Dua Kunci Menuntut Ilmu

Sebagai umat manusia, kita diwajibkan untuk selalu menambah ilmu dan wawasan kita. Tidak memandang kalangan usia dan pangkat, baik yang muda maupun yang tua, semua diwajibkan untuk meningkatkan kapasitas dirinya dengan ilmu. Tanpa ilmu, dunia terasa gelap, tanpa penunjuk arah, tanpa tuntunan yang jelas. Semuanya akan berjalan kabur tanpa kendali.

Apalah gunanya harta tanpa dibarengi dengan ilmu. Jikalau harta, kita yang menjaganya, tetapi jika ilmu, ilmu lah yang menjaga kita. Ilmu tanpa amal adalah suatu perbuatan sia-sia, begitu pun amal tanpa ilmu akan menjadikan tindak-tanduk kita tanpa landasan yang benar. Oleh karena itu, mengejar ilmu lebih diprioritaskan ketimbang mengejar amalan.

Dalam upaya menuntut ilmu, seseorang tentu mengalami berbagai kendala dan tantangan. Baik itu dari segi finansial, mutu pendidikan maupun dari sisi motivasi individu. Bagi mahasiswa seperti saya, menuntut ilmu menjadi suatu kebutuhan penting yang akan menunjang kehidupan saya di masa yang akan datang. Mempersiapkan ilmu melalui pendidikan akan menjadi fondasi atau landasan saya dalam berkarir. Namun, bagaimana jika terjadi demotivasi dalam menuntut ilmu?

Saya teringatkan kembali dengan nasihat seorang guru fisika di SMA saya, beliau bernama Tata Santana. Di dalam kelas beliau pernah berkata, “Dua kunci menuntut ilmu, yaitu kesabaran dan mau mencoba terus-menerus.” Ya, memang nasihat itu seperti sebuah setrum yang mengisi kembali relung-relung jiwa saya yang mulai mengalami demotivasi. Bagaimana tidak?nasihat Pak Tata tadi seperti sebuah oase di tengah gurun yang bernama gurun “mengejar kelulusan”.

Kunci pertama, kesabaran. Dalam menuntut ilmu, sewajarnya seseorang mengalami kebuntuan pemahaman sehingga mungkin saja membuat seseorang sudah tidak memiliki mood untuk memahami mata kuliah tertentu. Bersabar tidak hanya dalam kondisi sulit saja, tetapi dalam memperjuangkan kebaikan dan kebenaran pun dibutuhkan kesabaran. Jika dalam sekali-dua kali belum memahami materi mata kuliah, cobalah bersabar untuk menahan keluhan, menahan rasa pesimisme, dan yakinlah ilmu itu akan kita pahami jika kita mau berusaha.

Kunci kedua, mau mencoba terus-menerus. Dalam proses belajar, kita tidak akan langsung menyerap 100% materi dengan baik─walaupun bagi sebagian orang yang ber-IQ tinggi mungkin saja bisa. Oleh karena itu, yang namanya proses belajar adalah proses mengulang terus-menerus. Kita akan bisa karena terbiasa dan pembiasaan itu akan diperoleh dengan mencoba terus-menerus. Perpaduan antara kesabaran dan semangat ingin mencoba akan memudahkan kita untuk bisa menyerap ilmu lebih baik, walaupun mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan. Memang semua itu perlu proses, karena belajar itu juga proses.

Allah Maha Tahu bahwa proses belajar dan menuntut ilmu itu berat. Oleh karena itu, Allah pun menjanjikan bagi orang yang berilmu dengan kedudukan yang mulia di sisi-Nya. Seperti yang tertuang dalam Surat Al-Mujadilah ayat 11, “ … niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat …”. Begitu besar kemuliaan dan keutamaan seseorang yang menuntut ilmu. Dengan ilmu, kita bisa menerangi dunia. Dengan ilmu, kita bisa menyingkap tabir kegelapan. Dengan ilmu, kita bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

4 thoughts on “Dua Kunci Menuntut Ilmu

  1. Setia Budi

    Saya lagi menelusuri keberadaan Pak Tata, kebetulan saya muridnya juga saat di SMAN 1 Kuningan. Beliau adalah guru yang sangat kami hormati dan kami banggakan. Saya mau nanya gimana kabarnya Pak Tata, atau mungkin beliau punya website atau akun fb/twiter? Bantu dong…

    Reply
    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      Apakah yg Anda maksud Pak Tata Santana? Saya tdk punya kontaknya, tapi menurut adik kelas saya dan pembicaraan teman2, beliau skrng mengajar juga di SSC Bandung. saya kurang tau apakah beliau masih mengajar di SMAN 3 Bdg. Apakah beliau juga mengajar di SMAN 1 Kuningan?

      Reply
      1. Tutorial Photoshop

        Sebelum mengajar di SMAN 3 Bandung, beliau mengajar di SMAN 1 Kuningan. Beliau pindah saat saya kelas 3. Kami mengadakan acara perpisahan dengan beliau, sayangnya beliau tidak datang. Dan sampai sekarang tidak pernah bertemu lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s