keduanya tidak bisa bercampur. Jika kita isi terus dengan kebaikan (air) maka lama-kelamaan keburukan (minyak) itu akan tumpah dari gelas, begitu pun sebaliknya.

Jika kita melihat sistem pendidikan kita, ada kesan bahwa peserta didik diajarkan untuk mengetahui dan menghafal sesuatu yang tidak perlu dilakukannya dalam tindakan nyata. Peserta didik hanya dicekoki dengan suatu hal yang bersifat teoritis, tidak diiringi dengan pembimbingan dalam prakteknya. Sehingga sejak kecil telah terdidik untuk tidak memiliki komitmen, keteguhan hati, atau motivasi kuat untuk melakukan apa yang kita tahu atau katakan, karena dengan hanya mengetahui saja sudah mendapat apresiasi (dengan nilai yang bagus).

Hal ini membuktikan bahwa aspek nurani yang membuat manusia merasa malu untuk melakukan keburukan, rasa bersalah apabila berbuat buruk, tidak berkembang secara afektif. Padahal, menurut Thomas Lickona, aspek feeling, loving, and acting the good, bisa diajarkan dan dibentuk dan yang paling efektif adalah sejak kanak-kanak.

Seperti yang dikatakan oleh Jazzar Al-Qairawani bahwa sifat-sifat buruk yang timbul dari diri anak bukan berasal dari fitrah, tetapi timbul karena kurangnya peringatan sejak dini dari orangtua dan para pendidiknya. Semakin dewasa, semakin sulit meninggalkan sifat-sifat tersebut. Banyak orang dewasa yang menyadari sifat buruknya, tetapi sulit untuk mengubahnya karena sifat tersebut sudah mendarah-daging dalam dirinya dan menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.

Oleh karena itu, Ratna Megawangi menyebutkan bahwa untuk membentuk karakter harus dilakukan upaya sinergis dengan melibatkan aspek knowing (mengetahui), acting (melatih dan membiasakan diri), dan feeling (perasaan) sehingga akan menghasilkan generasi bangsa yang berkarakter dan menjadi agen-agen perubahan (agent of change) untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s