Fluktuasi Keimanan

Kehidupan manusia tidak bisa lepas dari pengaruh lingkungannya. Ketika lingkungan tempat tumbuh dan berkembang seseorang jauh dari nilai-nilai keislaman, maka lingkungan itu dapat membawanya kepada penurunan kadar keimanan. Penurunan kadar keimanan tersebut akan menjadi lebih mudah lagi apabila manusia tersebut tidak mengetahui sifat-sifat keimanan.

Keimanan dalam Islam bukan merupakan angan-angan dan bukan pula hiasan belaka. Akan tetapi, keimanan adalah sebuah keyakinan yang menghujam kuat di dalam hati seseorang dan terejawantahkan ke dalam perbuatan nyata. Keimanan itu diucapkan oleh lisan, diyakini dengan hati, dan diamalkan dengan perbuatan.

Keimanan merupakan motivator yang mendorong manusia untuk melakukan perbuatan─tentunya perbuatan baik. Baik-buruknya perbuatan seseorang tergantung kepada kadar keimanannya─terlepas dari sifat munafik. Seseorang yang memiliki kadar keimanan yang baik akan terlihat dari pemikiran, tutur kata, tindakan, dan sikap yang selalu mengarah kepada kebaikan.

Keimanan yang berlandaskan kalimat tauhid akan memotivasi manusia untuk melaksanakan tuntutan-tuntutannya. Ia akan merasa “harap-harap cemas” karena berharap amal-amalnya diterima oleh Allah dan cemas karena khawatir amal-amalnya hanya sia-sia belaka.

Pada suatu hari, Rasulullah pernah terkejut ketika mendapati seutas tali yang terikat pada dua buah tiang di masjidnya. “Tali apa ini?” Tanya Rasulullah kepada para sahabat. Para sahabat menjelaskan, “Wahai Rasulullah, ini adalah tali milik Zainab. Ia mengikatkan tali ini agar dapat bergantung bila ia merasakan malas dalam shalatnya…” Rasul terhenyak seketika menyimak keterangan para sahabat, kemudian Beliau memerintahkan para sahabat untuk melepaskan tali tersebut seraya berkata, “Lakukanlah shalat selama kalian masih kuat melaksanakannya. Akan tetapi bila kalian telah lelah, hendaklah ia tidur (istirahat)..”

Begitulah kehidupan para sahabat yang hidup dalam lingkungan yang kental dengan nilai-nilai Islam sehingga menjaga mereka untuk tetap dalam keimanan yang kokoh. Ketika terjadi penurunan iman (future) maka lingkungannya lah yang akan menjadi lecutan untuk segera berbenah diri kembali. Para sahabat yang lain akan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Berbeda sekali dengan kehidupan kita di zaman modern ini, lingkungan kita (Indonesia) memang merupakan lingkungan yang dibangun oleh mayoritas umat muslim, tetapi perilakunya masih belum mencerminkan seperti umat muslim. Maka, sudah sepantasnya kadar keimanan kita akan terus berfluktuasi mengikuti kondisi lingkungan.

Semakin tinggi kadar keimanan, akan semakin tinggi pula ujian yang akan dihadapi. Ibarat ujian di sekolah-sekolah, tentu ujian kehidupan pun ada naik kelasnya. Jika tidak sanggup melewati, tinggal kelas lah yang harus dijalani. Akan tetapi, jika berhasil melewati ujian tersebut, maka kadar keimanan kita pun sudah selayaknya untuk naik kelas dan tentu akan menghadapi ujian yang lebih berat lagi.

Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s