Refleksi Pagelaran : Sakali Dulur Salilana Dulur

Pagelaran LSS ITB 2010 kali ini memang banyak cerita, baik dari proses kepanitiaannya, proses keseniannya, hingga pada tahap proses akhirnya. Menjadi bagian dari pagelaran merupakan suatu hal yang sangat membanggakan sekaligus memberikan romantikanya tersendiri. Banyak sekali makna-makna hidup─tidak berlebihan saya mengatakan ini─yang bisa saya ambil dari proses pagelaran.

Seseorang akan merasakan betapa indahnya persahabatan ketika ia merasakan senasib seperjuangan dengan sahabatnya. Kebermaknaan ini saya dapatkan ketika menjadi panitia pagelaran LSS ITB 2008 lalu. Banyak sekali momen yang akan terus menjadi bahan cerita hingga kini, banyak guyonan yang akan menjadi bahan tertawaan hingga kini.

Namun, saya melihat suatu kebermaknaan lain dari suatu proses pagelaran LSS ITB 2010 kemarin─tanggal 3 Juli 2010. Bagaimana tidak?Hari H pagelaran yang sempat diguyur hujan 2 kali tidak menyurutkan tekad pemain dan panitia untuk tetap memperjuangkan pagelaran. Pada awalnya, hujan yang berhenti kurang lebih sejam setelah waktu yang seharusnya membuat optimisme itu kembali muncul. Akan tetapi, setelah selang sejam berlalu, hujan turun lagi dan memaksa acara ditunda hingga entah kapan.

Kondisi lapangan sudah tidak memungkinkan lagi untuk mendukung pagelaran, lapangan sudah becek dan panggung pun sudah basah oleh air hujan. Sound System dan lighting sudah tidak bisa dijalankan lagi. Kasihan memang melihat para pemain kesenian dan panitia yang sudah memperjuangkan pagelaran ini. Saya yakin, banyak sekali waktu, tenaga, pikiran, dan hati yang sudah dikorbankan untuk pagelaran ini─karena saya pun pernah merasakannya. Atas inisiatif para alumni, pagelaran dipindah secara mendadak ke Aula Barat.

Dari situlah terlihat bahwa sakali dulur salilana dulur. Semua elemen ikut membantu proses mobilisasi, memasang arena pagelaran baru di Aula Barat. Suatu hal yang memang di luar rencana dan tidak pernah terduga sebelumnya. Dan satu hal paling menakjubkan bagi saya, banyak penonton yang masih setia untuk tetap menonton pagelaran meskipun mereka (penonton) sempat dibuat tidak nyaman oleh kondisi.

Mungkin kejadian seperti ini membuat banyak pihak kecewa, apalagi panitia dan pemain kesenian yang sudah berharap banyak pada pagelaran ini. Tapi, saya yakin kejadian seperti ini akan menjadi bahan cerita yang mengharukan untuk adik-adik kita. Mungkin saja, kejadian ini adalah bentuk pembuktian dari tema pagelarannya itu sendiri : Wani Tandang ku Getih Sunda. Kejadian ini seolah menuntut pembuktian langsung dari kata-kata itu.

Perjuangan tanpa hambatan ibarat sayur tanpa garam, kurang memiliki kebermaknaan. Sebaliknya, perjuangan yang disertai dengan tantangan besar akan memberikan suatu nilai kebermaknaan yang besar dan akan menjadi suatu kisah romantika yang bisa kita ceritakan kepada adik atau anak-cucu kita kelak.

Wani Wanohkeun Sunda Urang!

Wani Tandang ku Getih Sunda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s