Nasib Idealisme Pasca Kehidupan Kampus

Berbicara seputar dunia kemahasiswaan dan kepemudaan, sudah tidak bisa dielakkan lagi dengan apa yang dinamakan idealisme. Ada seorang bijak yang berkata bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh seorang pemuda. Idealisme itulah yang menjadi landasan seseorang untuk bersikap dan bertindak.

Idealisme itu sendiri terbentuk dari pendidikan dan lingkungan yang memengaruhinya, baik itu lingkungan terkecil (keluarga) hingga lingkungan yang luas cakupannya. Berawal dari pemikiran dan idealisme, kemudian terejawantahkan ke dalam sikap, karakter, hingga pada akhirnya akan membentuk kebiasaan. Dari kebiasaan itulah yang nanti akan menentukan nasib seseorang.

Sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sosial kemasyarakatan. Disana, nilai-nilai dasar pola kehidupan kita mulai dibenturkan pada realita-realita sosial yang terkadang tidak sejalan dengan prinsip kita. Disana pula, lunturnya idealisme juga mungkin tidak dapat terhindarkan lagi. Ada manusia yang mampu bertahan mempertahankan idealismenya sehingga ia disebut dengan manusia “idealis”, tapi ada pula manusia yang akhirnya terbawa arus lingkungan sehingga pada akhirnya mengantarkan ia menjadi seorang manusia “realistis”. Banyak manusia yang pada awalnya memiliki idealisme yang sangat tinggi, namun dalam sekejap saja ia gugur dan menyebabkan ia menjadi seorang manusia realistis.

Kampus menjadi bagian dari pembentukan karakter dan idealisme seorang pemuda. Bagaimana tidak?Kampus menjadi tempat bagi kita untuk mengasah berbagai keahlian, mengembangkan minat dan bakat, mematangkan emosi, belajar mengorganisasi sesuatu, dan sebagai tempat pendewasaan diri. Mengingat fungsi, peran, dan posisi mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat, sudah menjadi peran mahasiswa sebagai “jembatan” penghubung antara rakyat dan pemerintah. Dalam menjalakan fungsi, peran, dan posisinya ini, sudah sepatutnya kita menjunjung tinggi idealisme kita.

Mari kita tengok realita bangsa kita, ketika aparat hukum sudah termanipulasi, pemerintah sudah tidak berpihak lagi kepada rakyat, oknum pemerintahan banyak yang melakukan tindak pidana korupsi, maka disitulah sesungguhnya peran mahasiswa sebagai agent of change untuk mengubah segala keterpurukan.

Dunia kemahasiswaan memang penuh dengan cerita perjuangannya membangun idealisme. Namun, bagaimanakan nasib dari idealisme itu sendiri dalam kehidupan pasca kampus?Kita tentu tahu para tokoh negeri ini seperti Soekarno, Fadel Muhammad, Rizal Ramli, Pramono Anung, Hatta Rajasa dan sejumlah alumni ITB lainnya yang sewaktu menjadi mahasiswa dulu dikenal sebagai mahasiswa yang idealis. Namun, sebagian dari mereka ada yang masih memiliki idealisme yang kuat sehingga terus menorehkan sejarah, tapi juga ada yang harus menjadi manusia realistis yang menyerah pada tantangan.

Dari sinilah, kita belajar bahwa bagaimana agar kita bisa terus mempertahankan idealisme kita dalam kehidupan pasca kampus (setelah lulus). Sudah tidak asing lagi bagi kita, banyak tokoh yang dulunya idealis tapi harus menyerah pada setumpuk uang dan janji jabatan. Ada yang sewaktu menjadi mahasiswa gencar meneriakkan gerakan anti-korupsi, tapi ketika telah menjadi pejabat publik malah ditangkap sebagai koruptor. Lalu, mau dibawa kemana negeri ini jika para manusia-manusia idealis telah terbeli oleh janji manis uang dan jabatan?Bagaimana nasib bangsa ini jika manusia-manusia idealis telah berubah menjadi manusia realistis yang tidak lagi punya impian?

Oleh karena itu, nasib dan arah gerak bangsa ini terletak pada kita semua sebagai pemuda, baik yang sudah lulus maupun yang masih bergelut dengan status kelulusannya. Kitalah yang pada nantinya akan mencetak sejarah baru bagi bangsa kita. Bangsa Super Power hanya bisa dibentuk oleh bangsa yang memiliki IPTEK yang tinggi dan IMTAK yang luhur. Selain memperkuat fondasi akal dan ilmu pengetahuan, kita juga dituntut untuk memperkuat fondasi IMTAK kita. Pada akhirnya, kita lah pencetak sejarah itu!

3 thoughts on “Nasib Idealisme Pasca Kehidupan Kampus

    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      Yang sy sebutin itu orng2 yg idealis, mereka terkenal sbg orang yg berpengaruh..

      Pramono Anung mantan Kahim Tambang, Hatta Rajasa mantan wakil ketua Patra, Rizal Ramli & Fadel M sbg pendiri SEF ITB. Tp kalo baca sejarahna, akhir kepemimpinan Soekarno kurang baik (diruntuhkan) krn bnyk penyimpangan yg dilakukan (nyambung ka sejarah perjuangan Soe Hok Gie).

      Fadel M jg mantap, sukses jd entrepreneur, sukses jd Gubernur sampe jd menteri.

      Coba baca geura biografinya orng2 idealis di atas, ada di Indonesia Corner.🙂

      Reply
  1. Dida Sadariksa

    soalna kalimatna asa ambigu..

    “Namun, sebagian dari mereka ada yang masih memiliki idealisme yang kuat sehingga terus menorehkan sejarah, tapi juga ada yang harus menjadi manusia realistis yang menyerah pada tantangan.”

    makana urang mikir diantara mereka aya nu teu idealis..haha..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s