Budaya Instan

Di zaman yang sudah serba mudah ini, kemandirian dan ketangguhan mental kita diuji. Bagaimana tidak, segala sesuatunya sudah bisa didapatkan secara instan dan ingin segera berhasil tanpa ingin bersusah-payah. Ingin menjadi penyanyi terkenal, sudah ada Indonesian Idol dan festival lainnya. Ingin makan enak dan cepat tersaji, sudah ada delivery service. Ingin apapun, sudah ada cara yang lebih praktis. Itulah yang membuat kita berpikir secara minimalis dan ala kadarnya−asal sudah tersedia.

Persoalannya adalah kita ingin mendapatkan sesuatu tapi tidak mau repot-repot “membayar” harganya, tidak ingin bersusah-susah mendapatkannya. Sesuai dengan prinsip ekonomi, jika dengan usaha sekecil-kecilnya bisa meraih keuntungan maksimal, kenapa harus bersusah-susah?Justru itulah yang akan menjadikan kita sebagai generasi yang selalu menunggu bola, bukan sebagai generasi yang menjemput bola.

Kita tidak boleh lupa bahwa di dunia ini, perbuatan dan konsekuensinya merupakan satu paket yang tidak dapat dipisahkan. Seperti kata seorang bijak, kita bebas memilih tindakan apa saja yang ingin kita lakukan, tapi kita tidak bisa memilih konsekuensi dari tindakan kita itu.

Masalahnya, di dunia ini segala sesuatunya berproses. Bahkan, alam semesta ini pun diciptakan dengan proses yang panjang. Mulai dari satu kesatuan utuh, hingga terjadi Big Bang yang membuat segalanya terpecah dan membentuk suatu fungsi dan peranan lain.

Keberhasilan−menurut definisi masing-masing−yang diperoleh secara instan tidak akan memberikan pemaknaan yang mendalam terhadap perjuangan yang telah dilakukan. Beda sekali dengan kesuksesan yang diperoleh dengan perjuangan, tetesan darah, dan usaha maksimal. Tentu akan selalu membekas dan bisa menjadi nilai tambah bagi pengembangan diri.

Seberapa besar tujuan yang dicapai bisa dilihat dari seberapa besar usaha dan pengorbanan kita terhadap tujuan itu. Tidak pantas bagi kita yang memimpikan cita-cita setinggi langit tapi masih belum berani mengorbankan diri kita sendiri. Budaya instan hanya akan membuat mentalitas kita melemah hingga mungkin saja pada akhirnya padam.

Seperti yang dikatakan dalam novel 5 cm, untuk menggapai mimpi-mimpi kita, gantungkan impian kita itu 5 cm dari kening kita, biarkan mata kita terus melihatnya. Usaha selanjutnya adalah kita mengorbankan diri kita. Sudah sewajarnya dalam meraih cita-cita, maka kita akan melangkahkan kaki kita lebih banyak dari biasanya, berpikir lebih keras dari biasanya, waktu tidur yang berkurang dari biasanya, hingga hati yang terus berharap dan doa yang lebih banyak dari biasanya.

Oleh karena itu, untuk menggapai impian kita, diperlukan usaha yang tidak biasa-biasa saja. Usaha yang ala kadarnya akan membuahkan hasil yang ala kadarnya pula. Pemikiran-pemikiran kita yang menganggap bahwa segala sesuatunya bisa didapat secara instan harus segera diluruskan karena akan melemahkan daya juang kita dan membatasi impian kita dengan kenyataan.

Memang, kemajuan teknologi dan perkembangan gaya hidup telah membuat segala sesuatunya menjadi mudah. Akan tetapi, bukan berarti itu bisa menyurutkan daya juang kita. Sesuatu yang didapat dengan mudah, biasanya akan hilang dengan mudah pula. Ibarat akar tanaman yang tidak menghujam kuat ke dalam tanah. Oleh karena itu, kemudahan-kemudahan yang ada seharusnya bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih produktif, bukan malah sebaliknya malah menghancurkan kreativitas dan potensi.

One thought on “Budaya Instan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s