Backpacking : Antara Perencanaan, Komitmen, dan Konsistensi

Catatan pelajaran
Oleh : Rizal Dwi Prayogo

Gagal merencanakan, sama dengan merencanakan kegagalan” ─Anonim

Pernah membaca kutipan di atas sebelumnya? Ya, itulah yang mendasari kami untuk menyiapkan perencanaan yang matang sebelum berpetualang ke Jogja, Bromo, dan Surabaya. Ketiga objek itu memang sering saya dengar, kadang membaca ulasannya, maupun melihat foto-fotonya. Namun, ketiga objek itu masih terasa asing bagi kami─khususnya saya. Berencana akan menjelajah ketiga objek itu tanpa informasi yang akurat, hanya akan mengubah liburan pencarian inspirasi menjadi petaka pembawa sengsara.

Maka, kami pun benar-benar menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari merencanakan objek wisata mana saja yang akan dikunjungi, penyesuaian dengan slot waktu yang ada, membuat Rencana Anggaran Belanja Backpacking-an (RABB), hingga memperdalam objek melalui peta. Tidak tanggung-tanggung, Software Google Earth dan koneksi internet yang kuat menjadi andalan saya waktu itu. Demi untuk mempelajari peta objek.

Kami merencanakan perjalanan di depan laptop masing-masing yang terhubung dengan internet. Begitu mengusulkan ide objek, panah mouse langsung saya tujukan ke daerah objek itu melalui Google Earth. Jika objek yang kami usulkan dirasa tidak memungkinkan dan menyulitkan transportasi, objek tersebut langsung kami coret dari daftar kunjungan.. Namun, jika dirasa memungkinkan dan mudah dijamah, objek itu langsung kami sepakati. Sekaligus membuat slot waktunya.

Perencanaan di atas kertas

Sama halnya dengan pembuatan Rencana Anggaran Belanja Backpacking-an (RABB), kami pun menyesuaikan dengan objek yang dituju melalui berbagai survey. Anggaran terus ditekan hingga mendapat angka yang paling minimal, tapi perjalanan tetap bisa tercapai. Tidak lupa juga membuat anggaran untuk biaya tidak terduga. Setelah nominal dirasa realistis, Rencana Anggaran Belanja Backpacking-an (RABB) diresmikan.

Perencanaan sudah dilakukan, kini tinggal terjun ke lapangan. Setiap kali, kami berusaha komitmen dengan perencanaan yang telah kami buat. Melanggar perencanaan bersama, artinya telah menyalahi komitmen yang telah dibuat. Maka, kami benar-benar berkomitmen dengan apa yang sudah kami buat. Bagaimanapun caranya, asal tetap pada jalur yang etis dan realistis.

Dalam perjalanan, saya sering tergoda untuk mengeluarkan anggaran di luar perencanaan. Terutama untuk oleh-oleh yang membuat saya tergiur. Namun, menjebol anggaran adalah suatu bentuk pengkhianatan terhadap komitmen diri sendiri. Itu artinya, saya tidak bisa berkomitmen dengan diri saya sendiri. Oleh karena itu, saya tidak ingin mengkhianati komitmen saya sendiri karena tergiur keinginan sesaat.

Begitulah seterusnya dalam perjalanan kami. Berusaha menahan diri dari yang tidak direncanakan. Merasa tersiksa? Tidak. Merasa dibelenggu? Apalagi. Dari sinilah saya belajar untuk tidak berlaku hedonistis. Saya melatih diri saya sendiri untuk tidak melakukan pengeluaran berdasarkan keinginan belaka, tapi berdasarkan kebutuhan. Mungkin itulah prinsip yang harus kita pegang pada zaman yang serba hedonistis ini. Berani menahan keinginan. Berani berkomitmen terhadap diri sendiri dan berusaha konsisten dengan apa yang telah direncanakan.

One thought on “Backpacking : Antara Perencanaan, Komitmen, dan Konsistensi

  1. Pingback: Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s