Menulis Untuk Merekam Jejak-Jejak Pemahaman

Pernah mencoba untuk membaca kembali tulisan-tulisan kita di masa lalu?Coba perhatikan gaya bahasa dan kalimatnya, apakah mirip atau berbeda jauh dengan tulisan kita sekarang?Bagimanakah perasaan kita saat membaca tulisan kita di masa lalu tadi?Mungkin ada yang setengah tidak percaya karena menyadari tulisan kita di masa lalu lebih baik dari tulisan kita kini, atau tersenyum kecut karena melihat gaya bahasa dan struktur kalimat yang nggak banget, atau malu sendiri karena tulisan kita di masa lalu tidak menggambarkan diri kita yang sebenarnya.

Saya pernah iseng membuka akun Friendster saya yang sudah lama tidak saya buka, saya pun tidak yakin masih mengingat password nya kini. Dan tebak apa yang saya rasakan?Saya merasa malu sendiri karena tulisan saya di masa lalu bisa dibilang memprihatinkan, gaya bahasa dan kalimatnya pun tidak enak untuk dibaca, dan yang pasti tidak menggambarkan diri saya yang sekarang. Ketika itu juga saya menggunakan struktur kalimat yang tidak memerhatikan ejaan dan huruf, hurufnya saya ketik dengan kombinasi huruf kapital (besar) dan huruf kecil atau anak muda sekarang menamakannya dengan huruf “alay”.

Saya juga pernah membaca biografinya Soe Hok Gie, ternyata ia merupakan seorang pemuda yang sering menuangkan gagasannya ke dalam sebuah tulisan. Tulisan-tulisannya banyak dimuat di media yang berisikan tentang perlawanan terhadap rezim Soekarno dan permasalahan bangsa saat itu. Ia pun sering menuangkan cerita hidupnya dalam sebuah catatan harian. Dari kegemaran menulis itulah, Soe Hok Gie bisa dikenal hingga kini, jejak-jejak pemikiranya telah direkam dalam sebuah tulisan. Walaupun mati muda, tapi seolah semangat perjuangannya terus terasa hingga kini.

Itulah manfaat lain dari menulis yang bisa kita rasakan. Dengan menulis, kita bisa merekam jejak-jejak pemahaman dan kita bisa melihatnya kembali pada masa yang akan datang. Bersyukurlah ketika kita melihat kembali tulisan kita di masa lalu dengan perasaan bangga karena kita merasakan kemajuan dalam pemikiran dan pemahaman. Tulisan kita di masa lalu pun bisa menjadi sarana evaluasi bagi kita untuk terus meningkatkan kapasitas diri agar menjadi lebih baik lagi. Tunggu apa lagi?Mulai lah menulis dan biarkan sejarah mencatat jejak-jejak pemahaman kita.

One thought on “Menulis Untuk Merekam Jejak-Jejak Pemahaman

  1. Leni

    Ya pernah. Dulu saya sempet baca tulisan-tulisan saya di diary waktu saya sma & kuliah… Dan memang bahasanya lucu.. apalagi kalau nulisnya lagi marah🙂
    Setidaknya bisa tau pemahaman menulis dan kualitas akhlaq masa lalu…. malu… tapi alhamdulillah, setidaknya tau lebih cepat akan lebih baik, jadi bisa segera memperbaikinya..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s