Learnership (Proses Pembelajaran)

Bahwa manusia dilahirkan dengan tiga tugas pokok, yakni pertama, menjadi manusia pembelajar yang belajar terus menerus di “sekolah besar” kehidupan nyata untuk semakin memanusiawikan dirinya. Kedua, menjadi pemimpin sejati dengan cara mengambil prakarsa dan menerima tanggung jawab untuk menciptakan masa depan bagi dirinya, lingkungannya, perusahaan, atau organisasi tempat ia bekerja. Ketiga menjadi guru bagi bangsanya, bagi bangsa-bangsa, dan bagi umat manusia di “sekolah besar” kehidupan.

Kesalahan sistem pendidikan selama ini menjadi akar permasalahan kenapa “sekolah” saat ini tidak melahirkan orang-orang yang terbuka pikirannya dan peka nuraninya. “Sekolah” saat ini sedikit sekali menyentuh realitas, sehingga pelajar seolah-olah hidup dalam dunia mayanya sendiri. Hal tersebut membentuk pola pikir yang salah tentang proses pembelajaran selama ini. Namun, terlepas dari kesalahan siapa ini, permasalahan ini harus segera diatasi karena melalui pendidikan lah (proses pembelajaran) manusia bisa menjadi manusia sesungguhnya.

Belajar, dalam artian sesungguhnya, dibagi menjadi belajar tentang (learning how to think), belajar melakukan (learning how to do), dan belajar menjadi (learning how to be). Manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang dibekali kemampuan untuk belajar tentang (pengajaran) agar ia dapat belajar menjadi (pembelajaran) dengan cara belajar (pelatihan). Manusia adalah makhluk pembelajar yang berproses untuk menjadi, human being yang being human.

Manusia pembelajar memiliki pengertian setiap manusia yang bersedia menerima tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting, yakni pertama, berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi, dan bakat-bakat terbaiknya dengan selalu berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistensial. Kedua, berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensinya itu, mengekspresikan, dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan sesuatu yang bukan dirinya.

Visi atau tujuan pembelajaran adalah memungkinkan seseorang menjadi lebih manusiawi sehingga disebut dewasa dan mandiri. Sedangkan bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti mengenal diri, semakin jujur dengan diri sendiri, semakin autentik, dan menjadi semakin unik tak terbandingkan. Semakin mampu untuk menyatakan, mengaktualisasikan, mengeluarkan potensi-potensi yang dipercayakan (dititipkan) Sang Pencipta (given). Kedewasaan pun diartikan sebagai keseimbangan antara keberanian (courage) dan pertimbangan (consideration).

Kualitas seorang pembelajar tidak diukur dengan membandingkannya dengan pembelajar-pembelajar lainnya. Ia yang aktual diperhadapkan dirinya yang potensial. Sesederhana dan sesulit itu.

Manusia memiliki kemampuan untuk mengambil inisiatif, untuk menunjukkan tanggung jawab terhadap setiap gagasan, kata, dan tindakan kita, apapun konsekuensi yang ditimbulkannya. Manusia memiliki kesadaran diri, suatu kemampuan untuk mengatur nasib sendiri dan menciptakan masa depan sendiri sesuai dengan hakikat kita diciptakan. Kita adalah ciptaan yang dicipta oleh Sang Pencipta dan dianugerahi daya cipta untuk mencipta. Berdasarkan semua potensi itu, tunduk pada lingkungan, patuh pada situasi sekitar, dan membiarkan diri didikte oleh faktor-faktor eksternal merupakan penghinaan terhadapa hakikat, harkat, dan martabat, serta eksistensi manusia.

Sekarang mengenai pengenalan diri, terdapat empat pelajaran penting untuk dapat mengenal diri, yakni:

  1. Anda adalah guru terbaik bagi Anda sendiri
  2. Terimalah tanggung jawab, jangan menyalahkan siapapun
  3. Anda dapat belajar apapun yang ingin Anda pelajari
  4. Pengertian yang benar berasal dari pencerminan dalam pengalaman Anda

Menjadi diri sendiri harus dijadikan prioritas dalam hidup pribadi seorang anak manusia. Ia harus menetapkan prioritas tersebut berdasarkan kemauan yang kuat. Hal tersebut diwujudkan dalam keberanian untuk menerima dirinya sendiri (self acceptance), menghargai dirinya sendiri (self respect), memercayai dirinya sendiri (self confidence), dan mengarahkan dirinya sendiri (self direction) untuk menjadi autentik dan sejati atau menjadi dirinya sendiri, mengekspresikan diri seutuhnya, sepenuhnya, apapun risiko dan konsekuensinya.

Kepada siapa manusia pembelajar harus bertanggung jawab? Pertama, manusia pembelajar merasa bertanggung jawab kepada Tuhan, yang menganugerahinya ruh, jiwa, dan tubuh, yang membekalinya dengan nurani (moralitas), akal budi (rasionalitas), dan kemauan atau hasrat. Kedua, ia juga bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Ia bertanggung jawab untuk mengekspresikan dirinya secara utuh dan penuh. Ia bertangung jawab untuk memerdekakan semua potensinya itu, mengeluarkan dan mengaktualisasikan. Ia bertanggung jawab untuk menguasai dirinya sendiri, mengontrol dan mengendalikan diri (self mastery). Ketiga, manusia pembelajar bertanggung jawab kepada sesama manusia, kepada masyarakat sekitarnya. Ini berkaitan dengan eksistensi manusia sebagai makhluk sosial.

Ketidakmampuan belajar disebabkan oleh ketertutupan pikiran (close-minded, irrasionalitas), kebebalan nurani (immoralitas), dan hilangnya kendali terhadap kemauan atau hasrat.  Oleh karena itu, pendidikan bagi setiap orang menjadi sangat penting karena tidak hanya menumbuhkan intelektualitas, tetapi juga membentuk karakter sehingga akan terus mengukuhkan peran manusia sebagai insan pembelajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s