Prinsip Myelin Pada Proses Pagelaran LSS ITB

Apa itu myelin?

Merujuk kepada buku “Myelin” karya Rhenald Kasali (2010), saya ingin menghubungkan prinsip “Myelin”─seperti yang dijelaskan pada buku itu─dengan proses pagelaran LSS ITB. Sebelumnya, mari kita kenali lebih dulu apa itu myelin yang dimaksud. Lihatlah gambar di bawah ini. Di situ tampak dua rantai sel yang dibungkus oleh suatu lapisan seperti karet gelang. Lapisan itu bisa terdiri dari 5 helai, 50 helai, atau bahkan lebih banyak lagi. Menurut para ahli, semakin banyak seseorang terlibat dalam latihan yang mendalam (deep practice), akan semakin tebal lapisan itu. Lapisan-lapisan itulah yang disebut myelin.

Dua gambar terpisah itu menunjukkan myelin secara detail dan kedudukan myelin dalam suatu mata rantai informasi pada jaringan sistem syaraf manusia. Semakin tebal lapisan myelin, akan semakin efisien informasi beredar dan semakin cepat serta semakin otomatis manusia melakukan gerakan.

Coyle (2009), bersdasarkan temuan Field (2008), mencatat tiga hal berikut ini untuk menjelaskan revolusi yang tengah terjadi. Revolusi ini disebut sebagai Copernicus Size Revolution.

  1. Setiap gerakan, pikiran, dan perasaan manusia digerakkan oleh electrical signal yang bergerak melalui mata rantai jaringan syaraf.
  2. Myelin adalah insulasi yang membungkus mata rantai jaringan syaraf yang memilii peran untuk meningkatkan daya pancar, kecepatan, dan keakurasian sinyal yang dikirim.
  3. Semakin sering manusia “membakar” (menggerakkan atau melatih diri) sirkuit tertentu, semakin optimal jaringan itu bekerja dan semakin kuat daya, kecepatan, serta kemahiran gerakan dan pikiran orang itu.

Berdasarkan temuan revolusi itu, diketahui bahwa keterampilan-keterampilan yang dimiliki manusia pada dasarnya adalah sebuah proses pembentukan insulasi myelin yang membungkus jaringan sel-sel syaraf yang membawa sinyal yang sama secara berulang-ulang. Jadi, semakin sering manusia terlibat dalam latihan, semakin besar lapisan myelin yang membungkus syaraf-syaraf pembawa keahliannya dan semakin tebal lapisan myelin, semakin mahir manusia itu karena sinyal keahlian yang dibawa dibungkus rapi dan bergerak lebih powerful.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan dari brain memory. Temuan-temuan terbaru dalam ilmu biologi menunjukkan ada memori lain yang tak kalah penting yaitu muscle memory yang terletak di seluruh jaringan otot kita. Brain memory terbentuk dari pengetahuan. Sementara muscle memory terbentuk karena latihan. Manusia yang hanya membangun pengetahuan melalui brain-nya akan menjadi manusia formula yang hanya melihat dari kacamata brain memory-nya. Sedangkan manusia yang hanya melakukan latihan akan bergerak reflektif otomatis. Gabungan keduanya akan menghasilkan gagasan-gagasan dan tindakan-tindakan kreatif yang tiada akhir yang kita sebut keunggulan daya saing. Yang perlu diingat, gagasan saja tidak cukup, diperlukan juga tindakan untuk merealisasikan gagasan

Kita sudah melihat hubungan antara pembentukan keterampilan dan pembentukan myelin . Sekarang mari kita tengok apa yang membentuk myelin. Berulang kali para ahli (Ericson, 2006; Feltorich & Hoffman, 2003) menyebutkan latihan atau kegiatan berulang-ulang diperlukan untuk menumbuhkan keterampilan.

Latihan yang mendalam (Deep practice) X 10.000 hours = World Class Skill

Prinsip myelin pada proses pagelaran LSS

Sebuah studi yang dilakukan oleh Dr. Michael Howe (2001) dalam bukunya Genius Explained menemukan bahwa pada usia 6 tahun, Mozart telah berlatih memainkan musik selama 3500 jam dengan instruktur ayahnya sendiri. Selain memperoleh ingatan dalam brain memory-nya, Mozart kecil juga sudah memperoleh keterampilan otomatis dari muscle memory-nya.

Jika kita hubungkan dengan proses pagelaran LSS, proses yang dilakukan tidak berbeda jauh dengan proses yang dilakukan Mozart, yaitu terlibat dalam latihan yang mendalam (deep practice). Pada prosesnya yang memakan waktu sekitar 5 bulanan, pada hakikatnya dalam proses itu sedang mempertebal lapisan myelin tadi, selain untuk menguatkan brain memory dalam bermain kesenian dan kepanitiaan (pengetahuan, pengalaman, romantika), juga akan memperoleh keterampilan secara muscle memory (keterampilan, keahlian, bakat). Semakin banyak melakukan latihan, maka kualitas dari brain memory dan muscle memory dalam berkesenian maupun kepanitiaan akan semakin baik─begitu juga dengan mentalitasnya. Dari proses latihan itu akan mempertebal lapisan myelin dan myelin yang mereka tumbuhkan membentuk intangiblesatau yang lebih kita kenal dengan softskill dan intangibles membentuk kekuatan perubahan.

Konsep myelin menjelaskan lebih jauh lagi, yaitu pentingnya keterlibatan dalam latihan untuk mengisi kesempatan itu dengan atau tanpa bakat. Beberapa prinsip cara kerja myelin yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut (Coyle, 2009) :

  1. Myelin tidak akan hadir atau terbentuk semata-mata sebagai respon dari mimpi-mimpi atau harapan-harapan kosong. Myelin terbentuk karena sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang. Dalam hal ini, proses pagelaran yang dijalani sekitar 5 bulan, akan membentuk myelin pada diri kita dan semakin tebal lapisan myelin─karena diasah dalam prosesnya─maka akan semakin baik intangibles yang ada pada diri kita (seperti sikap, pola pikir yang baik, kerja keras, dan sikap positif lainnya).
  2. Myelin adalah universal. Ia tidak peduli siapa Anda atau apa yang Anda kerjakan. Di sini Anda membentuk myelin yang membungkus serat syaraf yang membantu Anda lancar berkesenian atau berpengalaman dalam kepanitiaan.
  3. Sekali terbungkus, sulit dilepas. Myelin terbentuk satu arah. Sekali insulasi terjadi, tidak dapat dibongkar lagi. Ia hanya dapat dihilangkan dengan membentuk insulasi (kebiasaan baru) sehingga kebiasaan lama terkalahkan. Itulah kebiasaan tertentu sulit diubah. Kita hanya dapat mengubahnya dengan melatih kebiasaan-kebiasaan baru. Oleh karena itu, memulai dan membiasakan (atau mempertahankan) kebiasaan yang baik harus kita biasakan sejak kini.
  4. Faktor usia. Seorang berusia muda lebih mudah membentuk myelin daripada yang sudah berusia lanjut. Oleh karena itu, membiasakan kebiasaan yang baik harus dimulai sejak usia muda (usia dini).

Kesimpulan

Semakin tebal lapisan myelin, akan semakin optimal lapisan itu bekerja dan semakin kuat daya, kecepatan, serta kemahiran gerakan dan pikiran orang itu. Myelin dibentuk oleh proses latihan yang mendalam (deep practice). Lapisan myelin yang terbentuk melalui proses latihan akan membentuk intangibles (lebih kita kenal dengan softskill) pada diri seseorang dan akan semakin hebat ia bekerja.

Proses pagelaran telah membentuk brain memory dan muscle memory (myelin), sehingga akan melahirkan seseorang yang memiliki pengalaman, pengetahuan serta mentalitas yang lebih tangguh. Lebih jauh lagi, proses pagelaran yang diajalani akan membentuk intangibles pada diri seseorang. Bisa kita lihat, kondisi seseorang pada sebelum dan setelah pagelaran akan berbeda (baik dari segi pola pikir, pengalaman, kedewasaan, sikap, dan mentalitas) karena telah melewati proses deep practice tadi.


3 thoughts on “Prinsip Myelin Pada Proses Pagelaran LSS ITB

  1. lia

    trims infonya bermanfaat bgt, jadi semngat utk mengapilkasikan ilmu yang uda dipelajari. menggabungkan brain memori dan muscle memori.. semnagaadh membentuk kebiasaan baru….🙂 meski kebiasaan jelek lebih cepet ngaruh…. :-p

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s