Memaknai Kesuksesan

Kesuksesan pada masa dewasa ini masih diartikan hanya sebatas pada seberapa penghasilan yang didapatkan, jabatan apa yang kini disandang, atau sudah memperoleh gelar apa. Kesuksesan masih diartikan secara sempit dan hanya pada sebatas sesuatu yang terukur secara fisik yang sifatnya cenderung pada hal-hal duniawi. Pernahkah kita berpikir jauh bahwa kesuksesan sebenarnya adalah ketika pencapaian-pencapaian kita di dunia berbuah pada amal-amal yang akan menolong kita di akhirat?

Bagi saya, kesuksesan adalah seberapa besar manfaat yang seseorang berikan pada lingkungannya. Bukankah Rasulullah pernah bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang memiliki banyak manfaat untuk orang lain. Apapun profesi dan posisi kita saat ini, bagaimana kita bisa mengubahnya menjadi suatu energi yang akan membawa banyak kebermanfaatan untuk orang lain.

Entah posisi kita mahasiswa atau pun wirausaha. Sebagai mahasiswa, kita bisa memanfaatkan disipilin ilmu yang kita miliki untuk menjadi sarana memberi manfaat untuk orang lain, entah itu dengan mengajarkan teman, ataupun membuat tulisan yang mencerahkan. Walaupun dianggap remeh, tetapi setidaknya kita sudah menjadi manfaat bagi orang lain.

Seseorang juga dikatakan berhasil bukan karena ia merasa sukses atau tujuan dirinya tercapai, memang itu betul, tapi ada pendefinisian sukses yang lebih hakiki. Seseorang baru dikatakan berhasil ketika orang lain mengatakan dia berhasil dan mereka juga dapat merasakan keberhasilan yang pernah diraihnya. Jadi, keberhasilan menjadi sempurna pada saat lingkungan sekitar membenarkan dirinya berhasil dengan cara yang benar dan mereka merasakan berkah yang diterima orang tersebut.

Kita pun perlu merenungi pencapaian-pencapaian yang telah kita lewati. Apakah pencapaian kita tersebut sudah menjadi jalan manfaat untuk orang lain, atau apakah pencapaian tadi masih bermanfaat untuk diri kita sendiri?Merenungi pencapaian juga berguna untuk melihat kembali jejak-jejak perjalanan kita. Memberikan manfaat untuk orang lain pun harus kita sesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas diri, jangan terlalu memaksakan, hingga akhirnya akan merugikan diri kita sendiri.

Oleh karena itu, perlu adanya suatu introspeksi kepada diri sendiri. Membuka kembali rencana-rencana kita dan menyempurnakan apa yang belum terlaksana. Jangan jauh-jauh membayangkan suatu rencana yang sulit dicapai, tetapi perhatikanlah dulu rencana terdekat yang dirasa lebih realistis.

Thomas Carlyle pernah mengatakan bahwa, “Pekerjaan kita yang terbesar bukanlah melihat apa yang tampak secara redup-redup dari kejauhan, melainkan  melakukan apa yang tampak jelas di depan mata kita.”

Setidaknya, introspeksi akan memberikan dorongan bagi kita untuk bekerja lebih baik lagi. Ketika semua orang berkata tentang diri dan prestasi kita, semuanya menunjukkan baik-baik saja tanpa ada introspeksi atau evaluasi, waspadailah orang tersebut karena mungkin orang tersebut bertipe “laron” yang hanya mendekat ketika kita sedang bersinar (kaya atau sukses).

Sekali lagi, perlu diluruskan kembali tentang pendefinisian kesuksesan. Memang definisi dari kesuksesan itu relatif, bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Memang benar bahwa jabatan strategis akan membantu kita untuk lebih banyak memberikan manfaat untuk orang lain. Akan tetapi, ada satu benang merah yang bisa menjadi landasan. Entah posisi dan profesi kita apa, tapi satu hal yang pasti, apapun profesi dan posisi kita, bagaimana kita menjadikannya sebagai jalan untuk memberi manfaat untuk orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s