Homo Homini Lupus

Terus terang nyali saya agak sedikit ciut ketika harus bersepeda melewati jalanan kota Bandung ini. Orang-orang sekarang seolah tidak peduli lagi dengan hak orang lain, asalkan kebutuhan pribadinya terpenuhi. Misal saja, ketika saya sedang bersepeda di jalanan pusat kota, tiba-tiba dari arah samping saya angkot menyalip dengan kencangnya dan seketika juga merapat ke kiri karena akan menurunkan penumpang, sontak saya pun kaget. Kenapa tadi menyalip terus sekarang merapat lagi?

Tidak hanya itu, saya merasa tidak dihargai sebagai pengendara sepeda. Kadang dari arah yang berlawanan, pengendara motor dengan kecepatan tinggi menyalip mobil yang menghalanginya. Pengendara sepeda motor seenaknya menggunakan jalur yang berlawanan. Jika saja saya tidak merapat ke pinggir, mungkin saya sudah terserempet.

Selain pengalaman yang menimpa saya, pengalaman buruk di jalanan pun banyak dialami oleh orang lain. Misalnya, ketika pengendara lain sedikit saja tersenggol (atau terpoles sedikit) sepeda motornya, mata si pengendara langsung menatap tajam. Tidak berhenti sampai tatapan tajam saja, bagi pengendara yang tidak sabar pasti sudah mengeluarkan kata-kata makian, mungkin saja bisa berujung pada perkelahian.

Ada juga pengendara yang tidak ingin jika didahului oleh orang lain, tidak ingin mengalah jika ada kendaraan atau pengguna jalan lain ingin melintas. Hal ini bisa dilihat dari dinyalakannya lampu jauh oleh si pengendara tadi. Inilah tantangan terbesar bagi kita sesama pengguna jalan, kemauan untuk mendahulukan orang lain. Tidak hanya itu, trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki sudah beralih fungsi menjadi jalur “darurat” bagi pengendara sepeda motor sehingga para pejalan kaki pun bingung akan berjalan dimana.

Seorang pengendara akan menjadi miskin senyum, tegur sapa, apalagi minta maaf jika bersalah ketika kondisi jalanan sedang macet-macetnya. Komunikasi─tentu secara singkat─terjadi saat butuh informasi alamat atau karena sedang kesasar.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah gejala apakah ini?Apakah ini bagian dari gejala yang disebut seorang ahli filsafat sebagai gejala homo homini lupus, yaitu pada kondisi tertentu, manusia cenderung seperti serigala─dalam pengertian ekstremnya─yang satu sama lain ingin saling memangsa. Tentu yang kita harapkan bukan gejala seperti itu.

Sikap mudah marah, mudah tersinggung, tampaknya akumulasi sikap, perasaan, dan pengalaman yang kompleks yang selama sekian tahun dialami seseorang. Bisa saja, seseorang pada awalnya bersifat tenang ketika mengalami gangguan, tetapi karena perkembangan emosi tadi, dia menjadi seorang yang sangat reaktif.

Jika merujuk pada Teori Tabula Rasa nya John Locke, kepribadian atau kemampuan-kemampuan seseorang terbentuk melalui berbagai pengalaman hidup. Boleh jadi, selain pengalaman atau pengetahuan seseorang saat berkendara di perjalanan, film sarat kekerasan, konflik atau kekerasan yang ditayangkan oleh televisi dan berbagai media lainnya pun menjadi faktor pembentukan karakter keras tadi─seperti marah dan mudah tersinggung.

Dari cerita keseharian ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa betapa lingkungan─baik lingkungan bermain, lingkungan tempat tinggal, maupun lingkungan masyarakat─bisa menjadi faktor pembentukan karakter yang tidak menyenangkan tadi. Disinilah kita sebagai masyarakat, harus mulai pandai dalam memilih input-an yang baik agar output nya pun baik. Memilih lingkungan pergaulan dan pendidikan yang baik sebelum gejala-gejala masif tersebut benar-benar menjadi budaya yang mendarah-daging pada pribadi-pribadi masyarakat.

3 thoughts on “Homo Homini Lupus

  1. Pingback: Catatan Rihlah (2) : Rekam Jejak Perjalanan « Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s