Mencintai Sang Pemilik Cinta

Sepertinya sudah menjadi kesepakatan bersama jika cinta itu bisa membuat hidup lebih hidup. Konon, cinta mengandung segala perasaan indah tentang kebahagiaan (happiness), kepercayaan (trust), persahabatan (friendship), dan pengorbanan (sacrifice).

Menurut R. Graves dalam The Finding of Love, cinta adalah sesuatu yang dapat mengubah segalanya sehingga terlihat indah. Jalaluddin Rumi juga pernah bersyair: “Karena cinta, duri menjadi mawar. Karena cinta, cuka menjelma anggur segar…”. Itulah sebabnya, Allah menganugrahi rasa cinta dan kasih saying kepada setiap makhluknya agar bisa lebih menikmati hidup.

Akan tetapi, manusia seringkali berubah-ubah dalam bersikap, itu perlu kita sadari juga. Bukan hal yang tak mungkin bahwa suatu saat orang yang kita kagumi karena keindahan perangainya dan kehalusan budinya, bisa saja berbalik 180 derajat. Itulah sebabnya, kita tidak boleh berlebihan dalam mengagumi seseorang, sikapi dengan cara yang wajar.

Sahabat, paparan di atas adalah fakta tentang cinta, bahwa energi cinta bisa membuat ‘penderitanya’ berbunga-bunga. Sekarang, bandingkan dengan kecintaan kita kepada Allah, Sang Pemilik Cinta. Tentu gejala-gejala itu sama dengan kecintaan kita kepada makhluk-Nya, tetapi mencintai Allah jauh lebih besar manfaat dan pahalanya karena Allah adalah pemilik dan pemberi cinta yang hakiki.

Bahkan Allah sudah memberikan sinyal kuat kepada kita dalam sebuah hadis Qudsy: “Kalau hambaKu mendekat sejengkal, Kusambut ia sehasta. Kalau ia mendekat sehasta, Kusambut ia sedepa. Kalau hambaKu datang padaKu berjalan, Kusambut ia dengan berlari…”

Cinta kepada manusia tidak akan abadi, seiring dengan hilangnya sebab. Seperti yang pernah dituliskan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab cinta yang sangat populer, Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin, “Cinta akan lenyap seiring dengan lenyapnya sebab…”

Sahabat, yang sekarang menjadi pertanyaan adalah, “ Apakah ada sebab-sebab untuk mencintai Allah, sehingga kita perlu mencuri perhatian-Nya, melakukan pengorbanan untuk meraih cinta-Nya?” tentulah ada, karena dengan sesama makhluk-Nya pun kita bisa mencari sebab itu, kenapa dengan Sang Pemiliki Cinta tidak bisa?

Dalam kisah yang sering kita dengar dan baca, Nabi Ibrahim begitu mencintai putranya. Luapan cinta yang tak tertahankan kepada putranya yang setelah puluhan tahun didambakannya─Ismail─menjadi muara kehidupan bagi Nabi Ibrahim. Namun, Allah menguji cintanya dengan menurunkan perintah untuk mengurbankan anaknya. Hati orang tua mana yang tidak terenyuh mendengar kabar seperti ini. Namun, Nabi Ibrahim berhasil lulus dari ujian tersebut. Terbukti ia lebih mencintai Allah dengan menjalankan perintahNya ketimbang mencintai anak dan keluarganya. Nabi Ibrahim ikhlas melakukannya. Subhanallah.

Menjadi kekasih itu butuh pengorbanan. Tentu, agar cinta yang kita berikan kepada kekasih kita bermakna. Itu sebabnya, mencintai Allah pun memerlukan pengorbanan. Seorang tokoh sufi bernama Bayazid Bustami mengatakan, “Cinta adalah melepaskan apa yang dimiliki seseorang kepada Kekasih (Allah) meskipun ia besar; dan menganggap besar apa yang diperoleh kekasih, meskipun itu sedikit.”.

Itu sebabnya, jangan heran kalo Rasulullah saw berani menolak permintaan para gembong kafir Quraisy untuk menghentikan dakwahnya. Dengan kobaran cintanya yang menyala-nyala pada Allah Swt., Muhammad saw. mengatakan kepada pamannya: “Wahai pamanku, demi Allah seandainya matahari mereka letakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku supaya aku berhenti meninggalkan tugasku ini, maka aku tidak mungkin meninggalkannya sampai agama Allah menang atau aku yang binasa”.

Selain berkorban, mereka yang mencintai Allah selalu bersyukur dan menerima terhadap apa-apa yang di berikan Allah. Bahkan ia akan selalu ridha terhadap Allah walaupun cobaan berat menimpanya.

Dan jujur saja, kalo kita sedang jatuh cinta, menyebut namanya saja ada gejolak hebat di hati kita. Maka, jika Allah kita cintai, rasanya pantas jika kita pun bergetar menyebut namaNya. Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,” (QS al-Anfaal [8]: 2)

Mencintai makhluk secara berlebihan akan membuat kita kecewa seiring dengan tidak sesuainya harapan kita, tetapi mencintai Allah─Sang Pemiliki Cinta─tidak akan kecewa karena Dia yang akan selalu memenuhi harapan-harapan kita.

One thought on “Mencintai Sang Pemilik Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s