Menggugat Tayangan Infotainment

Dalam disertasi bertajuk Relasi Kekuasaan dalam Budaya Industri Televisi di Indonesia : Studi Budaya Televisi pada Program Infotainment yang berhasil dipertahankan oleh Mulharnetti Syas disebutkan bahwa tayangan infotainment dianggap terlalu berlebihan. Proses produksi infotainment tidak sepenuhnya mengikuti etika jurnalistik dan kerap dimotori keinginan mencari keuntungan sebesar-besarnya.

Topik disertasi ini menjadi sangat menarik di tengah gencarnya pemberitaan media─khususnya infotainment─dalam melakukan pemberitaan yang tidak memerhatikan kaidah-kaidah jurnalistik. Bisa kita lihat pada pemberitaan kasus video artis, sejumlah infotainment (hampir semua) secara terus-menerus memberitakan kasus video tersebut seolah tak ada ujungnya. Hal yang lebih ditakuti, masyarakat yang menonton pemberitaan itu akan terpancing rasa kepenasaranannya, terutama anak-anak.

Pertumbuhan jumlah tayangan infotainment dilatarbelakangi antara lain Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Infotainment menjadi salah satu program alternatif yang lahir dengan alasan memenuhi minimal 60 persen proporsi isi siaran domestik. Selain biaya produksinya murah, tayangan infotainment juga mendatangkan keuntungan yang besar.

Proses produksi infotainment kerap melanggar prinsip-prinsip jurnalistik sehingga tidak dapat disebut sebagai karya jurnalistik. Prinsip kebenaran, klarifikasi, independensi dan proporsionalitas dalam pemberitaan yang merupakan beberapa elemen jurnalisme─yang dirumuskan Bill Kovack─kerap dilanggar.

Dunia jurnalistik yang semula mengedepankan fakta, kini mulai larut dalam budaya kapitalis sehingga yang pada awalnya lebih mengutamakan fakta tetapi belakangan lebih mengedepankan fungsi bisnis (keuntungan). Akibat dari tercampurnya dunia jurnalistik dengan budaya kapitalisme bisa membentuk opini publik yang salah karena pemberitaan yang ada tidak mengutamakan fakta. Apalagi jika masyarakat terus mengonsumsi (menonton) tayangan infotainment secara berlebihan, maka rating dari tayangan infotainment akan terus meningkat dan ini merupakan lahan yang subur bagi perkembangan infotainment.

Isi dan paparan berita terus-menerus menciptakan keyakinan masyarakat bahwa mereka membutuhkannya. Bisa kita lihat pada tayangan infotainment yang sering mempertontonkan urusan rumah tangga yang sarat dengan perselingkuhan, perceraian, hingga ranah paling pribadi dari kehidupan selebritis. Kualitas isinya tidak mengandung muatan pendidikan, tetapi tetap dipertahankan karena berorientasi pada keuntungan tadi.

Kini, televisi bukan merupakan barang yang terbilang mewah lagi di masyarakat, hampir semua kepala keluarga memiliki televisi. Oleh karena itu, semua tayangan akan mudah sekali masuk ke masyarakat, baik itu tayangan yang bermanfaat maupun yang tidak bermanfaat. Tayangan infotainment yang memiliki rating tinggi di masyarakat─khususnya kalangan ibu-ibu─lambat laun akan menjadi suatu ketergantungan. Jika hal ini terus dibiarkan, lambat laun masyarakat akan mulai teracuni oleh budaya-budaya pop (budaya latah─mengikuti tren). Dampak yang paling buruk adalah melenakan masyarakat dari tayangan-tayangan yang sarat dengan muatan pendidikan.

Referensi : Kompas, Rabu, 14 Juli 2010 hal 12

One thought on “Menggugat Tayangan Infotainment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s