Menyoal Kata “Sebentar” yang Relatif

Saya yakin pasti diantara kita sudah akrab dengan kegiatan yang katanya paling dibenci oleh sebagian besar orang, yaitu menunggu. Ya, hampir dipastikan setiap orang pasti pernah menjalani hal ini. Entah itu menunggu antrean, menunggu hujan reda, menunggu teman yang datang terlambat, atau menunggu hal-hal lainnya. Akan tetapi, apakah dari setiap kita pernah memerhatikan kata-kata yang diucapkan oleh teman atau siapapun untuk menenangkan perasaan kita ketika menunggu?

Ya, kata-kata itu adalah “tunggu sebentar ya!”. Saya pernah menunggu seorang teman─ketika itu berjanji akan bermain futsal─dan telah melewati waktu yang telah dijanjikan. Saya lalu menghubungi teman saya itu dan teman saya bilang, “tunggu sebentar ya.” Saya menganggap kata “sebentar” itu hanyalah sekitar (maksimal) 5 menit. Eh, tak tahunya setelah ditunggu lebih dari 5 menit, dia belum menampakkan juga batang hidungnya.

Saya juga pernah suatu ketika sedang membeli ayam goreng di komplek rumah saya, lalu karena ayam gorengnya belum matang semua, pedagang ayam goreng itu bilang, “tunggu sebentar ya!”. Lagi-lagi saya merasa “digantungkan” dengan kalimat yang relatif itu. Saya pikir, mungkin hanya sekitar 5 menit saya harus menunggu. Sambil menunggu─dengan prinsip tidak ada waktu yang terbuang percuma─ya sudah saya beli koran saja, lumayan sambil menambah ilmu dan inspirasi.

Ternyata setelah 5 menit, ayam gorengnya belum jadi juga. Kali ini, saya benar-benar “trauma” dengan kata-kata “tunggu sebentar ya!” Menurut saya, kata “tunggu sebentar ya!” menjadi sangat relatif dan bisa menjadi penerimaan yang salah karena tidak ada parameter yang jelas, apakah berdasarkan waktu atau parameter lain?

Jika ingin memberikan pelayanan yang baik ataupun lebih menenangkan teman kita yang tengah menunggu, sebaiknya kita membuat parameter yang jelas sehingga tidak “menggantungkan” teman atau klien kita. Bisa saja kita menyebutkan parameter waktu, misalnya “tunggu ya 5 menit lagi, maaf” atau “tunggu sampai pas adzan maghrib”. Dan, satu hal yang patut dilakukan adalah mencocokkan kata-kata kita itu dengan fakta di lapangan. Jangan kita menjanjikan hanya 5 menit, eh tak tahunya lebih dari itu. Syukur-syukur bisa lebih cepat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s