Pandangan Islam Terhadap Ilmu

Pada masa dewasa ini, terpisahnya ilmu agama dan ilmu umum dengan mudah dapat kita lihat dari terpisahnya lembaga pendidikan agama─seperti pondok pesantren, IAIN, atau institusi lain yang mengajarkan ilmu agama─dan lembaga pendidikan umum─seperti sekolah-sekolah formal kebanyakan (SD, SMP, SMP, SMA, dan perguruan tinggi) yang mengajarkan ilmu-ilmu umum.

Kurikulum pendidikannya pun sangat kontras. Pada lembaga pendidikan umum misalnya, mata kuliah atau mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dirasa sangat sedikit sekali porsinya, itu pun hanya sebatas pada jenjang SD hingga SMA. Sedangkan di perguruan tinggi yang berbasis pendidikan umum, Pendidikan Agama Islam hanya memiliki porsi 2 SKS, tidak sejalan dengan visi pembangunan karakter bangsa.

Islam sebenarnya tidak mengenal adanya pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum karena di dalamnya terdapat pola hubungan dan peranan yang saling terkait antara hal yang satu dengan yang lainnya. Pendidikan umum dan pendidikan Islam harus berjalan beriringan jika memang ingin menghasilkan generasi-generasi bangsa yang berkarakter.

Menurut Islam, ilmu tidak dapat dipisahkan dari sumbernya. Sumber ilmu tersebut adalah Al’Alim (Dzat yang Maha Tahu) dan Ar-Rasyid (Dzat yang Maha Pandai). Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran pada surat Al-An’am ayat 59 yang berbunyi : “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)

Jadi, jelaslah bagi kita bahwa sumber ilmu itu adalah Allah. Oleh karena itu, ilmu disampaikan kepada manusia melalui dua jalur. Jalur pertama disebut dengan jalur Atthariqoh Arrasmiah, yaitu jalur yang resmi (formal). Ilmu yang disampaikan melalui jalur ini adalah ilmu formal yang biasa disebut sebagai revelation (wahyu). Karena ilmunya bersifat formal, maka pembawanya juga merupakan pembawa formal yaitu Ar-rusul (rasul).

Objek dari ilmu formal ini disebut Al-ayat A-lqauliyah yang redaksinya juga formal (tidak ditambahi, dikurangi, atau diubah). Tujuan dari ilmu formal ini adalah sebagai pedoman hidup. Seperti yang telah difirmankan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 2, bahwa Al-Quran itu tiada keraguan didalamnya, maka nilai kebenaran yang dikandung oleh Al-Ayat Al-qauliyah ini adalah nilai Al-haqiqat Al-mutlaqah (kebenaran mutlak).

Jalur kedua disebut sebagai Atthariqah ghairu rasmiah, yaitu jalur informal. Pada jalur ini, ilmu disampaikan melalui ilham atau inspirasi secara langsung dan siapa pun bisa mendapatkannya sesuai dengan kehendak Allah. Objek dari ilmu informal ini adalah Al-ayat Al-kauniah dan tujuannya adalah untuk penunjang dan perbaikan hidup. Adapun nilai kebenaran ilmu yang diperoleh pada jalur ini disebut sebagai al-haqiqah attajribiah (kebenaran empiris).

Walaupun jalur untuk memperoleh ilmunya berbeda, tapi pada dasarnya keduai jalur ini saling terkait satu sama lain. Masing-masing jalur merupakan pendukung bagi jalur lainnya dan bermuara pada kemaslahatan manusia.

Pada dasarnya, Al-ayat Al-qauliyah yang tertera di dalam Al-Quran sekurang-kurangnya memiliki 3 macam isyarat. Pertama, isyarat ilmiah, diperlukan sikap ilmiah (riset) untuk mendalaminya. Kedua, isyarat gaib, tidak cukup dengan akal untuk memahaminya tapi juga diperlukan keimanan untuk menerimanya. Ketiga, isyarat hukmiyah (hukum), diperlukan sikap kesediaan untuk mengamalkannya.

Terkadang kita tidak sadar dengan kerancuan yang kita buat sendiri. Terutama dalam menyikapi ketiga jenis isyarat tersebut. Misalnya, isyarat hukmiyah (hukum) ditanggapi secara ilmiah, contohnya larangan memakan darah, bangkai, dan babi. Kita malah sibuk melakukan riset terhadap ketiga larangan Allah tersebut untuk membuktikannya secara ilmiah. Padahal, larangan terhadap ketiga hal itu tetap harus dilaksanakan meskipun hasil riset itu ada atau tidak.

Begitu juga dengan isyarat gaib. Walaupun sudah dijelaskan di dalam Al-Quran bahwa perkara gaib merupakan pengetahuan yang sangat terbatas untuk manusia, tetapi tetap saja ada manusia yang masih memercayai perkara-perkara tahayul.

Allah mengaruniakan akal dan hati kepada manusia agar manusia dapat berpikir dan bisa membedakan mana yang baik dan buruk serta bisa memisahkan mana yang benar dan salah. Untuk itulah, Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi agar bisa menjadi rahmat bagi semesta alam dengan bekal ilmunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s