Melewati Persimpangan

Bagi mukmin sejati, hidup adalah jalan menuju keabadian akhirat. Berjuang dan bekerja keras adalah harga yang harus dibayar untuk mencapainya. Namun, dalam perjalanannya akan selalu ada persimpangan-persimpangan hidup─layaknya persimpangan jalan─yang memaksa kita untuk berhenti sejenak dan menentukan pilihan : apakah terus berada pada jalan menuju keabadian atau kita berbelok mencari jalan pintas?

Seorang mahasiswa akan dihadapkan pada persimpangan ketika memilih akan kuliah karena menyadari kuliah adalah amanah atau hanya bermalas-malasan karena menganggap kuliahnya tidak menarik. Seorang pedagang pun tidak luput dari persimpangan, ketika sedang berjualan muncullah pikiran di benaknya untuk mengurangi timbangan karena toh pembeli tidak tahu atau tetap menjaga kejujuran karena meyakini setiap perbuatannya selalu diawasi Allah.

Apalagi seorang pejabat yang “bermain” di lahan “basah”, persimpangan yang dihadapi pun tidak main-main. Apakah akan tetap menjaga amanah yang dipercayakan rakyat kepadanya ataukah akan ikut menikmati kebobrokan dengan menerima uang yang tidak halal baginya. Tentu semua pilihan kita akan memiliki konsekuensinya. Dan jika kita terlanjur memilih jalan yang salah, maka seyogyanya kita harus kembali ke tempat semula─dalam istilah agama yaitu bertobat, kembali ke jalan yang lurus.

Bagi seorang mukmin sejati, persimpangan hidup “hanyalah” seonggok batu ujian atas keimanan. Jika terlanjur memilih jalan keterpurukan, kita akan mengalami stagnasi hingga ada kesempatan persimpangan lain yang memberikan kita kesempatan memilih lagi. Tentu, semakin tinggi kadar keimanannya akan diuji dengan ujian yang sesuai. Maka, bersyukur dan bersabar akan menjadi penolong kita dalam melewati persimpangan tadi.

Bagi seorang mukmin sejati, ujian bukanlah hal yang perlu ditakuti karena hanya akan membuang-buang waktu jika tidak disusul dengan solusi konkrit. Seorang muslim produktif tidak akan berlarut-larut diam dalam masalah. Dia akan segera introspeksi diri terhadap segala musibah dan ujian yang menimpanya, jangan-jangan ujian yang menimpanya adalah akibat dari kesalahannya sendiri. Kemudian, dari ujian itu dia akan segera membenahi diri untuk mengejar ketertinggalan.

Iman pada manusia selalu berfluktuasi─naik turun─tidak seperti malaikat yang imannya terus terjaga apalagi seperti nabi yang keimanannya selalu meningkat. Fluktuasi iman terjadi ketika kita berada di persimpangan-persimpangan tadi. Pengaruh lingkungan dan input-an kita sangat berpengaruh terhadap pilihan kita di persimpangan itu. Oleh karena itu, mencari lingkungan yang baik dan memilah-milah input-an (tontonan, bacaan, pendidikan, pergaulan, keluarga) harus kita kedepankan.

Untuk itulah, dalam setiap persimpangan hidup, kita memiliki tiga pilihan : menjadi lebih buruk, menjadi lebih baik, atau tetap stagnan. Tentu kita menginginkan pilihan untuk menjadi lebih baik, sebab hanya itulah yang menguntungkan. Akan tetapi, tidak serta merta kita melupakan perjuangan dan pengorbanan. Sesuatu yang bernilai tinggi (menjadi lebih baik) harus diperjuangkan dengan totalitas sebab tidak ada keberhasilan yang diraih dengan mudah. Jika pun ada maka keberhasilan itu bersifat semu, tidak akan bertahan lama. Jadi, pilihan kita hanya satu di setiap persimpangan hidup : menjadi lebih baik. Titik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s