Ramadhan 2 : Memorabilia Ramadhan

2 Ramadhan 1431 H / 12 Agustus 2010

Setiap orang pernah melewati masa kanak-kanak. Tentu dengan romantikanya masing-masing. Namun, adakalanya memorabilia itu bangkit kembali ketika kita melewati suatu momen yang berulang-ulang. Momen itu adalah Ramadhan. Ramadhan yang selalu mengingatkan saya terhadap memorabilia pada tahun-tahun sebelumnya. Tentang masa kecil saya. Tentang kisah yang terbenamkan menjadi memori.

Ramadhan telah terulang sebanyak 22 kali dalam hidup saya. Entah Ramadhan mana saja yang telah memberi warna ataupun hanya numpang lewat saja. Semua itu tergantung pada diri kita masing-masing untuk menjadikan setiap momen Ramadhan menjadi berkesan ataukah hanya sekedar mengikut arus massa saja. Ikut-ikutan. Tanpa pernah merasakan betapa istimewanya Ramadhan ini. Saking istimewanya, ingin rasanya setiap bulan adalah Ramadhan.

Sewaktu saya kecil, Ramadhan artinya suka cita. Bagaimana tidak? Justru pada bulan Ramadhan lah saya merasakan sesuatu yang berbeda. Spesial, begitu kata pedagang-pedagang makanan. Memasuki Ramadhan juga berarti banyak libur sekolah. Saat itu, saya paling senang mendengar kata libur. Namun, libur tidak sekedar libur. Rasanya, guru di sekolah saya dulu berprinsip : jangan biarkan liburan menyia-nyiakan Ramadhanmu. Maka, serta merta guru SD saya memberi tugas Ramadhan dengan dipandu oleh buku “Catatan Amaliah Ramadhan”.

Masih ingatkah, Kawan, dengan buku itu? Buku yang harus kita isi dengan petuah-petuah para penceramah dan harus disertai bukti autentik berupa tanda tangan. Saya teringat, setelah menulis setiap penggal kata penceramah, saya harus bersiap-siap mendekat ke arah beliau. Alasannya, saya berlomba dengan anak-anak lain untuk mendapatkan tanda tangannya. Jika pun tak mendapat tanda tangannya, cap masjid pun sudah cukup menjadi bukti autentik. Sungguh momen yang amat dirindukan, tapi rasanya tak mungkin untuk diulang.

Adapun momen lain yang masih saya rindukan hingga saat ini. Mungkin kawan-kawan hapal dengan tayangan “Lorong Waktu”? Ya, tayangan itulah yang menjadi acara favorit saya sewaktu kecil dulu. Saya masih teringat dengan bagaimana uniknya Pak Haji Husin, lucunya Zidan, dan juga bijaknya Ustadz Addin. Setiap memasuki ruang kerjanya yang rahasia, tak tahunya mereka sudah berada di tempat lain dalam waktu yang cepat. Tidak sekedar perjalanan, tapi perjalanan yang memiliki misi mencari hikmah Allah dan menyampaikannya kepada penonton. Sungguh, ringan dalam penyampaiannya, tapi sarat hikmahnya. Adakah tayangan seperti itu kini? Mungkin perlu kita tanyakan pada orang berduit.

Menonton “Lorong Waktu” dan tayangan Sirah Nabawiyyah─yang dikemas dalam bentuk animasi─menjadi teman untuk ngabuburit. Tidak seperti sekarang, banyak acara cekakak-cekikik tidak jelas. Telah terjadi pergeseran nilai. Mungkin perlu kita tanyakan lagi pada orang berduit. Begitu mendekati adzan maghrib, saya sudah stand by di depan takjil. Begitu bedug berbunyi, langsung saya ambil ancang-ancang. Bukankah menyegerakan berpuasa itu adalah sunah? Hehe..

Setelah berbuka, adakalanya teman se-komplek saya yang nyamper lebih dulu. Namun, lebih sering saya─dan kakak─yang nyamper lebih dulu. Namun, sebelum menuju masjid, rasanya sudah seperti ritual untuk mencoba petasan yang dibeli tadi siang. Setelah puas menikmati “atraksi” petasan, kami pun berangkat ke masjid. Namanya juga anak-anak! Tidak hanya malam saja kami mencoba petasan, tapi setelah sholat subuh─sepulang dari masjid─pun kami berkeliling untuk menebar “teror” petasan. Inilah prinsip STMJ : Sholat Terus Maksiat Jalan─yang kami jalani waktu itu. Lagi-lagi, namanya juga anak-anak!

Terlepas dari memorabilia masa kecil, saya menyadari bahwa setiap momen Ramadhan akan menjadi sangat berkesan atau hanya akan menjadi angin lalu tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Jika kita benar-benar totalitas, selain mendapatkan pahala, kita pun akan mendapat kesan dan pengalaman yang berharga dari setiap momen Ramadhan. Namun, yang menjadi pertanyaan besar, akankah momen-momen Ramadhan kini memberi kesan terbaik bagi kita? Hanya diri kita dan tindakan lah yang akan mampu menjawabnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s